Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Kedatangan Saka



"Apa yang membuatmu datang?" tanya Sara.


"Kamu tidak suka aku datang?" Saka mengecup lembut puncak kepala kekasihnya. Sara tengah bersandar di bahu bidang Saka. "Sebenarnya aku tidak ingin datang, tapi hatiku mengatakan aku harus datang menemuimu."


Sara menarik kepalanya. "Kamu kasihan kepadaku? Aku wanita yang bodoh, kan?"


Saka mengangguk, "Tanpa aku katakan, kamu sudah mengakuinya."


"Kenapa kamu tega sekali kepadaku?" Sara mulai terisak kembali.


Saka menghela napas panjang. "Sepertinya aku harus selalu menyediakan tisu untukmu."


Sara langsung memeluk Saka. Ini yang ia suka dari kekasih keduanya. Sara selalu bisa bermanja dengannya, bertingkah seperti anak kecil yang membuat Sara selalu merasa dicintai.


"Aku tidak bernapas jika kamu memelukku dengan erat."


"Biarkan saja. Aku ingin memelukmu dan tidak mau melepasmu," kata Sara.


Saka mengusap lembut punggung belakang Sara dengan lembut. "Sayang, malam ini boleh, ya."


"Boleh apa?" tanya Sara.


"Tidur bersama." Saka membelai punggung Sara dengan jari-jemarinya dan berhasil membuat Sara merasa geli.


Sara mengangguk, "Iya."


Saka mendorong tubuh Sara pelan dan memandang wajah kekasihnya dengan lekat. Rasanya ia tidak salah dengar jika Sara menyetujui permintaan untuk tidur bersama.


"Beneran?" tanya Saka sekali lagi.


Sara mengangguk, "Iya, ayo kita lakukan."


Saka menelan ludah. "Jangan sekarang, deh."


Sara menarik kaus Saka hingga membuat tubuh pria itu mendekat ke arahnya. Jantung Saka malah berdetak dengan kencang.


"Kita sama-sama dewasa, kan? Ayo kita lakukan, Sayang," kata Sara.


"Kenapa aku merasa takut?" kata Saka sembari menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


Sara menurunkan gaun malam yang ia kenakan, lalu membuka pembungkus yang menutupi dua bagian indah miliknya.


Saka menelan saliva, gairahnya terpancing. Apalagi Sara menampilkan pose yang membuat Saka berpikiran liar.


"Sudah, Sayang. Jangan lakukan ini. Sepertinya aku belum siap," kata Saka.


Sara tidak peduli, ia membuka blazer yang Saka kenakan, lalu mengangkat kaus putih Saka sampai melewati kepala kemudian membuangnya secara sembarangan.


"Sayang, ayo kita lakukan." Sara meraih kedua tangan Saka untuk menangkup dua sisi miliknya.


"Lepaskan aku, Sara."


Sara beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan Saka agar berpindah ke sisi tempat tidur. Setelah makan malam tadi, Sara memesan satu kamar hotel untuk mereka menginap di sana.


Tubuh Saka terjatuh di atas tempat tidur. Sara melucuti gaun malamnya hingga tidak ada kain yang menempel di tubuh mulusnya.


Astaga! Apa aku akan direndahkan seperti ini? Sara ingin menodaiku. Sebagai seorang pria jantan, aku tidak boleh dikendalikan seperti ini. "Sayang, tunggu dulu."


"Apalagi? Waktu itu kamu ingin meniduriku, sekarang aku menginginkannya dan kamu malah menolak," protes Sara sembari jari-jemarinya melepas celana jeans yang Saka kenakan.


"Biarkan aku melepasnya, Sayang. Aku akan turuti keinginanmu," jawab Saka yang langsung bangun dari tempat tidur. "Kamu menginginkannya, kan?"


Sara mengangguk, "Iya."


"Oke, ayo kita lakukan."


Saka membuka habis pakaian yang ia kenakan, lalu membaringkan Sara ke tempat tidur. Mata keduanya saling menatap sebelum Saka mendekatkan bibirnya untuk menyentuh bibir menggoda itu.


