
Hal tidak terduga telah menghampiri, Sara berusaha untuk tenang. Ia meraih gagang pintu kemudian menariknya. Senyum manis harus ia perlihatkan untuk dua orang wanita yang entah kapan tiba-tiba saja muncul.
Baik Sara maupun Dini tidak mendengar langkah kaki. Pantas saja tidak terdengar, mobil yang dikendarai Belinda berada di luar halaman rumah serta pagar memang tidak ditutup rapat.
"Mama, Tante. Kenapa bisa tau rumah Sara di sini?" Sara masih tersenyum meski dalam hati ia sangat gugup.
"Kamu tidak ingin menyuruh kami masuk?" tanya Lisa.
Sara pura-pura kaget. "Ah, iya. Silakan masuk Mama, Tante."
Belinda dan Lisa masuk ke dalam rumah. Keduanya melihat ke sekeliling ruangan. Sara mencengkeram kedua tangannya yang tiba-tiba dingin. Ia tidak ingin berpikir negatif, tetapi kedatangan Belinda serta Lisa membuatnya sedikit takut.
"Duduklah, Ma. Sara buatkan air dulu."
"Tidak perlu, Nak. Kami hanya sebentar. Duduklah bersama kami," jawab Belinda.
Sara menuruti ucapan sang ibu. Ketiganya duduk bersama. Sara di sofa single, sedangkan Lisa dan Belinda di kursi panjang.
"Mama masih belum menjawab pertanyaanku," kata Sara.
"Jangankan tempat tinggal, Mama tau segala kegiatanmu," jawab Belinda.
"Saka malah jadi tukang ojek online. Aku malu punya kerabat seperti dia," sela Lisa.
Lisa adalah sepupu dari ibu Saka. Anak dari paman Belinda yang telah lama meninggal. Ayu Prameswari hanya punya satu saudara, dan Lisa adalan anak dari sang kakak.
"Sudahlah, Lisa. Kita ke sini hanya untuk berkunjung."
"Sepertinya ada tamu di rumah ini," kata Lisa.
"Oh, kebetulan asistenku sedang berkunjung. Biar aku panggilkan," ucap Sara.
"Tidak perlu, Sayang. Mama membutuhkanmu di sini. Ada satu hal yang ingin Mama minta."
"Apa itu?" tanya Sara.
Belinda mengeluarkan kotak perhiasan dari dalam tas besar yang ia bawa. Sara ingat, semalam ibu mertuanya ingin memberikan benda itu kepadanya.
"Mama, aku tidak ingin menerimanya. Saka akan marah nanti," tolak Sara sebelum Belinda bicara.
Lisa berdecih, "Siapa yang ingin memberi perhiasan itu kepadamu?"
Belinda tersenyum. "Tidak, Sayang. Mama hanya ingin menukar perhiasan ini dengan perhiasan milikmu. Mama menginginkan batu permata di dalamnya."
"Apa? Mama menginginkan perhiasanku?" tanya Sara tidak percaya.
"Itu milik keluarga. Kami datang hanya ingin menukar perhiasan itu," sahut Lisa.
Sara tersenyum sinis. "Sayang sekali perhiasan itu sudah dibawa Saka untuk dijual."
"Apa?" ucap keduanya kaget.
Sara mengangguk. "Batu zamrud, rubi, berlian, tidak baik disimpan dalam rumah. Saka bilang lebih baik dijual saja."
Lisa menggebrak meja. "Kamu jangan membual!"
"Aku bicara apa adanya. Bagiku perhiasan itu hanya harta kecil. Kalian tau sendiri siapa aku sebenarnya," ucap Sara.
"Sombong! Sampai kapan pamor keartisanmu itu. Aku pastikan kariermu akan hancur," kata Lisa.
Sara malah tertawa. "Silakan saja. Semakin banyak skandal malah bagus. Namaku menjadi terkenal."
"Diamlah!" bentak Belinda.
Lisa dan Sara diam. Belinda tetap memasang senyum di bibir, dan Sara ingin sekali menonjok wajah wanita itu. Dibalik kecantikannya, tersirat kelicikan. Semalam ingin memberi perhiasan, lalu sekarang malah ingin menukarnya.
"Sayang, Mama sangat menyukai batu zamrud dan rubi. Bisakah kamu memberikannya?" tanya Belinda.
"Jika Mama masih ingin bersikeras, aku akan menelepon Saka dan membatalkan penjualannya. Dengan senang hati aku akan memberikan semua milikku," jawab Sara.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku senang dengan kedatanganmu."
