Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Kesenangan Malam



"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Sara.


Saka menegakkan tubuhnya, Sara bangun dengan bertumpu pada dua siku tangan. Ia memandang ke arah bawah. Tonjolan panjang, begitu perkasa dengan warna kecoklatan. Terdapat sedikit rambut keriting di atasnya.


"Pegang saja kalau kamu mau," ucap Saka.


"Aku memang ingin memegangnya."


Sara mengulurkan tangan. Bagian itu lembut awalnya, lalu berubah menjadi keras. Urat-urat yang bertonjolan semakin membuatnya menarik. Sara tidak tahu kenapa bisa begitu. Jelasnya benda tersebut bisa memberinya kenikmatan.


"Puncaknya begitu lembut," kata Sara, ketika ia menyentuh bagian pangkal dengan ibu jarinya. Sara juga memainkan celah terkecil yang membuat Saka menghela napas berat. "Bagaimana caraku agar bisa memuaskannya?"


"Ada banyak cara. Pertama dengan tangan, bibir, lalu inti milikmu."


"Kamu ingin bagian mana dulu?" tanya Sara.


Sara mengerti bagian ini meski baru pertama tidur bersama Saka. Namun, ia sudah berumur dua puluh lima tahun. Sudah dewasa dan tentu ia bisa melakukan hal memuaskan pasangan dari apa yang ia lihat dan dengar.


Bermain-main menjadi wanita polos sangat menyenangkan, apalagi Saka juga berlakon sesuai dengan keinginannya. Sara merasa Saka sudah sangat berpengalaman dengan masalah menyenangi wanita.


"Aku suka semuanya, tapi kalau kamu ingin bermain-main lagi, maka aku akan menuruti," sahut Saka.


Sara bangun, lalu tengkurap di depan Saka. Ia meraih inti terlarang itu, mengusapnya dengan kelembutan jari-jemarinya. Menggengam, lalu menggerakkan kedua tangannya maju mundur.


Saka meringis karena kulitnya terasa kering. Sara mendongak, memandang suaminya yang memejamkan mata.


"Apa terasa sakit?" tanya Sara.


"Aku rasa kamu harus memberinya pelumas."


"Begitu rupanya."


"Lebih nyaman jika kita berpindah posisi," kata Sara.


Saka mengangguk kemudian duduk di tepi ranjang, sedangkan Sara sudah turun dengan berlutut di depan suaminya.


"Berikan pelumasnya," pinta Saka.


Sara mengangguk, meraih kembali tonjolan tegak itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kali ini suara Saka terdengar halus yang artinya kenikmatan baru saja ia rasakan.


Saka tidak mengerti lagi untuk mengungkapkan segala rasa yang menyentuh permukaan kulitnya. Tubuhnya meremang, ia merasa sensasi yang tidak bisa dilukiskan. Hangat, begitu dalam dengan kelihaian indra tidak bertulang yang menyusuri miliknya dari pangkal ke ujung. Pola lingkaran yang Sara berikan begitu indah, membuatnya tidak berdaya.


"Aku harus membuatmu merasakan sensasi ini," kata Saka dengan meraih pundak istrinya.


Keduanya terjungkal di atas tempat tidur, kembali menyatukan bibir dan saling berpelukan. Sara membalik diri agar ia dapat kembali menikmati milik suaminya.


Saka mengeluarkan suara berat. Ia tidak ingin merasakan gelora ini sendiri saja. Saka melakukan apa yang istrinya lakukan saat ini. Sara sedikit menjerit ketika Saka menggelitik intinya.


"Teruskan," pinta Sara.


Permainan kotor, tetapi begitu candu untuk dilakukan. Keduanya saling memuaskan. Sapuan indra perasa memberi nikmat yang tiada tara. Naik-turun, begitu basah, hingga salah satunya mencapai puncak.


Sara terengah-engah, ia bergeser dari posisi sebelumnya. Saka bangun dengan menempatkan diri di depan sang istri. Kedua kaki Sara dilebarkan, ia masuk tanpa halangan.


Sara dan Saka melakukan gerakan-gerakan yang hanya keduanya tahu. Seirama, begitu romantis. Setiap dorongan yang diberikan Saka, meretakkan lapisan terdalam tubuh Sara.


Saka mengulurkan tangan ke bawah, menekan inti terkecil Sara dengan ibu jarinya. Membuat lingkaran-lingkaran disertai dorongan kuat tubuhnya.


