Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Tersirat



Keduanya terdiam selama perjalanan, baik Saka dan Sara masing-masing dalam pemikiran mereka. Sara yang terluka karena Indra dan Saka yang terluka karena istrinya.


Saka mengerti jika wajar Sara terluka karena Indra adalah pria yang dicintai wanita itu. Hubungan mereka telah jauh sebelum kehadiran dirinya. Namun, Saka bukan pria yang berbaik hati. Ia tidak mau Sara terus mengingat Indra. Di dalam kepala dan hati istrinya, harus ada namanya. Betapa pun susahnya Saka mengikis nama Indra, ia akan berusaha.


"Kita mau ke mana? Malam ini terasa buruk," cetus Saka.


Sara melirik suaminya. Salahnya yang sedari tadi mengabaikan Saka. Pria itu tentu terluka, Sara membuat keadaan mereka dalam situasi tidak mengenakkan.


Sedari tadi ia memang memikirkan Indra, kenangan manis bersama sang mantan yang sesaat membuat Sara begitu bahagia. Kenapa bisa begini? Sara membenci pihak-pihak yang menghambat kesenangan hidupnya. Namun, ia juga ingat perih yang ditinggal Indra.


Sudah cukup janji manis yang selalu Indra katakan. Mengingatnya sudah menyakinkan Sara kalau Indra sebenarnya tidak serius bersamanya. Sementara Saka, pria yang menawarkan kepastian meski Sara memiliki keraguan tentang latar belakang pria itu.


"Apa aku keterlaluan?" tanya Sara.


"Maksudmu?"


"Aku bicara kasar kepada Indra," kata Sara.


"Dia memang pantas mendapatkannya. Jika dia mencintaimu, dia akan membuatmu keluar dari situasi yang menyulitkan. Cinta boleh saja, tapi gunakan logikamu. Selama ini siapa yang banyak berkorban, kamu apa dia?"


"Bicara logika, aku juga tidak akan menerimamu."


"Masalahnya apa? Aku tampan, pekerja keras, apalagi yang kurang?" tanya Saka.


"Kamu menikahi seorang model ternama."


Saka membisu, ia terlupa kalau Sara bukanlah orang biasa. Kehidupan mereka jauh berbeda dan ia menyadari kesenjangan ini. Cinta? Dalam rumah tangga memang penting, tetapi penghidupan yang layak dituntut di sini.


Setiap apa yang Sara lakukan pasti tersorot kamera. Bagaimana kalau publik tahu Sara menikahi pria yang hidup hanya mengandalkan warisan yang tidak seberapa, bahkan uang itu tinggal sedikit.


"Kamu akan menyembunyikan pernikahan kita?" tanya Saka.


"Tentu saja tidak. Kamu suamiku dan harus diperkenalkan. Tapi aku tidak mau kehidupan rumah tangga menjadi konsumsi publik," jawab Sara.


Memberitahu kepada semua, tetapi menyembunyikan hal sebenarnya. Saka memiliki dua paham atas pernyataan Sara. Pertama, seperti artis lainnya tidak ingin terbuka atas rumah tangga mereka. Namun, artis seperti itu memiliki suami dengan latar belakang menakjubkan. Kedua, Sara memang ingin Saka tidak dikenal oleh penggemar karena suaminya tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. Bisa jadi Sara ingin nama baiknya tetap terjaga.


"Aku akan tetap di sampingmu apa pun yang terjadi," ucap Saka.


Saka tidak peduli nantinya bagaimana. Ia adalah suami dari Sara. Mau dikenalkan atau tidak, bukan masalah. Saka menikahi Sara karena ia mencintai diri wanita itu, bukan karena kepopulerannya.


Sara mengusap lengan Sara. "Aku tau itu."


"Jadi, kita langsung pulang atau bagaimana?" tanya Saka.


"Terserah!"


"Kok, terserah? Di rumahmu ada Dini. Aku malu untuk bermesraan," ucap Saka.


