
"Saka! Alamak! Malah melamun lagi," tegur Azka.
Saka menyengir dengan sederetan tampilan gigi putihnya. "Aku lagi mikir. Bagaimana caranya dapat duit?"
"Kerjalah kalau mau menghasilkan duit," sahut Azka.
"Aku juga tau itu. Sudahlah, kita balik ke tempat kostmu."
Azka mengangguk kemudian memakai kembali helm di kepalanya, begitu juga Saka yang langsung duduk di belakang sahabatnya. Kendaraan roda dua melaju menuju perumahan sederhana tempat tinggal Azka.
Sesampainya di rumah sewa, Saka tidak mampir dulu, tetapi pergi dengan mengendarai motornya sendiri. Ia ingin ke suatu tempat tanpa ditemani seorang kawan.
Empat puluh lima menit, Saka sampai di gedung tinggi bertuliskan Center Group. Ia memarkirkan motornya di tempat para karyawan meletakkan kendaraan mereka.
Saka mengembuskan napas panjang sebelum melangkah. Ada keraguan, tetapi hanya orang itu yang bisa menolongnya sekarang. Baru selangkah, telepon miliknya berdering. Saka menghentikan niatnya untuk sementara, lalu mengangkat panggilan telepon dari Sara.
"Kamu di mana?" tanya Sara dari seberang telepon.
"Di jalan. Ada apa, Bee?"
"Sudah siang begini belum pulang. Aku di rumah tidak ada teman," kata Sara.
"Aku lagi kerja sekalian cari rumah sewa."
"Sudah dapat rumah sewanya?" tanya Sara.
"Ini lagi cari rumah yang sesuai untuk kamu," jawab Saka.
"Berapa harga sewanya? Pakai uangku saja."
"Jangan, uangku masih ada. Kamu diam-diam saja di rumah dan tunggu aku pulang."
Saka memutus sambungan telepon itu secara sepihak, lalu mematikannya langsung. Ia butuh ketenangan untuk menemui seseorang sekarang.
"Cari siapa, Pak?" tanya satpam sembari melirik penampilan Saka dari atas sampai bawah.
"Tuan Andreas."
"Sudah ada janji?" tanyanya.
Saka kesal dengan peraturan perusahaan. Ini baru satpam belum bagian resepsionis. Melihat penampilannya yang tidak menyakinkan sudah barang tentu akan dipersulit. Pria yang akan Saka temui adalah pemilik gedung bertingkat yang ia datangi. Jelas mereka akan menyanyakan keperluan Saka, dan rata-rata orang yang ingin bertemu kepala perusahaan harus membuat janji terlebih dulu.
"Katakan kepada pemimpinmu. Sakalingga Bernad ingin bertemu. Jika kamu tidak mengatakannya, kupastikan kamu bakal dipecat," ancam Saka.
Satpam berumur empat puluh tahun itu segera menuju meja penerima tamu, dan mengatakan maksud dari kedatangan Saka. Wanita yang bekerja pada bagian resepsionis itu segera menelepon kantor atasannnya.
Lima belas menit menunggu, seorang pria datang menjemput Saka. Satpam tadi heran melihat asisten dari pemimpin perusahaan sendiri yang datang dan membawa Saka ke atas.
"Semoga aku tidak pecat," ucap satpam itu.
Saka masuk ke dalam lift bersama sang asisten Andreas. Angka terus bergerak menuju gedung tertinggi hingga berhenti di nomor tiga puluh.
"Silakan, Tuan," ucap pria yang tidak jauh beda umur dengan Saka.
"Aku akan protes kepada atasanmu karena dia telah membuatku menunggu lama."
Pria itu tersenyum. "Maafkan atas ketidakpuasannya. Mereka hanya menjalankan tugas."
Saka diam saja kemudian masuk ke ruang kerja Andreas setelah pintu dibuka oleh asisten itu. Pria di dalam sana telah menunggu Saka dengan senyum mengejeknya.
"Apa ini Sakalingga?" ucap pria itu.
Pria berwajah campuran terkesan meremehkan saat melihat penampilan Saka. Andreas seorang pria keturunan Indonesia-Belanda. Jangan diragukan lagi tampang memesonanya. Hidung mancung, bola mata kecoklatan, kulit putih dan rambut panjang yang dikucir. Tinggi dengan otot-otot kekar di balik kemeja yang pria itu kenakan.
