Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Saka dan Sara



"Di mana kamu menempatkan papa dan mama?" tanya Sara.


Sara duduk di tepi tempat tidur di samping Flora. Saka berada di hadapannya. Memandang wajah tirus Sara yang terlihat lelah. Meski di sekitar mata terdapat lingkaran hitam, tetapi Sara tetap cantik.


Sara juga terpisah dari Belinda serta Hartawan. Ia tidak tahu di mana mertuanya itu sekarang berada berikut dengan penjaga rumah lama. Sisi jahat Sara bahagia karena mereka akan segera mendapat balasan. Namun, sisi lembutnya masih menganggap jika keduanya adalah orang tua Saka. Mertuanya sendiri.


"Dia bukan mertuamu, Sara. Mereka musuh kita," sahut Saka.


Sara menunduk, ia mengusap puncak kepala Flora yang tertidur. Ia masih ingat saat penyergapan itu terjadi. Hartawan tiba-tiba saja ditawan, lalu Belinda serta anak buahnya dipaksa berlutut.


Pria dengan kulit gelap memborgol mereka semua kemudian disuruh naik ke dalam mobil. Sara juga masih ingat tangisan Flora yang takut melihat adegan yang tidak seharusnya. Laki-laki berwajah oriental menyuntikan cairan ke lengannya, lalu Flora tertidur.


Selama lima tahun terpenjara dalam rumah, Sara baru melihat jalan raya yang sering ia lalui dulu. Ia baru melihat wajah orang-orang baru yang berlalu lalang bersama kendaraannya. Para penjual makanan. Pejalan kaki serta anak-anak yang bernyanyi di bawah lampu merah.


Semua hampir sama. Hanya Sara yang telah berubah. Nasibnya yang malang karena bersuamikan pria dengan keluarga bermasalah. Di dalam mobil, Sara menangis tersedu. Ia merindukan kehidupannya yang lalu. Seorang wanita yang dipuja dan terkenal.


"Sayang," tegur Saka.


Sara tersentak. Ia mengerjap beberapa kali, lalu menampilkan senyum. Sebuah senyum yang hanya ia perlihatkan kepada Flora. Lalu, di depannya ada Saka. Suami yang datang bagai pahlawan. Entah kenapa Sara merasa penyelamatan ini sangat terlambat.


"Kamu tidak senang berada di sini?" tanya Saka.


"Tidak. Hanya mengingat kejadian tadi," jawab Sara.


"Inilah pekerjaanku sebenarnya, Sayang. Aku pernah mengatakannya kepadamu."


Sara mengangguk. "Iya, aku sudah tau saat menyaksikan langsung penembakan Dini dan Azka."


"Lalu?"


"Aku merasa ini sudah terlambat. Kamu datang terlalu lama. Aku bahkan sudah kebal atas penyiksaan yang mereka lakukan padaku," tutur Sara.


"Bee." suara Saka terdengar lirih. "Maafkan aku, Bee. Saat pertama kali aku sadar, aku ingin langsung menjemputmu. Takdir malah mengujiku dengan berat. Aku lumpuh dan daddy tiada. Saat itu aku tidak punya apa-apa. Aku mengumpulkan kekuatan, barulah datang menyelamatkanmu."


Sara tidak kuasa menahan air mata yang jatuh. "Aku berterima kasih karena kamu menyelamatkanku."


"Ini sudah tugasku, Bee. Kamu istriku."


"Aku bahkan tidak pantas disebut istrimu lagi." Sara menggeleng. "Aku sudah terjamah oleh pria lain."


"Bagaimanapun dirimu, aku akan tetap menerimamu apa adanya. Kamu adalah istriku. Belahan jiwa yang menguatkanku. Hanya karena terus mengingatmu, aku bisa sampai di sini."


"Aku ingin tenang, Saka. Keluarlah dulu," pinta Sara.


Saka mengembuskan napas perlahan. Ia menatap sekali lagi Sara, lalu bangkit dari duduknya.