Tangan Sara bergelayut manja dileher suaminya. Ia memeluk erat tubuh Saka ketika pertahanan itu telah dihancurkan. Serpihan kenikmatan keluar, terasa ringan, hangat, dan ia merasa tidak lagi bertenaga.


"Saka, aku mencintaimu," ucap Sara.


Saka meletakkan kedua tangannya di atas tangan Sara. Keduanya saling mengenggam, lalu Saka kembali mendorong dirinya. Begitu cepat, membuat tubuh Sara bergetar.


Saka mengumpat, mempercepat gerakannya setelah itu terengah-engah dengan memeluk Sara erat. Ia mencapainya. Ledakan itu keluar, melesat masuk ke dalam rahim sang istri tercinta.


"Sekali lagi, Bee," pinta Saka.


"Biarkan aku istirahat dulu."


"Sesuai yang kamu inginkan. Malam ini aku milikmu."


...****************...


Sara tidak tahu kapan suaminya terbangun. Semalam mereka melakukan kesenangan sampai pukul dini hari. Tubuhnya tidak bertenaga dan miliknya terasa nyeri ketika membersihkan diri tadi.


"Dia tidak bilang kalau keluar rumah," gumam Sara sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Sara! Boleh aku masuk?" tanya Dini dari luar.


Sara mematikan pengering rambutnya sebelum menjawab, "Masuklah."


Pintu dibuka, Dini masuk dengan melihat tempat tidur yang berantakan. Pandangannya beralih pada leher dan pundak Sara yang terdapat bekas merah.


"Kenapa meninggalkan bekas? Lusa kamu ada pemotretan," kata Dini.


Sara tersenyum. "Suamiku terlalu bersemangat semalam. Hal ini bisa ditutupi paka riasan. Jangan khawatir. Oh, ya, kapan Saka pergi? Apa dia sempat sarapan?"


"Pukul tujuh pagi dia sudah pergi dari rumah dan tidak sarapan."


"Aku akan pindah dari sini. Saka akan menyewa rumah untuk kami berdua," ucap Sara.


"Kenapa sewa? Biar aku yang pergi. Ini rumahmu. Aku jadi sahabat yang tidak tau diri rupanya," kata Dini.


"Kamu di sini saja. Rumah ini sudah banyak yang tau. Jika aku berdiam di tempat Saka, maka privasiku bisa terjaga. Lagian, Saka adalah suamiku dan aku harus menuruti keinginannya."


"Bagaimana kalau dia menyuruhmu berhenti bekerja? Memang awalnya kamu juga ingin pensiun, kan?"


"Aku belum memikirkannya. Aku akan terima tawaran pekerjaan yang datang. Mungkin sekarang harus pilih-pilih karena tugasku yang utama adalah melayani suamiku," tutur Sara.


"Terserah kamu saja."


"Saka bawa mobilku?" tanya Sara.


"Tidak, aku lihat dia dijemput."


"Siapa?"


"Aku tidak lihat. Orangnya pakai helm," jawab Dini.


"Mungkin itu temannya Saka yang kemarin datang kemari."


...****************...


Pagi-pagi, Saka sudah pergi bersama Azka mencari rumah sewa. Rumah sederhana saja mencapai puluhan juta untuk satu tahunnya.


"Kalau ambil perbulan tergantung rumah. Ada yang tiga sampai tujuh jutaan. Kamu enggak mungkin membawa Sara berdiam di rumah sewa seharga ratusan ribu, kan?" kata Azka.


"Enggak mungkinlah. Sara itu model ternama. Mana mungkin aku membawanya ke tempat kecil," sahut Saka.


"Jadi, bagaimana ini? Kamu punya uang? Tinggal di rumah Sara saja," saran Azka.


Saka terduduk di pembatas jalan. Keduanya memang tengah berteduh di pinggir jalan dengan pohon sebagai pelindung dari sengatan mentari.


"Uangku tinggal sedikit," kata Saka.


"Aku juga enggak bisa bantu. Kamu tau sendiri penghasilanku enggak menentu. Mengandalkan ojek online paling berapa."


"Terima kasih, Sob. Kamu memang sahabatku."


"Uang warisanmu habis?" tanya Azka.


Saka tersentak. "Masih ada, tetapi itu untuk berjaga-jaga."


Aku bisa saja memakai uang itu, tetapi jika aku mengeluarkan uang terlalu banyak, mereka akan tau keberadaanku. Selama ini aku sudah berbaur dengan orang biasa. Sara akan berada dalam bahaya jika orang-orang itu menemukanku.


Bersambung