
"Apalagi ini?" ucap Arya marah ketika ia mendapat bingkisan dari seseorang tanpa nama.
"Pasti Saka yang mengirimnya. Coba kita lihat," sahut Anton.
Anton mengulurkan tangan meraih bingkisan cokelat yang berada di meja, tetapi Arya menahan tangannya, lalu menggeleng.
"Jangan. Aku tidak sanggup untuk melihatnya. Mungkin saja ini milik dari mama atau papaku," ucap Arya.
"Justru dari itu kita harus melihatnya," desak Anton, lalu melepas pegangan tangan Arya dari lengannya.
Anton membuka bingkisan itu. Arya memandang ke arah lain sesekali melihat Anton merusak bungkusan yang cukup susah untuk dirobek. Banyak lakban kuning yang terlilit di sana.
Satu kotak hitam dan Anton meneguk ludah sebelum membukanya. Ia membuka perlahan dan bau anyir langsung saja menusuk hidungnya.
Arya menutup indra penciumannya, sedangkan Anton menunjukkan raut wajah takut. Ia biasa melihat musuh tiada, tetapi Saka adalah pria kejam gila yang menyiksa korbannya meski sudah tiada. Terlebih korbannya adalah orang-orang yang Anton kenal.
"Sialan!" murka Anton.
Arya melotot melihat satu jemari di depannya yang masih berlumuran noda merah. Bau khasnya sangat menyengat, dan di jari telunjuk itu terselip cincin pernikahan dengan nama Belinda. Arya tahu itu cincin Hartawan dari bentuk serta ukurannya yang sedikit besar.
"Papa!" ucapnya. "Ini jari papaku. Saka telah menghabisinya."
Arya ambil cincin itu dengan tisu, lalu menutup kotak yang menyimpan jari sang ayah. Saka sungguh sangat keterlaluan, dan Arya tidak akan membiarkan saudara tirinya bertindak lagi.
"Aku minta untuk kamu membebaskan papa dan mamaku," kata Arya.
"Kamu pikir aku tengah apa sekarang? Aku juga tengah berusaha mencari mereka," kata Anton.
"Mereka pasti sembunyi, tetapi di mana?" ucap Arya putus asa.
Dering telepon berbunyi. Arya segera mengangkat panggilan telepon dari sekretarisnya. Ia mendengar suara pria di seberang, lalu mengumpat kata kasar.
"Bagaimana bisa?" teriak Arya di telepon. "Sialan! Bagaimana bisa mereka mengetahuinya?"
Arya menutup telepon, ia menarik rambutnya dengan kedua tangan. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut. Sebuah godam menghantamnya dengan kuat.
"Ada apa?" tanya Anton.
"Aku harus ke kantor," ucap Arya.
"Aku ikut."
Keduanya bangkit berdiri dari sofa empuk di kediaman mendiang Ayu Prameswari. Kemudian keluar bersama dengan diikuti oleh lima orang pengawal.
...****************...
Sesampainya di perusahaan, Arya telah ditunggu oleh sekretaris serta direktur keuangan. Tiba-tiba ada laporan bocor mengenai pajak yang selama ini Arya sembunyikan. Pendapatan bersih yang ia laporkan rupanya palsu. Arya memanipulasi semua.
"Kalian kerjanya apa? Kenapa bisa bocor?" teriak Arya.
"Kami tidak tau, Tuan. Mereka ingin memeriksa lagi. Jika ketahuan bisa dipastikan kita harus membayar sebesar lima puluh milyar selama lima tahun ini," ucap sang Direktur.
Mata Arya membelalak. "Sebesar itu?"
"Jika tidak, kita bisa berurusan dengan hukum."
Satu ketukan pintu membuat jeda rapat mendadak di antara ketiganya. Sekretaris Arya membuka pintu dan mempersilakan rekannya masuk.
"Tuan, hotel kita yang berada di Bali dilanda kebakaran."
"Apa!" Hotel di Bali kebakaran?" ucap Arya.
"Betul, Tuan."
"Kalian semua keluar. Biarkan aku sendiri," pinta Arya.
