
"Kamu sudah keterlaluan! Sebagai Ibumu, aku akan memberimu pelajaran!" ucap Belinda, dengan mengangkat tangan untuk menampar pipi Saka, tetapi secara sigap Saka mencengkeram pergelangan sang ibu.
"Jangan kamu pikir aku anak berumur delapan tahun. Sudah cukup kalian menyiksaku!" kata Saka seraya menghempaskan genggaman tangan ibunya.
Belinda mundur selangkah dengan mengusap pergelangan yang berubah menjadi merah. Cengkeraman itu begitu kuat ditambah Belinda memakai gelang hingga membuat retakkan di atasnya.
"Dia Ibumu!" ucap Hartawan.
"Memang anak berandalan! Ibu sendiri kamu siksa!" murka Arya.
Saka tergelak. "Jika aku berandalan, kalian apa? Iblis berwujud manusia? Ini belum seberapa atas perlakuan kalian selama ini. Aku akan membalasnya!"
Perlakuan Saka kepada Belinda, bahkan bukan apa-apa. Dulu ibu serta ayah tirinya lebih parah membuat Saka menderita. Saka pernah tidak diberi makan, dikunci di gudang, lalu Arya selalu membuat Saka dipukul karena omongannya.
Perbedaan itu sudah sangat jelas. Saka selalu dibilang untuk mengalah hanya karena Arya adalah adiknya. Hal itu membuat Saka selalu bisa ditindas oleh saudaranya sendiri.
"Coba saja kalau kamu berani," tantang Arya.
Sara mencoba menenangkan suaminya agar pertengkaran tidak berlanjut. Bagaimanapun buruknya perlakuan mereka terhadap Saka, mereka semua adalah keluarga.
"Lebih baik kita pulang saja," kata Sara.
"Kita memang harus meninggalkan tempat ini. Aku sudah muak menatap dan berbagai napas bersama mereka di rumah ini," jawab Saka.
Saka meraih tangan Sara, lalu segera membawanya keluar dari rumah. Tanpa basa-basi, pelukan hangat antar keluarga, keduanya meninggalkan kediaman lama.
"Aku sungguh tidak mengenalnya lagi," ucap Belinda dengan meratapi kepergian anak dan menantunya.
Sara mencuri lirik pada Saka yang mengemudi. Ia menahan segala pertanyaan demi memberi ruang tersendiri untuk suaminya. Terlihat jelas dari wajah Saka, pria itu dirundung kemarahan.
Sara terkesiap ketika sentuhan hangat ia rasakan di jari-jemarinya. Ia menoleh ke samping, lalu memeluk Saka.
"Aku sedang menyetir."
"Kamu marah?" tanya Sara.
"Hanya kesal. Lepaskan aku dulu. Aku tidak fokus berkendara," ucap Saka.
Sara mengecup pipi suaminya kemudian melepaskan leher Saka dari belitan kedua lengannya. Saka dengan cepat mengubah emosinya menjadi lebih baik.
"Katakan saja jika ada pertanyaan yang ingin kamu sampaikan," ucap Saka.
"Jika kamu bersedia berbagi luka, aku siap mendengarkan."
Saka mengusap rambut sang istri. "Saat kita sampai di rumah, kita bicara."
Sesampai di rumah, Saka dan Sara pergi membersihkan diri bersama. Hanya mandi tanpa melakukan hal lain. Sara tidak ingin mati kedinginan dengan bermain di bilik air.
"Boo, coba lihat apa yang nenek Ayu berikan untukku," kata Sara.
"Perhiasan, memangnya apalagi?"
"Haish! Lihat dulu ini. Yang kamu katakan memang benar. Berlian, emas. Eh, apa ini batu zamrud? Yang merah ini rubi?" tanya Sara.
Saka tersenyum. "Semua itu asli dari zaman dulu. Simpan baik-baik."
"Dalam sekejap aku menjadi kaya," kata Sara senang.
