
Saka seakan berada dalam sebuah mimpi. Ia ingin terbangun saat ini juga. Berharap sang nenek masih bisa ia lihat dan peluk. Ini terlalu tiba-tiba, dan rasanya tidak percaya jika Ayu Prameswari telah berpulang.
Umur tidak ada yang tahu. Detik itu bertemu, belum tentu sedetik kemudian bisa berjumpa lagi. Semua telah ditentukan oleh yang Mahakuasa.
Pemakaman telah dilangsungkan. Kerabat, sahabat, kenalan hadir mengikuti prosesnya. Sara sendiri tidak diizinkan datang ke tanah kusir oleh Saka, dan wanita itu harus rela berdiam diri di rumah.
Pelayat memberi taburan bunga serta doa terakhir bagi Ayu. Memberi dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Di sini Saka yang terus menatap nisan sang nenek. Ia masih ingat perkataan Ayu sebelum ajal menjemput.
Ibumu penyebab suamiku pergi, dan anaknya membuat diriku terluka.
Saka mengerti kalau kakeknya jatuh sakit karena perbuatan Belinda. Tapi, Saka masih belum memahami kenapa Ayu sampai terluka. Ada apa sebenarnya? Anak mana yang membuat sang nenek menderita? Apakah ia atau Arya? Saka berharap itu bukan dirinya karena jika sampai itu benar, ia akan hancur. Sebagai anak maupun cucu, ia pantas tidak dipedulikan. Pantas tidak dianggap.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Saka pada ibunya.
"Mama juga tidak tau. Kami mendapat telepon kalau nenekmu sudah berada di rumah sakit," jawab Belinda.
"Berhentilah bicara manis padaku. Hentikan kepura-puraanmu itu!" ucap Saka.
"Ini masih di tanah kubur. Kamu malah ingin menginterogasi kami," sela Hartawan.
"Aku tunggu kalian di kediaman lama," kata Saka kemudian berlalu dari sana.
"Lihat anakmu itu! Sekarang dia berlagak sombong," ucap Hartawan kesal.
"Aku juga penasaran, kenapa mama sampai terkena serangan jantung dadakan? Bukankah semalam Arya yang lebih dulu sampai di rumah sakit?" ujar Belinda.
"Lantas? Kamu menuduh Arya sebagai penyebab sakit mama?"
"Bukan! Aku kira Arya berada di tempat mama karena dia lebih dulu berada di rumah sakit."
"Arya itu anakmu. Dia menyayangi neneknya," ucap Hartawan.
"Sudahlah, lebih baik kita segera pulang ke rumah lama."
...****************...
"Asisten nenek bilang, kamu orang terakhir yang bicara bersama beliau," ucap Saka kepada Arya.
"Jadi?" tanya Arya.
"Kenapa nenek bisa terkena serangan jantung mendadak?"
Belinda, Hartawan serta kerabat lain telah hadir di kediaman lama. Sekarang rumah peninggalan Ayu telah resmi menjadi milik Saka.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada beliau. Aku hanya bicara basa-basi saja. Apa salah seorang cucu menjenguk neneknya?"
"Kamu bicara di dalam ruangan pribadi nenek berdua saja. Kamu pasti pemicu dari itu semua!" tuduh Saka.
"Tutup mulutmu! Beraninya kamu menganggap anakku sebagai dalang kematian neneknya sendiri!" protes Hartawan.
"Nenek sudah lama sakit-sakitan. Kalau ajal sudah menjemput, aku bisa berbuat apa?" ucap Arya.
"Hentikan ini!" kata Belinda. "Mama sudah tenang di sana. Kenapa kalian masih ingin membicarakan hal yang tidak penting?"
"Tidak penting kamu bilang?" tanya Saka tidak percaya.
Serangan jantung yang mendadak pasti ada pemicunya. Saka yakin ada yang membuat Ayu Prameswari kaget sampai membawa umur.
"Mama tiada karena memang sudah waktunya," ucap Belinda lagi.
"Seharusnya kamu senang, Saka. Rumah ini telah menjadi milikmu," sahut Dery.
"Harta dari nenekmu sudah kamu dapatkan. Seharusnya kamu tidak mempersalahkan ini semua," ucap Lisa menambahkan.
