Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Kepergian Sahabat



"Sara! Dini!" seru Azka.


"Ada apa, Bang?" tanya penjaga rumah yang heran.


Azka langsung saja berteriak di depan pagar tanpa sempat melepas helm dari kepalanya. Satpam membuka pagar rumah karena sudah mengenal sosok Azka meski baru dua kali datang berkunjung di kediaman asli sang model.


"Sara dan Dini ada di dalam, kan?" tanya Azka.


"Iya, Bang. Baru saja pulang."


"Saya masuk ke dalam kalau begitu," kata Azka sembari membuka helm dan membuangnya. Penjaga sampai harus memungut topi pelindung bagi si pengendara motor.


Azka kembali menyerukan nama Dini dan Sara yang membuat kedua wanita itu lekas menghampiri sahabat Saka. Pintu dibuka, Azka langsung masuk begitu saja.


"Ada apa, Az?" tanya Sara cemas.


"Cepat pergi dari sini. Saka menyuruh kita pergi. Kalau dia sudah pulang, kita baru kita kembali," jawab Azka menerangkan.


"Sebenarnya ada apa ini? Aku sangat takut. Saka bilang kalau dia seorang pembunuh. Apa dia dikejar polisi? Aku tidak percaya ini," ungkap Sara.


Dini dan Azka tentu kaget atas ucapan Sara. Seorang pembunuh rasanya tidak mungkin. Namun, Saka sungguh aneh malam ini. Mereka juga tidak diberi penjelasan apa-apa.


"Lupakan soal itu. Sekarang kita pergi dulu," kata Azka.


"Benar. Kita lebih baik pergi saja," sahut Dini. "Aku ambil tas dan jaket dulu. Kita pakai mobil saja. Kamu pandai menyetir, Azka?"


Azka mengangguk. "Iya, jangan khawatir soal itu."


Dini lekas mengambil tas dan jaket di dalam kamar. Jaket untuk Sara yang tengah hamil dan keperluan mereka untuk melarikan diri. Entah dalam status seperti apa sebutan untuk mereka. Melarikan diri? Tetapi dari siapa? Sungguh membingungkan.


Ketika Dini kembali dari kamar dengan jaket dan tas tangan, ia terlonjak kaget mendapati keadaan yang sungguh sama sekali tidak ia pahami. Ada banyak pria di rumah. Dua di antaranya Dini kenali. Namun, hal yang membuat jantungnya berdetak kencang adalah kondisi Sara, Azka dan penjaga rumah tertodong senjata api.


"Indra, Arya! Apa-apaan ini?" tuntut Dini.


"Bawa wanita cerewet ini kemari," perintah Arya.


Dini mundur. Ia berbalik untuk lari, tetapi sayang kaki sebelah kanannya ditembak. Sara berteriak menyerukan nama sahabat baiknya. Dini terjatuh setelah timah panas bersarang di betis. Tembakan itu tidak bersuara. Anak buah Anton sengaja memakai senjata api khusus agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Huh, mencoba untuk lari. Rasakan sendiri akibatnya," kata Anton.


"Apa yang kalian lakukan? Jangan bercanda berlebihan seperti ini," ucap Sara.


"Bercanda?" Arya tertawa keras. "Habisi dia!"


Satu orang maju menembak tepat di bagian jantung. Seketika Dini tewas. Sara tidak dapat percaya sahabatnya tiada secara mengenaskan di depan mata sendiri.


"Diniii!" jerit Sara.


"Sara," tegur Indra.


"Apa yang kamu lakukan, Indra? Kenapa kalian membunuh Dini?" Sara menangis.


"Bukan hanya Dini, tetapi Saka juga telah tiada. Dia tertembak dan jatuh ke dalam sungai deras," ungkap Indra.


Sara menggeleng tidak percaya. "Kamu pasti bohong!"


"Kakak ipar, Saka memang sudah tiada. Kami sudah menembaknya," sahut Arya.


"Apa yang kalian inginkan? Harta? Ambil semua dan lepaskan kami," pinta Sara.


Arya tertawa. "Kami memang ingin harta." Pria itu melirik Indra. "Kamu ingin Sara atau tidak?"