Saka menyentuh bibir yang sedari tadi menunggu untuk dikecup. Sara menautkan jari-jemarinya pada rambut hitam lebat Saka saat pria itu menaruh bibir di cekungan lehernya.


Sara bergumam, sembari memejamkan mata, tangannya terus mencengkeram rambut Saka. Menyusuri punggung belakang sang kekasih yang kekar.


Kulit coklat Saka benar-benar seksi. Pundak pria itu lebar. Perutnya rata serta pinggangnya ramping. Kekuatan otot kaki lelaki itu dapat Sara rasakan sehingga membuat bagian bawah sana menjadi lembab.


Saka kembali memandang lekat kekasihnya, mengecup bibir wanita itu, menyelusuri ke dalam langit-langit untuk memperdalam permainan bibir mereka.


Sara tersentak, menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara parau. Jemari Saka berada di bawah sana dan bibir pria itu mendekam di puncaknya.


Sara merasakan sesuatu yang akan meledak sebentar lagi sesaat gerakan Saka semakin cepat. Ia mengangkat tubuhnya dan mencengkeram seprai putih.


"Jangan ditahan, Sayang. Keluarkan suaramu, dan panggil namaku," ucap Saka.


Sara meneriaki nama Saka. Ia tidak dapat menahan bom waktu yang terbakar dalam dirinya. Ia meledak, hancur berkeping-keping dan Saka orang yang berhasil melakukan hal itu.


Saka tersenyum kemudian memundurkan tubuhnya. Sara terkesiap dengan apa yang kekasihnya lakukan. Sekali lagi Saka menciptakan bom asmara dalam dirinya. Sara terbakar dengan sentuhan lembut bibir Saka. Sang kekasih membuatnya mengerang, berteriak kembali saat ledakan Sara rasakan untuk kedua kalinya.


Saka memposisikan diri. Ia mengecup kembali bibir Sara sembari menerobos gawang surga kenikmatan. Kedua tangan mereka bertautan. Saka menjelajahi kembali cekungan nadi leher Sara dan membuat tanda merah di sana.


Saka berhasil masuk dan ia kaget. Saka bangun dan melihat tanda yang tidak ia harapkan sama sekali.


"Kumohon untuk tidak berhenti, Sayang," ucap Sara.


"Aku salah menilaimu. Kenapa kamu tidak bilang?"


"Sayang, jangan berhenti. Aku menginginkannya."


Saka melakukan apa yang diminta Sara. Ia harus menuntaskan hal yang sudah separuh jalan, setelah itu Saka akan meminta penjelasan.


Napas Saka tersengal. Ia jatuh di sisi samping tempat tidur setelah memadamkan api yang membakar tubuhnya.


"Sara, katakan padaku," pinta Saka.


"Apa?"


"Kenapa kamu masih perawan?" tanya Saka.


"Memangnya aneh kalau aku masih perawan?"


"Kamu tidur bersama Indra dan kalian juga sudah menjalin hubungan yang cukup lama. Rasanya tidak mungkin kalian tidak melakukan hal ini. Aku merasa seperti pria kurang ajar karena telah menidurimu," tutur Saka.


"Memang begitu kenyataannya. Aku sendiri tidak tahu apa alasannya," kata Sara.


"Aku merasa bersalah."


Sara masuk ke dalam pelukan Saka. "Jangan merasa bersalah, Sayang. Besok, aku akan menemui Indra dan meminta hubungan kami diakhiri."


Saka membalik diri memandang Sara, ia kecup kening kekasihnya dengan lembut. "Seharusnya memang begitu, Sayang."


"Bagaimana kalau kita melakukannya lagi? Rasanya sangat nikmat," ucap Sara.


Saka tertawa, "Beri waktu juniorku ini untuk naik, Sayang. Lima belas menit saja."


Lima belas menit berlalu, Saka melakukan apa yang diminta Sara. Ia tidak akan berhenti sampai Sara sendiri yang meminta.


"Aku lelah, Sayang," kata Sara terengah-engah.


"Sebaiknya kita tidur dan jangan iseng untuk membangunkan junior lagi. Aku akan benar-benar memakanmu sampai habis."


Sara tertawa, "Ampun, cukup tiga kali dan aku benar-benar lelah."


Bersambung