Saka berdecih, "Aku bukan kalian yang gila harta."
"Sebaiknya kita pulang. Suatu saat anak ini akan mendapat ganjarannya," ucap Hartawan.
Saka tidak bisa membuktikan apa pun mengenai masalah ini. Namun, ia yakin sekali ada yang memicu serangan jantung Ayu Prameswari kambuh.
"Awas saja kamu, Arya," gumam Saka.
...****************...
"Gila! Jadi manusia kamu sangat tega," ucap Indra.
"Apa? Aku?" tunjuk Arya pada wajahnya.
"Kayaknya dia ada dendam kesumat dengan mendiang neneknya," sela Anton.
"Aku malah sangat kaget dengan perilaku jahatnya," sambung Dery.
"Aku hanya mengatakan apa yang tidak diketahui oleh nenekku. Sebenarnya aku juga kesal karena dia tidak memberiku harta yang banyak. Si Saka itu selalu mendapat apa yang ia inginkan," ucap Arya.
"Dasar kamu saja yang iri," sahut Indra.
Keempatnya kembali tertawa. Indra dan lainnya meneguk minuman mereka masing-masing. Kabar yang tidak mengejutkan bagi ketiganya karena mereka semua sudah berencana untuk menghabisi Ayu Prameswari.
"Apa yang kamu katakan sampai nenek malangmu itu terkena serangan jantung?" tanya Anton.
Arya tersenyum, ia mengingat kejadian ketika menemui sang nenek. Waktu itu ia datang setelah makan malam ke rumah Ayu dengan alasan menjenguk.
"Nek, bisa kita bicara sebentar?" tanya Arya.
"Bicara apa? Kamu masih protes tentang warisan?"
"Kita ke kamar saja. Ini masalah Saka."
"Ada apa dengan dirinya?" tanya Ayu yang mulai panik.
"Ayo, Nek. Kita ke kamar saja."
Ayu mengangguk. "Kamu iringi Nenek."
Sang asisten ingin ikut, tetapi Ayu mencegahnya karena ingin bicara secara pribadi kepada sang cucu. Ia dan Arya masuk ke dalam kamar tidur.
"Katakan ada apa?" tanya Ayu.
"Ini mengenai masalah Saka yang tinggal di luar negeri. Sebenarnya Saka seorang pembunuh, Nek."
"Apa? Kamu jangan bohong!" ucap Ayu.
Arya menyeringai. "Cucu kesayanganmu itu memang seorang pembunuh! Sudah banyak korbannya. Dia melecehkan banyak wanita. Pengedar obat-obatan terlarang. Dia pria paling buruk. Saka itu seorang kriminal!"
"K-kamu pasti bohong." Ayu memegang dadanya yang terasa nyeri tiba-tiba.
Arya tertawa. "Anak haram itu memang seorang penjahat. Dia keturunanmu, Nek. Kamu adalah seorang kriminal. Sama seperti Saka." Arya menarik tangan Ayu, menghadapkan wanita renta itu pada cermin. "Lihat wajahmu ini. Nenek melahirkan anak yang hamil di luar nikah. Nenek punya cucu seorang pembunuh."
"Aku ini Nenekmu, Arya," ucap Ayu yang masih menahan rasa nyeri di dadanya.
Arya tertawa. "Aku cucumu? Kamu salah. Aku ini malaikat pencabut nyawamu." Arya merogoh saku celananya, meraih satu butir pil yang langsung ia berikan kepada Ayu. "Nenek, semoga kamu bisa selamat. Aku segera membawamu ke rumah sakit."
Arya berteriak keras agar asisten Ayu menemukan mereka. Benar saja, asisten dan pelayan datang ke kamar.
"Nyonya!"
"Cepat siapkan mobil," kata Arya.
"Panggil Saka," ucap Ayu.
Asisten Ayu terkena serangan panik. Jelas dalam keadaan seperti ini ia bingung harus melakukan hal apa untuk yang pertama kali.
"Cepat pergi sana!" ucap Arya.
"Baik, Tuan."
Arya tersenyum. "Jangan khawatir, Nenek. Kamu tetap bisa bertemu Saka. Obat itu hanya punya reaksi lambat. Aku hanya tidak ingin dokter dapat menyelamatkanmu."
Bersambung