Saka cuma bisa menggeleng. Berlian biasa bisa saja istrinya beli, tetapi batu-batu langka dengan kualitas super pasti susah untuk ditemukan.
Aku bahkan punya banyak harta lebih dari itu. Kamu tenang saja, Bee. Aku akan keluar dari dunia itu demi kamu.
"Nenekmu sangat baik, kenapa kamu tidak tinggal bersama dia saja?" tanya Sara.
"Siapa orang itu?" tanya Sara.
Aku bahkan tidak ingin menyebut namanya. "Nanti kamu juga akan tau."
Pria yang membesarkan Saka, dan lelaki yang mengubah dirinya menjadi seorang pria yang haus darah dan kekuasaan. Saka tidak ingin menyebut nama karena sifat pria itu sama saja seperti Belinda.
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" tanya Sara.
Saka memandang raut wajah istrinya dengan senyum manis. "Tentu saja mewujudkan keinginan dari sang nenek."
Saka menjatuhkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur kemudian mengukung Sara dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanan kepala.
"Tunggu sebentar, Boo. Maksudku bukan ini," kata Sara.
"Apalagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Kehidupan di luar negeri," kata Sara.
"Jangan ditanya, kamu akan sakit hati mendengarnya."
Sara mendorong tubuh Saka hingga pria itu terjungkal ke sisi samping. "Kenapa?"
"Kamu pasti sudah banyak meniduri wanita."
Saka menggaruk kepala. Apa yang harus ia sampaikan dengan fakta mengejutkan ini? Kehidupannya berbeda dari orang biasa. Ia selalu di kelilingi oleh wanita cantik yang siap ia kencani kapan saja.
"Mereka hanya sesaat," ucap Saka.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku? Pantas saja saat kita bertemu, kamu ingin meniduriku. Kamu terbiasa dengan kegiatan cinta satu malam."
Sara memang tidak terlalu kaget jika Saka memang demikian, tetapi ia merasa sakit hati mendengarnya. Sara satu-satunya untuk Saka, tetapi suaminya sudah bekas dari banyak wanita.
Entah berapa banyak ladang yang Saka tanami. Bisa jadi benih-benih itu tumbuh subur dengan menghasilkan buah yang dinamakan dengan keturunan. Mungkin ada banyak anak yang dimiliki oleh Saka saat ini.
"Jika aku bertemu denganmu lebih dulu, aku tidak akan melakukannya," ucap Saka.
"Jangan tidur denganku!" pinta Sara.
Saka tertegun. "Bee, aku tidak menyangka pikiranmu kolot begini."
"Aku benci mendengarnya! Aku merasa dirugikan!"
"Lalu, aku harus apa?" tanya Saka.
"Keluar dari sini! Aku tidak ingin tidur bersamamu."
Saka turun dari tempat tidur, melangkah keluar dengan membanting pintu. Sara menarik selimut sampai menutupi kepala, dan menangis sekencang-kencangnya.
"Bagaimana caranya aku mengubah ini semua? Apa aku harus pergi menyucikan diri?" gumam Saka. "Biarkan Sara tenang dulu. Mungkin dia masih kaget."
Setelah dua jam berada di ruang tamu, Saka kembali ke kamar. Pintu dibuka dengan perlahan, Saka berjalan tanpa menimbulkan satu ketukan yang akan membangunkan istrinya.
Ia duduk di pinggir tempat tidur, Sara sudah terlelap, tetapi matanya terdapat bekas lelehan air mata. Saka mengecup kedua mata itu dengan lembut.
"Bee, maafkan aku. Itu kehidupan dulu, sekarang aku hanya setia kepadamu," ucap Saka.
Saka bergeser agar ia bisa memeluk Sara dengan erat. Tangannya terhenti di perut rata sang istri, Saka mengusapnya lembut, berharap ada keajaiban yang terjadi.
"Sungguh, Bee. Aku hanya setia kepadamu," bisik Saka.
Bersambung