
Sesuai janji, Sara bersiap untuk pergi ke kediaman keluarga Saka. Ia gugup karena ini pertama kalinya berkunjung ke rumah pria yang telah menjadi miliknya.
Pengalaman buruk mengenai pertemuan orang tua terlintas di pikiran Sara. Ia pernah beberapa kali menemui keluarga Indra, tetapi mendapat respon buruk. Sudah jelas orang tua Indra tidak menerimanya, dan memilih Velia untuk sebagai istri kekasihnya.
Kali ini Sara ragu lagi. Sekarang statusnya adalah istri sah dari Saka, dan bila orang tua suaminya tidak mau merestui, Saka tetap akan menjadi miliknya selalu.
"Kamu belum siap?" tanya Saka yang tiba di kamar.
"Pilihkan aku pakaian yang pantas," pinta Sara.
"Pakai saja baju apa pun. Kamu selalu terlihat cantik."
"Kalau mereka tidak menyukaiku bagaimana?" tanya Sara.
"Mereka tidak akan menyukaimu."
"Apa? Kalau begitu, kita jangan pergi saja," ucap Sara.
"Mereka tidak menyukaiku. Jadi, apa pun yang kamu pakai tidak akan berpengaruh," jawab Saka.
Sara berkacak pinggang. "Kamu terang-terangan sekali. Lalu untuk apa kita ke tempat orang tuamu?"
Saka menghela. "Bagaimanapun kita harus minta restu. Mau mereka senang atau tidak, kita sudah menunjukkan wajah. Kamu tenang saja, Bee. Suamimu ini akan melindungimu."
Sara tersenyum. "Baiklah, karena kita sudah tau tidak akan disukai, aku memakai pakaian biasa saja."
"Cepatlah keluar. Aku menunggu di luar."
Pintu ditutup kembali, Sara memilih gaun dengan model sederhana dan tertutup sebagai penampilannya malam ini. Ia juga merias wajah serta rambut yang biasa.
"Begini saja sudah cukup. Saatnya menunjukkan wajah kepada keluarga suamiku," gumam Sara.
Saka memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuknya, menunggu sang istri yang sudah dua puluh menit belum juga keluar. Saka juga sudah memberitahu kediaman Hartawan bahwa ia akan datang dengan membawa Sara.
"Boo, aku sudah siap," ucap Sara.
Saka menoleh ke belakang. "Cantik."
"Aku memakai gaun yang sederhana saja."
"Mau itu gaun simple atau mewah, murah dan mahal, jika kamu memakainya akan terlihat cantik," ucap Saka.
Sara memeluk Saka, mengecup singkat bibir suaminya. "Kamu terlalu memuji."
"Jangan menggodaku sekarang. Kita harus pergi."
Tubuh Saka akan menegang jika bersentuhan dengan Sara. Hasratnya terpacu, ia tidak dapat menahan diri untuk mengukung Sara di bawah, lalu memberi desakan maju mundur yang membuat istrinya menjerit nikmat.
"Siapa yang menggodamu?" protes Sara.
"Setiap menyentuhmu, tubuhku menegang. Adikku ini akan berdiri tegak menjulang."
Sara melotot mendengarnya. "Jangan katakan lagi. Cepat masuk mobil."
Saka tertawa. "Dia malu."
...****************...
Sara berhenti sejenak memandang rumah megah dua tingkat dengan pilar menjulang tinggi. Sejak masuk ke perumahan, Sara memang sudah heran, tetapi ia mengurungkan niat untuk bertanya.
"Apa rumah orang tuamu ada di belakang?" tanya Sara.
"Ini rumah keluarga Hartawan."
"Kamu bekerja di rumah keluarga Hartawan?" tanya Sara.
"Ini rumah di mana ibuku tinggal," jawab Saka.
"Kamu anak orang kaya rupanya."
Saka menggeleng. "Aku sudah bilang kalau aku tidak diakui. Lebih baik kita masuk, menunjukkan wajah setelah itu pulang."
Penjaga rumah membuka pintu gerbang. Tanpa mengatakan apa pun, pria berseragam itu balik menuju ke pos. Sara baru menyadari jika Saka memang tidak diperdulikan, bahkan satpam saja tidak menyapanya.
"Nasibmu lebih buruk dariku," bisik Sara. "Lebih baik ditinggal daripada diabaikan."
"Kamu mengejekku. Lihat setelah kita pulang, aku akan menghukummu."