"Istirahatlah. Aku harus pergi. Secepatnya aku kembali," ucap Saka.


Saka melangkah ke depan pintu kamar. Ketika ia ingin menarik gagang kunci, Saka menoleh lagi ke belakang. Ia menjejalkan tangan ke saku celana mengambil telepon genggam kemudian berjalan mendekati Sara.


Tanpa ragu Sara mengambilnya. "Terima kasih."


"Bee, aku tidak ingin hubungan kita seperti ini." Saka langsung memeluk istrinya. "Aku sudah sangat merindukanmu. Jangan lagi menyiksaku. Aku akan membalaskan sakit hatimu. Aku akan buat Arya merasakannya juga."


Sara terisak, ia balas memeluk Saka. "Aku gagal jadi seorang istri. Aku tidak bisa menghalangi Arya."


Saka menggeleng. "Tidak, Bee. Kamu adalah istri dan ibu yang kuat."


Sara menarik diri. "Dia melecehkanku. Bahkan di depan Flora dia sanggup melakukannya." Sara membuka kancing pakaiannya. "Lihat ini. Tanda-tanda penyiksaan ini tidak akan pernah hilang. Aku akan selalu mengingatnya."


Saka menurunkan kepalanya. Ia raih tubuh Sara, lalu mengecup bagian-bagian tubuh yang menyisakan bekas luka. Sayatan belati serta cambukkan telah Sara rasakan.


"Aku akan menggantinya," kata Saka.


Saka mengecup luka-luka itu. Sara meringis, lalu mendorong kepala Saka pelan. Ia menggeleng, lalu kepalanya tertunduk. Saka merapatkan kembali pakaian yang dikenakan oleh Sara.


"Biarkan aku melakukannya, Bee," pinta Saka.


"Jangan, Saka. Aku tidak ingin."


"Kamu masih ingat saat kita berada di pulau?" tanya Saka. "Saat itu kamu tidur bersama Indra di dalam kamar yang sama. Tau enggak, saat itu aku ingin menendang pintu itu dan menarikmu keluar. Aku bahkan tidak bisa tidur karena itu." Saka menatap lekat Sara. "Bee, aku mengejarmu karena aku mencintaimu. Saat ini pun sama. Aku akan selalu mencintaimu dan menerimamu apa pun keadaan yang telah kamu lewati."


"Itu berbeda," ucap Sara.


"Sama saja. Aku mencintai wanita bernama Sara. Aku mencintai dirinya bukan tubuhnya semata," kata Saka.


Sara meneteskan air mata. Ia memeluk Saka erat. "Terima kasih, Boo."


Saka mengusap kepala istrinya. "Kamu sudah bebas. Jangan lagi merasa takut. Ada aku di sini yang akan melindungimu dan anak kita."


Sara mengangguk. "Iya ...."


Saka mengerti jika Sara tidak akan bisa melupakan begitu saja kenangan buruknya selama lima tahun ini. Namun, Saka berjanji akan selalu berada di sisi istri serta anaknya. Perlahan-lahan, Saka akan mengenalkan dunia yang digelutinya meski ia berencana untuk pensiun dari dunia bawah.


"Tetaplah di sini. Jangan dulu keluar rumah. Arya dan Anton belum kita dapatkan," kata Saka.


"Aku takut kejadian lalu terulang lagi. Kamu tidak akan meninggalkanku lagi, kan?"


Saka menggeleng. "Aku janji itu tidak terjadi."


"Pulanglah biar itu larut malam sekalipun. Ke rumah ini meski aku tidak tau kediaman ini milik siapa," kata Sara.


"Aku menyewanya. Jangan khawatir. Setelah ini selesai, kita pindah ke tempat kita yang seharusnya," ucap Saka.


Sara mengangguk, ia merelakan Saka pergi lagi. Ia percaya jika Saka akan kembali. Percaya sama seperti sebelumnya jika suaminya akan datang membawanya pergi menuju kebahagian.


Bersambung