
Rencana Anton adalah menjadikan Flora sebagai bidak catur untuk menguasai dunia bawah. Selama lima tahun ini ia sudah merebut kekuasan dari kelompok bawah di Tanah Air. Namun, itu saja masih kurang. Anton menginginkan wilayah di Amerika juga.
"Saat umurnya sudah sepuluh tahun, aku ingin membawanya ke Amerika. Kami akan tinggal di sana," ucap Anton.
"Apa? Ini tidak mungkin. Mamaku pasti marah. Flora juga tetap cucunya," sergah Arya.
"Tujuan kami berada di sana. Mana mungkin aku membiarkan Flora di sini."
"Sialan! Aku pikir-pikir dulu," ucap Arya.
"Kamu tinggal membuat cucu untuk ibumu lagi," kata Anton.
"Selama ini aku berpikir seperti itu. Aku ingin Sara hamil kembali, tetapi dia menolakku. Mama juga tidak menyetujui hubungan kami. Papa bahkan menjodohkanku dengan seorang wanita," tutur Arya sembari mengepal kedua tangan.
Anton tertawa. "Dasar pembohong! Jadi, yang kamu katakan kepada Indra itu memang ada benarnya, kan? Untung saja Indra tidak terobsesi pada Sara. Dia sudah bahagia dengan istri dan jabatannya di dunia politik. Dia harus menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak reputasi."
Arya terkekeh. "Kamu pikir sudah berakhir? Aku mengancamnya untuk tidak mendekati Sara. Indra menginginkan Sara naik ke atas ranjangnya. Aku mencegahnya akan menyebar berita buruk jika berani mengusik milikku."
"Kamu ini bodoh, ya! Tinggal kamu salurkan hasratmu itu. Soal ibumu yang melarang, abaikan saja. Jadi anak enggak perlu menjadi penurut."
Anton tidak tahu saja jika Belinda juga mengurung diri di dalam rumah demi mencegah hal tersebut. Jika pun keluar rumah, maka Sara akan dikurung di dalam kamar dan dijaga. Arya bisa saja menodai Sara, tetapi ancaman ibunya sungguh membuatnya tidak berkutik.
Sebenarnya aku ini jatuh cinta pada Sara. Memaksanya akan membuat wanita itu merasa sakit. Sialnya! Kenapa aku malah punya perasaan ini? Tidak! Aku harus mencoba. Kurasa aku hanya penasaran karena tidak bisa menidurinya.
"Aku pulang, deh," kata Arya.
"Baru sebentar. Aku belum puas bermain bersama Flora," ucap Anton.
"Aku jadi takut padamu. Biar aku ini pria jahat, aku tidak akan menyakiti anak kecil."
"Aku tidak bermaksud begitu," bantah Anton.
Arya berdecih. "Memangnya aku tidak bisa melihat perilakumu itu. Aku tidak akan setuju jika dewasa nanti kamu menikahi Flora."
"Sejak kapan kamu bertindak sebagai seorang ayah?" Arya heran.
"Mulai hari ini," jawab Arya, lalu meraih Flora ke dalam gendongannya.
Flora menangis ketika mainan kesukaannya terlepas dari genggaman. Arya tidak peduli, ia melangkah keluar dari apartemen Anton.
"Diam!" ucap Arya.
Flora terdiam. Ia menggosok kedua mata, tetapi tetap saja air mata meleleh di pipinya. Arya memperhatikan wajah keponakannya.
"Sialan! Wajahmu ini malah menjadi bencana buatmu nanti," ucap Arya. Ia menjepit kedua pipi Flora, menatap saksama wajah dari sang keponakan. "Sebenarnya dari mana mata keabuanmu ini? Apa dari kakekmu yang bule? Wajahnya malah seperti indo. Kulit putih bersih. Pantas saja Anton bilang ingin menjadikanmu sebagai bidak caturnya."
"Pipi Flora sakit."
Arya berdecak. "Baru empat tahun sudah lancar bicara. Mirip seperti ibumu yang punya mulut seperti cabai."