"Sara, kamu ingin kembali bersamaku?" Indra mengulurkan tangan yang malah mendapatkan air liur Sara. "Sialan!" Tanpa segan Indra menampar Sara. "Wanita ini sudah banyak berubah. Dia tidak patuh lagi padaku. Terserah mau kalian apakan. Tapi jangan bunuh dia. Aku ingin menikmatinya."


"Apakah kami boleh mencicipinya?" sela Dery.


"Jangan kurang ajar kamu. Dia ini kakak ipar kita. Jadikan pelayan saja di rumah," ucap Arya.


"Sekarang, kita apakan dua pria ini?" tanya Anton.


"Apalagi? Habisi dan bereskan semua," jawab Arya.


Anton memberi perintah. Azka dan penjaga rumah di tembak tepat di bagian kepala mereka. Sara tidak dapat melihat ini semua. Tubuhnya bergetar, kepalanya terasa berputar. Bayang-bayang pria yang tertawa. Pandangannya kabur, lalu gelap.


"Sara!" jerit Indra.


"Masih saja kamu lemah," kata Anton.


Indra mengecup kening dan pipi Sara yang sudah tidak sadarkan diri. Ia mencintai Sara, tetapi ia juga membencinya. Sayangnya rasa benci itu lebih banyak. Indra lebih puas jika Sara sangat menderita.


"Mau dibawa ke mana dia? Rumahmu atau rumahku?" tanya Arya pada Indra.


"Aku bingung. Bisakah kita membiarkan Sara?"


"Kamu mau kita masuk penjara?" Arya tidak mengerti akan kebodohan sahabatnya. Tadinya ia ingin menghabisi Sara. Karena memandang Indra, ia tidak jadi melakukannya.


"Di rumah siapa pun tidak akan aman jika Sara masih hidup," sela Anton.


"Jadi, kita apakan dia?" tanya Dery.


Anton menyeringai. "Jebloskan dia ke dalam penjara."


"Tidak!" tolak keras Indra. "Dia sedang hamil."


"Justru itu. Setelah anaknya lahir, dia bisa dijadikan sandera. Sara tidak akan bisa berbuat apa-apa demi menolong anaknya," ucap Anton.


"Aku tidak ingin dia di penjara." Indra bersikeras.


"Penjara rumah saja," kata Dery mengusulkan.


"Dia bisa kabur," sahut Anton.


"Diam kalian semua. Aku tau bagaimana supaya Sara tetap diam. Kita jebak dia. Buat dia sadar," kata Arya.


Salah satu anak buah Anton mengambil seember air kemudian menyiram tubuh Sara. Wanita malang itu kembali sadar. Sara mengerjap, ia merasakan kepalanya terasa berat. Samar-samar ia memandang ke atas hingga penglihatannya kembali, dan masih melihat musuh berada di dekatnya.


"Bawakan kertas dan bolpoin. Kita harus membuat surat pernyataan," ucap Arya.


"Kalian mau apa?" tanya Sara.


"Hanya minta tanda tanganmu saja di kertas kosong ini," jawab Arya.


Sara menggeleng. "Aku tidak mau."


"Ingin kakimu patah? Aku tidak akan segan mematahkan kedua kaki jenjangmu itu atau kamu ingin kami menodaimu secara bergilir?" Arya memberi pilihan.


"Jangan lakukan itu!" teriak Sara.


"Tanda tangan saja, Sara," ucap Indra.


"Indra, bantu aku," pinta Sara.


"Maaf, Sara. Kamu sudah melihat kami membunuh. Kamu harus dibuat bungkam."


"Akhiri drama romantis kalian. Sara, cepat tanda tangan," desak Arya.


"Aku menolak!" ucap Sara.


"Buat anak di dalam kandungannya lahir sekarang juga. Aku tidak mau tau kalian mau bagaimana memperlakukan wanita keras kepala ini. Aku ingin janin di dalam rahimnya keluar," perintah Arya.


"Jangan Arya!" seru Sara. "Jangan sakiti anakku."


"Tanda tangan sebelum kesabaranku habis."


Sara mengangguk, ia mengambil kertas dan bolpoin, lalu membubuhkan tanda tangan di kertas putih itu. Arya, Dery, dan Anton tertawa karena hal itu.


"Bagus Kakak iparku yang cantik," ucap Arya.


Bersambung