"Tutup mulutmu! Pinjamkan aku uang," pinta Saka.
Andreas malah tertawa mendengarnya. "Uang? Serius?"
"Wajahku terlihat bercanda?"
"Sial! Kamu menyelidikiku?" ucap Saka.
"Dasar bodoh! Videomu sudah beredar. Kamu akan lari ke mana lagi? Cepat atau lambat, mereka akan menemukanmu."
"Sial!" Saka menendang kursi. "Aku sudah menghentikan penyebaran video itu."
"Kamu kira bisa begitu saja dihentikan? Ke mana pikiran pintarmu itu? Aku rasa seorang Saka sudah menjadi pria bodoh karena cinta," ucap Andreas.
Saka duduk di sofa dengan menundukkan kepala. Kali ini ia mengaku telah ceroboh dan bisa saja orang-orang itu menemukan dirinya, tetapi sampai sekarang sama sekali tidak ada pergerakan dari mereka.
"Kamu butuh uang apa tidak?" tawar Andreas.
"Coba kamu selidiki, apa mereka telah melakukan pergerakan?"
"Aku?" tunjuk Andreas pada wajahnya sendiri.
"Apa? Kamu ingin aku melempar vas bunga ini ke wajahmu?" ucap Saka kesal.
"Seharusnya kamu minta baik-baik padaku. Apa salahnya kamu kembali dan membawa istrimu itu?"
"Jangan ikut campur! Aku tidak akan kembali," tolak Saka.
"Keras kepala! Terserah kamu saja. Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Andreas.
"Sewakan aku rumah selama setahun. Aku membutuhkannya."
"Bahkan untuk menyewa rumah saja kamu mengemis kepadaku," kata Andreas.
"Mengingat hubungan di masa lalu, kamu harus membantuku."
"Aku akan menyuruh asistenku untuk ikut denganmu. Pilih saja rumah yang kamu inginkan."
"Terima kasih atas kebaikanmu," ucap Saka.
Andreas berdecih, "Sangat sopan mengingat tempramenmu. Apa kamu sungguh telah berubah karena wanita itu?"
"Kamu akan merasakan apa itu cinta ketika mendapatkan pasangan yang tepat di sisimu."
"Sangat penasaran apakah wanita itu akan menerima latar belakangmu," ucap Andreas.
"Tentu saja Sara akan menerimanya. Aku lebih hebat dari mantan kekasihnya itu. Seujung kuku pun tidak bisa dibandingkan."
"Benar, latar belakangmu memang luar biasa, tetapi apa dia akan menerima jika suaminya telah banyak menghabisi nyawa orang yang tidak berdosa. Bagaimana kalau Sara tau bahwa suaminya adalah raja kematian?" ucap Andreas.
"Tugasmu yang harus terus menutupi latar belakangku."
Saka beranjak dari sofa, lalu keluar dari ruangan Andreas. Sang asisten yang menunggu segera mengikuti Saka masuk ke dalam lift.
"Kamu terlalu ceroboh, Saka. Aku yakin kamu akan hancur sekarang," gumam Andreas.
Karena obrolan bersama Andreas, Saka sedikit kesal jadinya. Ia menjadi ragu untuk mengambil rumah mewah dengan uang sewa tujuh juta selama sebulan. Akhirnya, Saka mengambil sewa perumahan dengan biaya sekitar tiga juta per bulan. Setidaknya hal itu tidak kentara, dan Sara juga tidak akan curiga.
Saka juga langsung menyewa rumah itu selama satu tahun ke depan agar ia tidak pusing lagi memikirkan biaya bulanannya.
"Katakan kepada atasanmu. Aku berterima kasih kepadanya," ucap Saka.
"Baik, Tuan."
"Kamu boleh pergi. Sampaikan salamku padanya dan katakan untuk tidak mencampuri urusanku," pesan Saka.
"Saya akan mengatakannya. Tuan tenang saja."
Untuk urusan rumah, Saka lega. Rumah yang disewa sederhana, tetapi sangat nyaman. Dengan kediaman baru ini, Saka dan Sara akan memulai kehidupan baru dalam berumah tangga.
Bersambung