Arya berjalan keluar dari gedung apartemen menuju mobil. Tanpa ia sadari, ada seseorang yang memotret. Bahkan, pengintai itu memang sedari tadi membuntuti Arya. Kali ini, Arya lupa memakaikan Flora masker tutup mulut. Wajah manis anak itu terlihat jelas di depan kamera.
Arya mengendarai mobilnya. Pengintai tidak lagi mengikuti, tetapi masuk ke dalam kendaraannya, lalu pergi dari gedung parkir apartemen.
...****************...
"Mama!" seru Flora sembari menangis masuk ke dalam kamar.
Sara sudah berada di dalam kamar. Ia berbaring karena luka yang diberikan Arya terasa sangat menyakitkan. Salep dingin yang diberikan Belinda belum bisa menyembuhkannya. Sara butuh seorang dokter.
"Paman Arya jahat," adunya.
Arya yang turut masuk cuma bisa terkekeh geli. Dasarnya memang anak kecil. Hal sekecil apa pun akan diadukan kepada ibunya. Sara melihat pipi putrinya yang merah.
"Kamu apakan dia, Arya? Flora masih kecil. Kasihani dia," pinta Sara memohon.
"Flora! Tinggalkan kami," perintah Arya.
"Enggak mau. Flora mau sama Mama."
"Anak ini! Enggak bisa dibilangin." Arya meraih Flora dalam gendonganya. Ia meletakkan anak itu di luar. "Diam di sini!" Arya menutup pintu, lalu keluar. "Beres juga akhirnya."
Arya membuka kemeja dan sabuk pinggangnya. Ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
"Mau apa?" Sara bergeser dari tempat tidurnya.
Arya tidak menjawab. Ia membuka paksa baju yang Sara kenakan. Arya memang tidak menidurinya, tetapi setiap saat selalu melecehkan Sara. Berat rasanya untuk hidup. Tidak jarang Sara ingin mengakhiri hidupnya, tetapi Flora menguatkan dirinya.
Sara membiarkan Arya mengecup seluruh tubuhnya. Menolak, maka pukulan yang akan ia dapatkan. Tubuhnya saja sudah sakit akibat cambukan pria itu.
"Meski kamu menangis, aku tidak akan berhenti," ucap Arya.
Sara tidak ingin menangis, tetapi air matanya saja yang ingin tumpah. Tidak rela, tetapi sungguh Sara tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah ratusan kali ia ingin melarikan diri dan meminta bantuan lewat telepon. Namun, semua itu hanya sia-sia.
Tidak ada orang yang bisa dipercaya di dalam kediaman lama ini. Semuanya adalah orang kepercayaan dari Arya dan orang tuanya. Mereka bungkam melihat Sara dan putrinya menderita.
"Nenek, Kakek. Paman di kamar bersama mama," ucap Flora.
"Apalagi yang dilakukan anak itu," ucap Belinda.
"Biarkan saja," sahut Hartawan.
"Aku tidak akan membiarkan anak itu mencoreng wajahku!"
Belinda segera melangkah menuju kamar. Flora mengikutinya dari belakang. Ketika Belinda ingin masuk, pintu terkunci.
"Arya! Buka pintunya," teriak Belinda.
Arya berdecak. Ia menarik diri dari tulang selangka Sara. "Pasti Flora yang mengadu. Sialan anak itu!" Arya memandang wajah Sara yang penuh air mata. "Aku hanya menyentuhmu sedikit. Begitu saja menangis."
Satu tamparan diberikan Arya. Sara terdiam menerima perlakukan itu. Arya turun dari tempat tidur, meraih kemeja, lalu memakainya. Ia membuka pintu.
"Aku minta berhenti," kata Arya sebelum Belinda memberi ocehan kepadanya.
"Ini peringatan terakhir untukmu!" ucap Belinda.
"Terserah Mama."
Arya melangkah pergi, Belinda masuk melihat menantunya. Ia menarik selimut menutupi setengah tubuh Sara yang polos.
"Aku akan memanggil dokter," kata Belinda.
"Aku memang perlu dokter. Aku merasa gila berada di sini," sahut Sara.
Bersambung