Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Keluarga Saka



"Kamu hanya anak haram. Nenek tidak akan memberikan hartanya kepadamu!" ucap Arya.


"Terserah apa yang kamu katakan. Ayo, Bee. Sudah cukup kita bersenang-senang malam ini. Lebih baik kita pulang," ajak Saka.


Sara mengangguk. "Kami pulang dulu, Om, Tante."


"Tidak perlu pamit kepada mereka," ujar Saka, lalu merangkul pundak Sara dan membawanya keluar.


Sebelum keduanya benar-benar melangkah keluar, Saka mendorong guci setinggi pundaknya ke lantai, dan mengakibatkan benda berharga itu pecah. Sara menutup bibir, melotot atas sikap suaminya.


"Keterlaluan kamu, Saka!" teriak Hartawan murka.


Saka tidak memperdulikan teriakan ayah tirinya. Ia dan Sara berjalan santai menuju mobil. Sara masih tidak mengerti apa-apa kenapa Saka sampai berbuat hal seperti tadi, dan ibu mertuanya seperti terbiasa melihat jika putranya menghancurkan barang rumah.


"Bee, apa yang kamu lakukan tadi? Bagaimana kalau mereka minta ganti rugi? Kulihat barang yang hancur berharga semua. Aku tidak punya uang banyak buat menggantinya," ucap Sara.


"Semua uang itu dibeli dengan memakai uangku," kata Saka.


"Uangmu?" tanya Sara heran, lalu melanjutkan perkataannya, "kamu seperti tidak punya uang?"


Saka tertawa kecil. "Kamu kira, keluarga Hartawan bisa naik derajat karena apa? Ya, tidak aku pungkiri, sih, kalau ayah tiriku sangat pandai berbisnis, tetapi modal yang dia dapat dari uang warisanku."


"Ibumu seperti bukan wanita biasa. Dia sangat cantik."


"Buat apa cantik kalau hatinya busuk," sahut Saka.


"Dia ibumu, Boo. Kamu harus menghormatinya."


Saka berdecih, "Tidak ada seorang ibu yang menelantarkan anaknya sendiri. Sebelum kakekku tiada, dia mewariskan hartanya untukku. Uang itu diambil oleh Belinda."


Belinda adalah anak tunggal dari keluarga Augustus Frederick. Pria keturunan belanda yang sukses menjadi pembisnis di Indonesia, dan memiliki seorang istri bernama Ayu Prameswari yang juga seorang penguasa.


Masa muda Belinda dihabiskan di luar negeri hingga hamil tanpa menikah. Setelah Saka lahir, Belinda menikahi Hartawan, dan mendapatkan Arya. Karena Saka kurang perhatian dari sang ibu, Augustus menyerahkan semua miliknya kepada Saka.


Saka kecil yang tidak tahu apa-apa dikendalikan oleh sang ibu. Hartanya dipakai untuk melebarkan bisnis dari Hartawan sendiri. Sejak kecil dibedakan, membuat Saka menjadi nakal. Berharap dengan sikapnya itu bisa merebut perhatian dari sang ibu. Namun, semua itu sia-sia dengan kehadiran Arya. Masa remaja, Saka pindah ke luar negeri. Berdiam di sana selama bertahun-tahun.


"Di mana ayah kandungmu?" tanya Sara.


Saka menginjak rem secara mendadak. Jika tidak memakai sabuk pengaman, sudah pasti kepala Sara akan terbentur.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Saka.


"Kamu kenapa, sih?"


"Maaf, Bee. Enggak apa-apa, kan?" Saka memeriksa seluruh wajah istrinya.


"Lepaskan tanganmu. Aku baik-baik saja," ucap Sara.


"Jangan bicarakan ayah kandungku."


Sara mengangguk. "Tidak akan."


Jika Saka sudah mengatakan hal itu, Sara tidak ingin bertanya lagi. Saka pasti punya alasan kenapa berbicara seperti itu, dan ia ingin menghormati keputusan suaminya.


"Aku adalah keluargamu. Jangan pedulikan yang lain," ucap Saka.


...****************...


"Saka ini sungguh kurang ajar!" murka Hartawan. "Semua barang koleksi kita, ia hancurkan."


"Pelayan! Cepat bereskan semua kekacauan ini," titah Belinda.


"Dia sama sekali tidak berubah. Kenapa dia kembali?" sahut Arya.


"Kalian semua diamlah! Bagaimanapun Saka adalah anakku. Aku yang melahirkannya. Dia punya sikap kasar karena aku yang tidak memperdulikannya," ucap Belinda.


Hartawan melihat putranya. "Masuklah ke dalam kamarmu, Arya!"


Arya menghentakkan kaki karena perintah itu. Selalu saja ia tidak boleh mendengarkan tentang masa lalu ibunya. Arya hanya ingat ada beberapa orang pria yang mengambil Saka dari rumah, tetapi Arya tidak tahu mereka siapa.


Selama Saka pergi, tidak ada kontak sama sekali. Arya sempat bertanya, tetapi ibunya bilang jika sang kakak baik-baik saja. Sampai beberapa tahun terakhir, tepatnya diusia dewasa, Saka datang kembali. Pria itu hanya menunjukkan wajah, lalu pergi lagi.


Arya hanya tahu jika Saka pulang pergi dari negara satu ke negara lainnya. Ia tidak tahu apa yang diperbuat pria itu. Apa pekerjaannya, rumahnya dan segalanya sampai ia mengetahui saudara tirinya menikahi seorang model bernama Sara.


"Kamu mengakui dia anak rupanya," ucap Hartawan.


"Dia memang lahir dari rahimku!"


"Kenapa kamu tidak mencegahnya pergi tadi? Anakmu hanya Arya saja, Belinda!"


"Aku memang tidak menginginkannya. Tapi dia hadir karena kesalahanku," ucap Belinda.


Hartawan mengibaskan tangan. "Aku bosan mendengar keluhanmu. Anakmu itu cuma Arya! Camkan itu!"


...****************...


Sara tidak fokus dengan pekerjaannya hari ini. Sudah beberapa kali sutradara memarahinya karena tidak bisa memerankan tokoh dalam iklan yang ia bintangi.


Sara masih kepikiran dengan pertemuan semalam. Mengetahui fakta yang sebenarnya sama sekali tidak membuat Sara bahagia. Ia malah senang seandainya Saka berasal dari keluarga sederhana.


"Ada apa denganmu?" tanya Dini.


"Dunia ini sempit. Arya adalah saudara tiri Saka."


Dini menarik bangku lipat besi, lalu duduk di hadapan Sara. Saat ia menjemput sahabatnya itu, Sara menceritakan segalanya yang terjadi tadi malam. Mendengar cerita dari Sara mengenai latar belakang Saka sebenarnya, sungguh membuat Dini tidak percaya, tetapi kenyataannya memang seperti itu.


"Biarkan saja mereka bersaudara. Sekarang apa yang kamu takutkan?" tanya Dini.


"Arya membenci Saka. Indra juga sama. Aku takut mereka menyakiti suamiku."


"Ketakutanmu berlebihan. Semua akan baik-baik saja. Fokuslah bekerja. Kamu tidak mau iklan ini ditunda sampai besok, kan? Kamu bilang akan pergi bersama Saka menjumpai neneknya," tutur Dini.


"Kamu benar. Aku juga harus siapkan hadiah untuk beliau."


Sara kembali dalam performa terbaiknya. Hari penting akan terjadi besok. Entah drama apalagi yang akan dimainkan oleh suaminya. Sara hanya berharap nenek Saka punya sikap yang baik terhadap cucunya.


Bersambung