Belinda memeluk Sara sekaligus mengecup keningnya. Setelah itu pamit pulang. Masih tersenyum, Sara melambaikan tangan kepada mertua dan tantenya.
Selesai melihat kepergian kedua wanita dewasa di rumahnya, Sara lekas masuk dengan mengunci pintu. Ia baru saja berpikir buruk mengenai keluarga suaminya, dan tanpa diduga semua itu malah terjadi.
"Gila! Apa yang kamu katakan benar terjadi. Mereka menginginkan perhiasanmu," ucap Dini yang muncul dari dapur.
Sara menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. "Aku seperti keluar dari lubang buaya, lalu masuk ke kandang singa."
Lepas dari Indra, Sara menikahi Saka yang memiliki latar belakang yang luar biasa. Ini lebih parah dari sang mantan. Entah apalagi yang akan terjadi setelah ini. Lebih baik dari awal mereka menolak harta dari Ayu Prameswari.
"Semalam dia berniat memberiku perhiasan. Rupanya tujuannya untuk mengambil milikku," ucap Sara.
"Setelah ini bagaimana?" tanya Dini.
"Aku harus bicarakan ini kepada Saka."
"Lebih baik begitu. Mereka pasti tidak percaya begitu saja atas ucapanmu. Aku sarankan menurut saja," ucap Dini.
Sara terduduk di sofa dengan menengadahkan kepalanya. "Satu lagi yang harus kamu tau. Aku membenci Saka."
Mata Dini terbelalak. "Maksudmu? Bukannya kamu cinta mati dengannya?"
"Memang, tetapi masa lalunya membuatku sakit hati. Dia seorang pemain wanita, Din. Aku membenci fakta itu."
"Aku kira Saka sudah punya istri lagi atau apalah. Rupanya pemain cinta."
"Kamu tidak marah?" tanya Sara.
"Kenapa mesti marah? Saka melakukan itu sebelum kenal denganmu. Sekarang apa dia melakukan hal yang sama?" cerca Dini.
Sara mengedik. "Entahlah. Aku rasa tidak. Tapi aku takut hobi itu akan menjadi kebiasaan."
"Menurutku tidak. Maksudku Saka mungkin berkencan bersama mereka, tetapi tidak menjalin hubungan. Beda dengan seseorang yang memiliki kekasih, tetapi masih bermain wanita. Nah, itu kamu harus waspada."
"Apa benar begitu?" tanya Sara.
"Aku tidak tau. Intinya kamu harus terima masa lalu Saka. Kalau dia berani mengkhianati dirimu, maka aku tidak akan memaafkannya. Aku sendiri yang akan memisahkan kalian."
Sara langsung memeluk Dini. "Aku sayang kamu."
"Aku tidak," sahut Dini.
...****************...
Belinda melempar tas ke sofa dengan kesalnya. Ia mengambil vas bunga, lalu membantingnya ke dinding.
"Tenanglah," kata Lisa.
"Aku tidak percaya mereka menjualnya," ucap Belinda.
"Oh, ayolah. Itu hanya perhiasan kecil. Itu saja masih ingin kamu perebutkan."
"Mama memberikan perhiasan paling mahal miliknya. Aku kira dia akan memberikan apa yang kuinginkan. Rupanya tidak sama sekali. Sara adalah anggota baru keluarga, dan mama malah menyayanginya. Dari dulu mereka tidak sayang padaku. Sejak kejadian aku hamil bersama Bernad, mereka telah mengabaikanku sebagai anak," ungkap Belinda.
"Aku heran, bukannya Bernad sangat kaya. Kenapa Saka seperti orang miskin?" tanya Lisa.
"Memangnya aku tau apa yang terjadi dengan dirinya? Saka juga tidak menceritakan kehidupannya di sana. Aku tidak peduli dengan ayah dan anak itu. Aku bersyukur Saka dibawa pergi olehnya."
Orang yang membawa Saka ke luar negeri adalah Bernad. Ayah kandung dari Saka sendiri. Belinda sangat ingat tatapan dan ancaman Bernad kepadanya. Sampai sekarang hal itu menjadi momok yang menakutkan untuknya.
"Seumur hidupmu akan dipenuhi penyesalan. Sebagai daddy-nya, aku tidak terima dia diperlakukan seperti ini. Dia akan datang membalas semua perbuatanmu. Jika Saka tidak mau, maka aku akan memaksanya melakukan itu," ucap Bernad
Bersambung