
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Sara.
"Kalian belum pulang?" tegur Dini dengan membawa dua tas besar di tangan berisi pakaian Sara.
Saka melihat sekilas dua pria asing yang bersandar di mobil tidak jauh dari mereka, tetapi dua lelaki mencurigakan itu tidak ada lagi di sana.
"Dini, kamu bawa kembali Sara masuk ke hotel. Tunggu satu jam lagi baru kalian keluar," kata Saka.
Sara merasa ada aneh yang pada suaminya. "Boo, ada apa?"
Saka tersenyum. "Ayo, aku antar kamu masuk ke dalam. Aku akan pesankan kamu kamar."
Saat Saka ingin membawa pergi Sara, ia melihat lagi dua orang pria berpakaian sama dengan dua orang sebelumnya. Namun kali ini, mereka membawa tas kantor sebagai penyamaran.
Kurasa mereka sudah dari tadi berada di hotel ini. Bahaya kalau Sara tetap di sini. Aku harus menjauhkan mereka dari Sara. "Dini, bawa Sara masuk ke dalam mobil."
"Aku enggak mau sebelum kamu menjelaskan apa yang terjadi," tolak Sara.
"Turuti aku, Bee." Saka memeluk istrinya. Ia menurunkan tubuh hingga bisa menghadap perut Sara. Saka mengusap dan mengecupnya. "Maafin Papa, Sayang. Kamu baik-baik di dalam. Papa akan segera kembali."
"Saka! Ada apa denganmu?" tuntut Sara.
Saka berdiri, ia mengecup seluruh wajah Sara. "Jaga baik-baik anak kita. Aku akan segera kembali."
"Kamu mau ke mana?"
"Dini, bawa Sara masuk," pinta Saka.
"Kamu bisa memberi kami penjelasan," ucap Dini yang juga bingung dengan situasi ini.
"Sulit untuk menjelaskan. Bawa Sara pulang ke tempatmu. Aku akan menyuruh Azka menyusul," ucap Saka.
Dini menekan tombol kunci pada mobil. Saka membuka pintu belakang. Mempersilakan istrinya masuk ke dalam, memasangkan sabuk pengaman dan terakhir kembali mengecup kening Sara.
"Jaga dirimu," pesan Saka.
"Jangan membuatku takut," ucap Sara.
Saka cuma tersenyum. Ia menutup pintu, melambaikan tangan ketika Dini menyalakan mesin dan bersiap mengendarai mobil.
"Aku akan kembali," teriak Saka.
Sara tidak mengerti, tetapi hatinya tergerak untuk secepatnya meninggalkan hotel. Sara berharap semuanya baik-baik saja. Entah apa yang membuat Saka tiba-tiba bersikap seperti itu. Suaminya berkata seakan mereka akan berpisah selama-selamanya. Sara yakin Saka tidak akan pergi. Suaminya bukan pria seperti Indra. Sara hanya bisa bersabar untuk kali ini. Ia akan meminta penjelasan setelah Saka pulang ke rumah.
Keempat pria asing muncul. Mereka berdiri tidak jauh dari Saka. Sudah jelas secara terang-terangan, musuh menginginkan nyawanya. Tapi Saka tidak tahu siapa dalang dari ini semua. Terlalu banyak musuh yang dendam.
Saka masuk ke dalam mobil. Ia menghubungi Azka seraya mengemudikan kendaraannya. Saka juga harus mencegah agar kondisinya saat ini tidak menimbulkan perhatian dari pengendara jalan raya.
Setelah menunggu beberapa menit, Saka dapat mendengar suara sahabatnya dari seberang telepon.
"Azka! Aku butuh bantuanmu."
"Halo, Saka. Ada apa?" dari suaranya, Azka terdengar cemas.
"Aku tidak bisa menjelaskan apa pun untuk saat ini. Aku ingin minta tolong. Lindungi Sara. Dia berada di rumah Dini. Jika ada apa-apa. Bawa dia pergi," ucap Saka.
"Sebenarnya ada apa?" Azka semakin khawatir.
"Aku tidak bisa menjelaskan. Kamu turuti perintahku."
"Baiklah. Aku akan menunggumu pulang," ucap Azka.
Saka langsung menutup ponselnya. Ia masih mengendarai mobil jalan utama. Dua pengendara motor mendekat, dan inilah bahayanya. Terlebih lampu merah segera menyala. Bisa saja kedua pria yang mendekat menembaknya secara langsung.