Sara terkikik geli. "Aku suka hukumanmu, tetapi besok, aku ada pekerjaan. Kamu tidak boleh serakah untuk malam ini."
"Aku penasaran tentang masa kecilmu. Apa kamu juga kurang kasih sayang dari dulu?" tanya Sara.
"Nanti saja membahasnya. Kita masuk dulu."
Terdengar kunci diputar, lalu pintu dibuka oleh seorang pelayan wanita. "Masuklah, tuan dan nyonya sudah menunggu."
"Dia sungguh tidak sopan," ucap Sara.
"Wah! Kamu model itu, kan? Apa aku bisa minta foto bersamamu?" tanya pelayan.
"Mimpi saja! Kamu tidak bersikap sopan kepada suamiku," kata Sara.
"Kalian sudah datang rupanya," ucap Arya.
Sara dan Saka menatap ke depan. Arya Hartawan berjalan dengan angkuhnya menghadap Saka, dan Sara malah terbelalak melihat sosok yang ia kenal.
"Arya! Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Sara.
"Sara, kamu tidak tau kalau Saka ini adalah saudara tiriku," jawab Arya.
"Astaga! Aku tidak tau itu."
"Aku hanya heran kenapa kamu bisa menjadi istri dari pria ini. Sudah jelas kamu dan Indra saling mencintai," ucap Arya.
"Sekarang aku hanya mencintai Saka," jawab Sara tegas.
"Arya!" tegur Hartawan. "Kamu tidak menyilakan tamu duduk."
"Apa perlu? Sebentar lagi mereka akan pulang," sahut Arya.
"Saka! Kamu kembali?"
Seorang wanita cantik muncul. Belinda Hartawan hadir di tengah mereka. Memang ibu yang cantik di usia matang. Tubuhnya saja masih ramping berbentuk dan wajah terawat.
Wanita itu tersenyum memandang Saka dan Sara. "Sudah lama sekali kamu tidak pulang. Mama merindukanmu." Belinda mengulurkan tangan ke wajah putranya, tetapi Saka menepisnya.
"Aku datang hanya ingin memperkenalkan istriku. Dia Sara," ucap Saka.
Belinda memandang Sara. "Aku melihatmu di TV. Bukannya kamu mantan Indra?"
"Halo, Tante. Saya Sara. Istri Saka," ucap Sara seraya mengulurkan tangan.
Belinda tidak menyambut tangan itu, tetapi menggantinya dengan sebuah pelukan dan kecupan di kening.
"Kamu cantik sekali. Tinggallah sebentar, kita makan malam bersama," pinta Belinda.
"Nyonya Belinda sangat ramah. Bahkan kami saja tidak dipersilakan duduk. Kami tidak butuh basa-basi. Karena sudah bertemu, kami pamit dulu," ucap Saka.
"Sayang, kamu baru kembali. Apa kamu tidak merindukan ibumu? Bertahun-tahun kita tidak bertemu," kata Belinda sedih.
Entah kenapa Sara merasa keluarga suaminya penuh dengan orang-orang yang pandai bersandiwara. Mereka semua seperti memakai topeng baik di luar, dan jahat di dalam.
"Jangan memasang wajah sedih. Istriku sudah tau hubunganku dengan kalian," kata Saka.
"Anak kurang ajar! Ibumu selalu merindukanmu," ucap Hartawan.
"Tuan Hartawan malah ikut-ikutan. Baiklah, kami akan tinggal," kata Saka, lalu berjalan ke arah lemari hias.
Saka meraih pajangan keramik, lalu melemparnya ke lukisan di dinding. Menendang guci yang terpajang di ruang tamu. Melempar vas bunga ke arah Arya dan Hartawan. Untungnya mereka berdua sempat menghindar.
"Apa kamu sudah gila?! Semua barang ini sangat mahal!" teriak Arya.
"Kalian sangat kaya. Menggantinya akan sangat mudah," ucap Saka.
"Hentikan, Saka! Kamu datang kemari malah untuk mengacau!" murka Hartawan.
"Tenanglah kalian!" kata Belinda. "Saka sayang, lusa adalah ulang tahun nenekmu. Kamu harus datang ke kediaman lama."
"Apa nenek akan membagi warisannya?" tanya Saka berbinar.
"Jangan mimpi untuk mendapatkannya!" ucap Arya.
"Lihat saja nanti," sahut Saka.
Bersambung