Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Naik Motor



"Bagus! Gayanya aku suka," ucap juru foto seraya mengarahkan kameranya.


Sang fotografer tidak menyia-yiakan kesempatan untuk menangkap pose yang Sara peragakan di depan sana. Baju yang dikenakan sangat serasi bersama riasan serta tatanan rambut.


"Cukup. Istirahat dulu sebelum ambil sesi foto berikutnya," ucap Alvin.


"Akhirnya, aku bisa duduk," kata Sara.


"Aku selalu suka gayamu, Sar. Baju serta tema apa pun yang diberikan, kamu selalu bisa menguasainya."


"Ini semua hasil dari kerja keras dan kamu selalu mengajariku," sahut Sara.


"Kamu memang berbakat. Model pendatang baru harus belajar denganmu."


Sara juga beruntung bisa mendapatkan rekan kerja seperti Alvin. Siapa yang tidak tahu Alvin Satrawan. Seorang juru foto yang hanya menginginkan kesempurnaan atas bidikannya. Dipotret oleh Alvin menjadi kebanggaan untuk para model sendiri.


"Minum dulu," kata Dini seraya menyerahkan sebotol air mineral.


"Ponselku, Din," pinta Sara.


Dini memberikan telepon genggam Sara. "Suamimu tidak ada menelepon."


"Pesannya ada. Aku ingin dia menjemputku."


"Apa?! Kamu yakin mau minta jemput Saka?" tanya Dini.


"Yakinlah, memangnya kenapa?" tanya Sara heran.


"Kamu sungguh ingin publik tahu?"


"Dia suamiku. Sudah sepantasnya mereka tau," jawab Sara.


Sara mengetik sebuah pesan agar Saka menjemputnya di studio pemotretan. Malam ini, ia akan tidur di tempat baru. Hanya ada mereka berdua nanti di rumah, dan Sara sangat menantikan hal-hal yang menakjubkan.


"Kamu tergila-gila kepada Saka. Entah kenapa dia begitu misterius. Sampai saat ini kamu belum mengenal keluarganya," kata Dini.


"Suatu saat Saka akan memperkenalkan keluarganya kepadaku. Kamu jangan memusingkan hal itu," ucap Sara.


"Kita mulai sesi kedua. Persiapkan Sara," ucap Alvin kepada rekannya.


Sara memberikan ponsel serta botol minum kepada Dini, lalu bersiap untuk melakukan pemotretan lagi.


...****************...


"Untung ada kamu. Aku bisa dapat uang karena ini," ucap Saka.


"Kamu sahabatku. Waktu aku susah, kamu juga ada bantuin," sahut Azka.


Azka memberi pinjaman akun ojek online miliknya. Kebetulan ia mempunyai dua akun dari dua perusahaan yang berbeda. Jika Saka mendaftar dari awal, maka butuh lagi proses menunggu. Untungnya ada sahabat yang bisa diandalkan.


"Aku boleh tanya sesuatu padamu," tanya Azka.


"Tanyakan saja."


"Sebenarnya kamu siapa?"


"Aku," tunjuk Saka pada wajahnya. "Saka. Memangnya siapa lagi?"


"Entahlah, aku merasa kamu bukan pria sepertiku. Aku ingat saat kita pertama bertemu. Kamu tidak lancar berbahasa Indonesia," ucap Azka. "Sebenarnya kamu lahir di mana?"


"Aku lahir di sini," jawab Saka. "Orang tuaku suka pindah tempat kerja. Wajar aku tidak lancar bahasa nasional."


"Memangnya kamu tinggal di luar negeri? Aku merasa kamu sangat memaksakan bergaul denganku."


"Aku bisa segala macam bahasa. Kamu tau sendiri jika aku suka berkelana. Aku saja tinggal di Kalimantan Barat sudah dua tahun," ucap Saka.


Kening Azka berkerut. "Bukannya satu tahun?"


Saka melambaikan tangannya. "Sudahlah, kenapa membahas hal tentang diriku. Aku orang biasa sama sepertimu. Kamu mau pulang atau masih mau narik penumpang?"


"Sudah malam, aku pulang saja."


"Kita berpisah di sini. Aku mau jemput istriku," ucap Saka.


Saka menghidupkan mesin motornya, memasang helm, lalu melambaikan tangan kepada Azka sebagai tanda perpisahan. Selama perjalanan menuju studio, Saka mengingat pertanyaan Azka yang mulai curiga akan identitas dirinya.