"Tuan, untungnya tidak ada korban jiwa. Hanya ada luka-luka di antara para tamu yang menginap, tetapi kebakaran itu telah merembet ke tempat lain," ucap pria bawahan Arya.
"Kalian keluar!" bentak Arya.
Ketiganya keluar ruang kantor. Jika kejadiannya seperti itu, berapa banyak uang yang harus Arya keluarkan. Ia harus menjual beberapa aset perusahaan miliknya untuk menutupi kerugian.
"Ini pasti ulah Saka. Dia yang telah membuat keadaan kita seperti ini," ucap Anton.
Arya menggebrak meja. "Ini memang perbuatannya. Ia ingin menghancurkan semua milikku. Aku tidak membiarkan ini terjadi! Tidak akan!"
...****************...
"Semua beres. Daerah mana lagi yang harus dihancurkan?" tanya Andreas.
"Cukup. Arya pasti akan menjual segala aset miliknya untuk menutupi hutang. Kamu beli saja dengan harga murah dan ambil semua itu untuk perusahaanmu," kata Saka.
"Wah! Kamu sangat baik. Aku akan sangat senang."
Saka menyengir. "Tapi empat puluh persen saham perusahaanmu adalah milikku. Jangan lupakan itu."
"Jangan khawatir," sahut Andreas. "Jadi, apa kamu ingin bertemu Arya?"
"Tentu saja. Saat transaksi ini, aku akan perlihatkan wajahku," desis Saka.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Andreas.
"Mengunjungi musuh lama. Malam ini, ia harus habis di tanganku."
...****************...
Pintu kamar dibuka. Velia beringsut menekuk kaki dan memeluknya. Kepalanya ditundukkan di atas lutut. Ia takut akan langkah sepatu yang baru masuk.
"Angkat kepalamu," pinta Saka.
Velia mendongak dengan air mata berjatuhan. Saka tersenyum melihat wanita dengan kondisi mengenaskan. Velia bukan lagi wanita anggun seperti dulu. Ia tidak berdaya dan itu hasil perbuatan suaminya.
"Maafkan aku, Velia," ucap Saka.
Velia menggeleng, ia semakin memeluk kakinya. "Jangan. Sudah cukup kalian menyiksaku."
"Hari ini aku akan mengabulkan permintaanmu. Apa yang kamu minta?" tanya Saka.
"Bebaskan aku," ucap Velia.
Saka tersenyum. "Baiklah. Aku akan membebaskanmu karena besok adalah hari pemakaman Indra."
Velia tersentak mendengarnya. "Iblis!"
Saka tertawa. "Telingaku sudah sering mendengar ucapan itu."
"Tega kamu, Saka," ucap Velia.
"Ya, aku memang raja tega," sahut Saka. "Chen, Tedi!"
Pria yang dipanggil masuk kamar. Mereka siap diberi perintah. Di tangan keduanya sudah tersedia tali tambang serta penutup kepala. Velia tidak boleh tahu tempat dan jalan mana ia disekap. Itu sebab wajahnya harus ditutup.
"Antar Velia pulang. Kita harus memberinya hadiah terakhir," ucap Saka.
"Baik, Tuan," ucap keduanya serempak.
Keduanya melaksanakan perintah dari Saka. Selesai membereskan target, Saka berbicara pelan pada kedua bawahannya.
"Kalian tau siapa yang bisa menyimpan rahasia?" tanya Saka.
Chen dan Tedi meneguk ludah, lalu menjawab, "Orang mati."
Saka tersenyum. "Bereskan dengan serapi mungkin."
"Siap, Tuan."
Tubuh Velia diangkat oleh Chen. Keduanya keluar dari kamar, sedangkan Saka menatap kepergian Velia untuk yang terakhir kalinya.
"Kejam?" Saka tertawa. "Begitulah aku. Kalian sendiri yang membuat kekejamanku bangkit. Maafkan aku Velia. Aku akan menepati janji dengan mengantarmu pulang, tetapi ketika kamu sudah menjadi mayat tentunya."
Bersambung