"Sial! Mereka bukan penjahat biasa. Ini pasti musuhku di dunia bawah," gumam Saka kesal.
Ia tidak peduli lampu merah sudah menyala. Saka menerobos yang membuat pengendara lain membunyikan klakson. Benar saja, dua pengendara motor membuntutinya.
Mobil Saka terus melaju. Selain dua pengendara motor, ada lagi kendaraan roda empat warna hitam. Saka mendecakkan lidah karena musuh terlalu mudah membuntutinya.
"Sialan! Mereka pasti sudah memasang pelacak di bawah mobil. Ternyata mereka sudah lama merencanakan ini," gumam Saka.
Dua kali panggilan belum terjawab. Saka cuma bisa menghubungi pria itu melalui aplikasi obrolan berlogo gagang telepon. Ketiga kalinya, baru terdengar suara berat yang menjawab. Saka berucap syukur.
"Daddy! Aku akan kirimkan lokasi terakhirku. Aku tidak tau apakah bisa selamat kali ini," ucap Saka.
"Bertahanlah meski nyawamu akan meninggalkanmu," sahut suara dari seberang telepon sana.
Dalam keadaan seperti ini, Saka masih bisa tertawa mendengar suara dari sang ayah. Bertahan meski sudah ajalnya. Sungguh aneh karena itu sama saja melawan takdir untuk mati.
"Aku tutup teleponnya. Jika aku mati, aku cuma ingin mengatakan satu hal untukmu. Jangan jadikan anakku seperti aku," ucap Saka.
"Kamu tidak akan mati. Bertahan sampai aku menemukanmu," ucap Bernad.
Mobil yang mengejar Saka semakin ramai. Saka memutus sambungan telepon kemudian menyimpan gawai itu di saku celana. Ia harus bisa mencari tempat di mana bisa melarikan diri meskipun nyawa taruhannya.
Ia berhenti di tengah jalan tepatnya di persimpangan jembatan menuju daerah lain. Jalan yang sepi di pinggir kota. Mobil yang mengikuti juga ikut berhenti.
Saka keluar dari mobilnya. Begitu juga penumpang yang ada di mobil musuh. Sekitar ada delapan orang yang harus Saka hadapi dan semuanya membawa senjata api.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Saka.
"Tidak perlu tau. Kamu musuh lama kami," jawab seseorang dari kumpulan mereka.
Satu mobil lagi telah tiba. Penumpang dari mobil mewah keluar. Ada empat orang yang Saka kenali, dan salah satunya adalah Anton yang sempat Saka buat patah kakinya.
"Rupanya kalian. Apa perlu sampai menyuruh orang banyak demi menangkapku?" Saka tertawa. "Aku akui, diriku sangat hebat."
"Jangan sombong kamu!" bentak Arya.
"Indra ada juga. Apa ini dendammu karena aku berhasil merebut Sara?"
"Lekaslah mati!"
"Mati? Malaikat pencabut nyawa saja takut padaku," ujar Saka sambil tertawa.
"Di detik terakhir dia masih saja sombong," Dery bersuara.
"Aku akan membalas perbuatanmu dulu, Saka!" Anton merasakan kemarahannya akan meledak.
"Pria rendahan seperti kalian malah ingin bersaing denganku? Mimpi saja!" ucap Saka.
"Kita lihat saja, siapa yang akan mati," desis Arya. "Habisi dia! Langsung saja tembak!" perintahnya.
Saka berlari menuju jembatan. Ia tidak punya apa-apa sekarang. Senjata atau apa pun tidak ada. Jika ia mati hari ini, Saka tidak akan membiarkan musuh mendapatkan jasadnya.
"Tembak!" seru Arya memberi perintah.
Tembakan dilepaskan, Saka secepatnya melompat ke pagar jembatan kemudian terjun ke bawah. Musuh tetap menembak biarpun Saka sudah jatuh ke dalam air.
"Sial! Dia jatuh ke dalam sungai," ucap Arya.
"Dia pasti sudah mati tertembak. Saka juga jatuh dari ketinggian," sahut Indra.
"Apa pun yang terjadi kita harus pastikan dia mati. Cari mayatnya," kata Anton.
"Malang sekali nasib Saka," timpal Dery.
"Sekarang giliran Sara," desis Arya.
Bersambung
Sara ( Semua photo dari pinterest)
Saka