
Saka terperangah ketika Sara tiba-tiba saja datang memeluk dirinya. Tidak peduli di depan Dini, istrinya itu sepertinya sedikit aneh. Khususnya hari ini, Sara sangat ingin dimanja.
"Aku baru datang, Bee. Biarkan aku cuci tangan dan wajahku dulu," kata Saka.
Sara menarik diri memandang suaminya. "Cepatlah, setelah itu kita makan bersama. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu."
"Sepertinya ada hal-hal yang membuatmu gelisah."
Sara mengangguk. "Jelas dan mengubah mood-ku saat ini. Aku marah dan ingin mencincang seseorang."
Saka melotot. Apa istriku punya sisi psychopath? "Tunggu aku di ruang makan. Aku ganti pakaian dulu."
Sara seakan tidak rela melepas pelukan tubuhnya. Ia ingin menempel bersama Saka dan tidak mau melepas. Hasratnya menggebu-gebu, ia ingin sekali berada di bawah kurungan Saka, dipermainkan dengan indra perasa yang menggelitik kemudian didesak dengan sesuatu yang tumpul, tetapi keras.
"Astaga! Saka hanya ingin ganti baju. Kamu malah akan menangis," celetuk Dini.
"Siapa yang akan menangis?" Sara memandang Dini. "Apa aku punya kelainan?"
"Kamu punya penyakit?" tanya Dini.
Sara mengedikan bahu. "Entahlah. Apa aku harus ke dokter spesialis?"
"Apa maksudmu?" tanya Dini.
"Aku ingin terus ditiduri oleh suamiku."
Dini terperangah. "Apaan, sih? Pikiranmu saja yang aneh."
"Seriusan. Aku ingin dipeluk, dikecup, dibelai, di .... "
"Cukup! Jangan mengotori pikiranku. Jika kamu ingin melakukan sesuatu yang liar, lebih baik aku pulang," kata Dini.
"Jangan! Kamu janji buat makan siang bersamaku."
"Kalau begitu, hentikan obrolan menjijikkan ini," ucap Dini. "Sudah tau aku ini jomlo, tetapi malah bicara yang malah membuat bagian bawahku basah."
Sepanjang jalan menuju dapur, Dini menggerutu karena ucapan Sara. Ia belum berniat untuk melepas keperawanannya untuk saat ini, tetapi Sara selalu saja menceritakan hal yang membuat penasaran.
Saka selesai membersihkan diri. Tadinya ia tidak berniat untuk mandi, tetapi Sara senang sekali memeluknya, dan untuk itulah ia harus membasuh diri dari kuman jalanan yang menempel di tubuh.
"Sepertinya kalian memasak sesuatu yang istimewa," ucap Saka, ketika melihat menu makanan yang tidak biasanya.
"Entah apa yang terjadi pada istrimu. Dia memasak menu yang berbeda," sahut Dini.
"Aku tidak ingin makan menu sehat hari ini. Aku ingin menikmati kehidupan," kata Sara.
"Ingat untuk menjaga bentuk tubuhmu," pesan Dini.
"Aku tidak makan nasi hari ini. Kamu jangan khawatir."
"Jika naik satu angka saja, aku akan menyuruhmu untuk diet. Kita masih ada beberapa kontrak yang memerlukan fisik sempurna sepertimu," ucap Dini.
"Ayolah! Kita tengah di meja makan. Sebaiknya mengisi perut dulu setelah itu ceritakan kepadaku apa yang kalian lakukan selagi aku tidak berada di rumah," kata Saka.
Ketiganya mengangguk kemudian menyantap menu makan siang yang telah Dini dan Sara siapkan. Sara sama sekali tidak menyentuh nasi, ia mengonsumsi daging dan sayur serta buah.
"Makan nasinya, Bee," ucap Saka.
"Jangan takut pada Dini. Aku ini suamimu. Makan nasi sehari tidak akan membuat berat tubuhmu naik. Ini juga nasi merah."
"Berikan aku enam sendok makan nasi," pinta Sara.
Saka memberi apa yang diminta, dan Sara langsung menghabiskan nasi pemberian suaminya. Dini tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Saka. Sebagai sahabat, ia tidak ingin Sara tersiksa, tetapi Sara bekerja sebagai model yang mengharuskan bentuk tubuh sempurna.
Selesai makan, ketiganya berkumpul di ruang tamu. Dini membuat jus jeruk sebagai teman obrolan mereka.
"Ada apa, Bee?" tanya Saka.
"Tadi mama dan tante Lisa kemari," jawab Sara.
Sara dan Dini saling memandang. Saka sepertinya tidak kaget, bahkan pria itu malah tertawa kecil sembari memukul meja hingga Sara dan Dini mengangkat gelas mereka.
Jelas Saka tidak kaget jika keduanya datang ke rumah sewa. Saka juga sudah memperkirakan hal itu. Tidak peduli dari mana Belinda tahu alamat rumahnya, yang jelas Saka sudah memastikan gerak-geriknya sudah diawasi.
"Kamu sudah gila, ya?" ucap Dini kesal.
"Sudah kuduga. Mereka datang pasti ingin meminta perhiasanmu."
Sara mengangguk. "Mama minta batu permata."
"Wanita itu sama sekali tidak berubah. Dengan wajah memelas serta alasan menyukai benda tersebut, kita merasa tidak mudah untuk menolaknya. Dia juga melakukan hal itu kepadaku dulu."
"Mama bilang kalau dia menyukai batu zamrud dan rubi," kata Sara.
Saka berdecak, "Memang seperti itulah dia. Jika tidak diberikan, maka kita akan terus diganggu."
"Berikan saja, Boo. Aku tidak mau kita berurusan dengan mereka."
"Kita harus memberikan semuanya kepada mereka, Bee. Setelah surat wasiat itu jadi, maka pasti mereka akan datang lagi meminta harta itu," kata Saka.
"Jadi, bagaimana?" tanya Sara.
Saka bisa saja memberikan semuanya, tetapi orang-orang serakah seperti Belinda dan keluarga akan menganggap remeh Saka. Mereka pasti akan terus mengusik, meski sudah mendapatkan apa yang diinginkan.
"Jika kamu tidak keberatan, berikan ibuku satu permata untukmu," kata Saka.
"Tapi itu milik Sara! Kamu memilih ibumu daripada istri sendiri," sela Dini.
"Mereka akan datang lagi kemari jika kita tidak memberikannya. Berikan satu untuknya, Bee. Aku janji akan menggantinya," ucap Saka.
Sara mengangguk. "Baiklah. Aku juga tidak bisa menolak permintaan mama."
"Keluarga kalian sangat aneh. Kenapa orang kaya sangat serakah?" ucap Dini.
"Sudahlah, Din. Kamu tidak dengar apa yang mama Belinda katakan. Dia sangat mengharapkan permata dariku," sahut Sara.
Dini menghela. "Benar juga. Kita mengatakan kalau Saka pergi menjualnya, tetapi aku sangat yakin sekali pasti ibu mertuamu tidak percaya begitu saja."
"Boo, aku hanya memberi satu permata saja. Barang itu sudah diberikan kepadaku, dan aku sangat tidak menyukai sesuatu milikku diambil begitu saja," kata Sara.
Saka tersenyum, lalu mengangguk. "Baik, Bee. Jangan khawatir. Aku yakin sekali mereka tidak akan datang lagi kemari untuk mengambil milik kita."
Bersambung