"Sepertinya aku terlalu terang-terangan. Ini semua karena aku jatuh cinta pada Sara. Seharusnya aku tidak boleh masuk ke dalam jebakan yang namanya cinta," gumam Saka.


"Suamiku sudah datang. Aku mau pulang cepat," kata Sara. "Dini, kamu bereskan saja barangku. Besok, kita ketemu lagi."


"Kita turun bersama," kata Dini.


"Aku enggak mau Saka menunggu lama."


Sara tidak memperdulikan ocehan Dini yang ingin mengajaknya turun bersama. Ia langsung keluar dari kamar ganti, berlari menuju lift untuk segera turun ke lantai dasar.


Sara memakai topi, masker penutup mulut ketika sampai di pintu luar. Matanya mencari sosok pria yang katanya tengah menunggu dirinya.


"Mana orangnya?" ucap Sara.


"Bee!"


Sara membuka topi untuk melihat jelas sosok yang berjalan mengarah padanya. Dari postur ia tahu kalau itu adalah Saka. Yang mengherankan adalah suaminya memakai jaket warna hijau, sarung tangan, masker tutup mulut yang dibalut lagi dengan masker ninja berwarna hitam.


"Bee, kok, diam?" tanya Saka.


"Kamu suamiku?"


Saka menurunkan masker dari wajahnya. "Ini, aku suamimu."


"Jadi tukang ojek?"


Saka mengangguk. "Iya. Bisanya cuma ini. Nanti aku akan cari kerja lagi, kalau kamu enggak suka."


Sara tersenyum. "Enggak apa-apa. Ini sudah cukup, kok. Ayo, kita pulang."


Saka meraih tangan Sara, membawa istrinya menuju motor yang berada di pinggir jalan. Sara tidak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang merekam gerak-geriknya bersama Saka.


"Pasti ini pertama kalinya kamu naik motor," kata Saka.


"Enggaklah. Waktu baru jadi model juga aku naik motor. Kamu buka jaket warna hijau ini. Aku enggak mau meluk kamu."


"Iya, ini juga mau buka." Saka membuka jaket hijaunya, melipat baju tebal itu, lalu memasukkannya ke dalam jok.


"Dari mana kamu dapat ini semua?" tanya Sara.


"Azka yang punya akun. Dia kasih pinjam buat aku. Sekarang kamu naik, kita pulang."


Saka naik di atas motor lebih dulu, disusul oleh Sara yang langsung memeluk suaminya dari belakang. Saka menyerahkan penutup kepala yang terbuat dari kain kasa, lalu menyerahkan helm untuk dipakai sang istri.


"Aku enggak mau rambutmu jadi bau. Helmnya sudah dipakai oleh beberapa orang tadi," kata Saka.


"Aku suka perhatian kecilmu."


"Sudah tugasku," jawab Saka.


Saka mulai mengendarai kendaraan roda duanya menuju jalan raya. Sara semakin mengeratkan pelukannya ketika angin malam mulai menyentuh kulitnya yang tidak tertutupi.


"Jalan pakai motor enak, ya, Boo. Berasa romantis banget," ucap Sara. "Kita keliling kota dulu, ya."


"Enggak boleh! Kamu enggak pakai jaket. Tanganmu sudah dingin. Kita langsung pulang saja."


"Tapi aku mau jalan dulu," rengek Sara.


"Lain kali saja."


Saka sedapat mungkin melindungi tangan Sara dari dinginnya angin malam. Istrinya memang hanya mengenakan kaus berlengan pendek. Saka mengendarai motor maticnya dengan satu tangan layaknya sepasang kekasih yang tengah kasmaran.


Saat lampu merah menghentikan semua kendaraan, rasanya keadaan itulah yang paling ditunggu-tunggu. Saka dapat mengenggam tangan istrinya. Menepuk-nepuk, mengusap untuk sekadar menghangatkan.


"Lengket terus!"


Sara kaget mendapat teguran itu, begitu juga Saka. Keduanya menoleh, rupanya Azka berada di samping mereka.


"Eh, katanya tadi kamu pulang," kata Saka.


Sara tidak mau melepas pelukan tangannya, bahkan ia semakin erat memeluk Saka. "Hai, Azka."


Azka tersenyum. "Pas mau pulang, ada orderan masuk. Kalian lengket banget sampai enggak mau lepas. Pengantin baru memang beda."


"Biasa, lagi manja-manjanya, nih," jawab Saka.


Bersambung