Sara tertawa kecil. "Di hotel lebih bahaya lagi. Nantinya ada kabar yang tidak mengenakkan."


"Pulang saja ke rumahmu. Besok, aku akan pergi mencari rumah sewa."


Saka melajukan kendaraan roda empat menuju kediaman Sara. Saat ini hanya rumah Sara yang menjadi tujuan. Besok, Saka akan mencari rumah untuk mereka berdua karena memiliki kediaman pribadi akan menyempurnakan pernikahan.


...****************...


Ia senang Sara sudah mundur dalam kehidupan pernikahan mereka. Merdeka sudah ia dapatkan. Velia kini bisa mendapatkan Indra seutuhnya, tetapi apalah daya dari itu semua jika sang pemilik hati enggan untuk melepaskan tambatan hatinya.


Secara luar pernikahan mereka akan harmonis dengan tidak adanya pihak ketiga. Namun, di dalam kenyataannya, Velia masih belum mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Ini sama saja seperti dulu, bahkan parah karena keputusan Sara membuat sisi tergelap Indra muncul.


Bisa saja dengan putusnya hubungan sepasang kekasih ini akan membuat orang lain terluka. Velia sudah mendapati kekasaran Indra pada fisiknya. Pergelangan tangannya terasa sakit ketika pria itu mengusirnya. Velia sempat beradu argumen, membantah, menyadarkan suaminya, tetapi yang ia dapat malah cengkeraman menyakitkan.


"Sebenarnya aku harus bagaimana lagi? Dia suamiku," gumam Velia.


Velia tidak tahan untuk menekan gagang pintu, ia masuk ke dalam kamar. Indra menoleh setelah itu memalingkan wajahnya.


"Maafkan aku," ucap Velia.


"Kenapa minta maaf?"


"Semua ini karena perjodohan kita. Andai aku tidak menyetujui pernikahan ini, pasti kamu bisa bersama Sara."


Indra sendiri tidak yakin dengan semua itu. Orang tuanya sedari awal tidak setuju kalau ia menjalin hubungan bersama Sara. Terlebih sang kekasih tidak memiliki latar belakang jelas.


Selain berbisnis, Indra juga akan terjun ke dunia politik. Skandalnya bersama Sara sudah membuat citranya buruk. Bersyukur Velia hamil kembali. Kemesraan keduanya mendapat dukungan positif dari publik.


"Maafkan aku yang membuat tanganmu sakit," ucap Indra.


"Aku merasa baik-baik saja."


"Kemarilah," ucap Indra dengan mengulurkan tangannya.


Velia ragu untuk menyambut, ia memandang Indra yang tersenyum, lalu dengan sedikit kecemasan Velia meraih tangan suaminya. Indra mengecup pergelangan istrinya yang memerah.


"Maafkan aku," ucap Indra.


"Aku sudah baikan."


"Aku sedikit emosi karena Sara tadi. Setelah kupikir-pikir, memang kami harus putus. Sara butuh seseorang yang bisa menghargainya. Selama ini aku hanya bisa menuntutnya. Dia sudah berkorban perasaan selama ini, dan aku bersalah padanya," ungkap Indra.


"Maksudmu?" tanya Velia.


"Sara sudah menikah, dan aku merelakannya," jawab Indra.


"Kamu bersungguh-sungguh?"


Indra mengangguk. "Iya, aku sudah memilikimu dan anak-anak. Kita fokus saja pada rumah tangga kita."


Velia langsung memeluk suaminya. "Terima kasih, Indra. Aku sangat bahagia mendengarnya."


Tunggu sampai aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Setelah itu, aku akan datang dengan merebut Sara dari tangan pria itu. Sara adalah cinta dan hidupku. Sampai mati pun, aku tidak akan melepasnya.


"Istirahatlah. Kamu pasti lelah menjagaku. Kasihan anak kita," kata Indra sembari mengusap perut istrinya.


Velia tersenyum. "Kamu juga."


Bersambung