
Sara terbangun, dan tidak mendapati suaminya berada di sisi samping tempat tidur. Segera ia turun dari ranjang menuju lemari pakaian. Sara harus menggulung seprai yang terciprat ****** ***** dari keduanya, lalu mengganti dengan yang baru.
Selagi membereskan tempat tidur, Saka masuk ke dalam kamar. Pria itu sudah rapi dan wangi. Melihat itu, Sara berlari agar bisa merengkuh tubuh suaminya.
"Mandi sana," kata Saka.
"Aku beresin tempat tidur dulu."
"Biar aku saja. Kamu lekas mandi setelah itu kita makan."
"Apa kamu membuat makanan tanpa rasa?" tanya Sara.
Saka menaikkan sebelas alisnya. "Bukannya itu adalah menu kesukaanmu?"
Saka sudah membuatkan menu keseharian Sara, yaitu dada ayam tanpa kulit serta sayuran yang cuma direbus. Sama sekali tidak berbumbu, dan jus buah yang boleh diminum sebelum pukul sembilan malam. Saka juga membuatkan istrinya infused water dari lemon untuk bekal saat istrinya bekerja.
Sara membelai wajah Saka dengan jari telunjuknya. "Suamiku sayang, bisakah malam ini kita makan di luar?"
"Kamu ingin makan di restoran?" tanya Saka.
Sara menggeleng. "Aku ingin makan sesuatu yang berkuah, asam, gurih, dan pedas. Aku juga ingin minuman dingin."
Saka tampak berpikir. "Asam, gurih dan pedas. Makanan apa?"
"Bisakah kita makan soto? Baso juga nikmat," jawab Sara sembari meringis. "Mulutku berliur membayangkannya. Aku ingin makan soto dengan kuah yang dicampur jeruk nipis."
"Tentu saja akan kukabulkan, tetapi Dini akan marah," kata Saka mengingatkan jika Sara tidak boleh sembarangan makan.
Sara melepaskan pelukan dan mundur dua langkah. "Kenapa kamu mirip dengan Dini?"
"Bukan begitu. Kalau kamu ingin makan soto, lekaslah mandi. Kita makan di luar."
Sara kembali memeluk Saka dan mengecup seluruh wajah pria itu. "Terima kasih, Boo."
Saka menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat tingkah dari istrinya. "Dia berubah jadi kucing betina. Aku semakin menyukainya."
...****************...
Hanya pakaian sederhana saja yang Sara kenakan untuk kencan mereka malam ini. Tidak lupa jaket, topi serta masker tutup mulut yang melindungi dirinya dari kilatan kamera yang bisa saja diam-diam mencuri gambar.
Sara dan Saka singgah di rumah soto di kawasan Jakarta. Soto ayam ditambah es teh manis menjadi menu makan malam keduanya. Melihat semangkuk panas soto yang menggugah selera, Sara lekas memberi perasan jeruk nipis dan dua sendok cabai yang membuat mata Saka terbelalak.
"Astaga! Nanti kamu sakit perut," kata Saka.
"Ini enak," sahut Sara, dengan menyeruput kuah yang menurutnya sangat lezat.
Karena penasaran, Saka mengaut satu sendok kuah dari mangkuk Sara dan merasainya. Matanya menyipit, mulut meringis dengan rasa kuah yang sangat kecut dan pedas.
"Ganti. Enggak boleh makan ini," ucap Saka.
"Ini enak. Aku akan menghabiskannya."
"Dengarkan aku, Sara. Ini makanan racun. Rasanya sangat asam dan pedas. Kamu ingin sakit perut?" Saka menjauhkan mangkuk soto istrinya.
"Tapi aku ingin memakannya," tekadnya mempertahankan.
Saka mengusap rambut istrinya. "Ganti, ya. Jangan terlalu pedas dan asam."
Sara mengangguk pasrah. "Baiklah."
Saka tersenyum, lalu memanggil kembali pelayan agar memberikan satu mangkuk soto ayam lagi.
Selesai makan malam bersama, Sara langsung meminta pulang. Tumben sekali sang istri tidak mau diajak jalan-jalan. Sara mengatakan kalau dirinya ingin segera pulang dan tidur.
"Boo, kita tidur, yuk," ajak Sara.
"Iya, ini juga mau tidur," sahut Saka.
"Kita main dulu, Sayang."
Sara mengangguk. "Kenapa? Kamu enggak mau?"
"Bukan, bukan, aku mau, kok. Ayo, kita lekas tidur."
Saka lekas membawa Sara ke tempat tidur, lalu melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Tubuh keduanya berkeringat, desakan yang terus masuk membakar gairah keduanya.
Saka terengah-engah setelah menuntaskan permainannya. "Kamu lekas tidur."
Sara memeluk suaminya. "Enggak mau. Masih belum ngantuk."
Sara kecup pundak bidang suaminya. Saka terpejam, membiarkan Sara memperlakukan dirinya dengan lembut. Kecupan itu malah turun ke bawah, jemari lentik Sara memegang keperkasaan yang tengah berada dalam kondisi lemah.
"Sayang, aku perlu mandi," kata Saka.
"Nanti dulu. Aku masih mau kamu."
Saka menjauhkan tangan Sara dari miliknya, menarik diri agar sang istri tidak menindih tubuhnya. Ia berusaha untuk bangun, tetapi semua itu sia-sia. Sara menarik rambut Saka agar kepalanya terbenam di antara dua belahan keindahan yang puncaknya telah menegang kembali.
"Lepaskan aku, Bee," pinta Saka.
"Enggak mau. Aku masih mau," kata Sara.
Saka tidak bisa bernapas ketika Sara memeluk kepalanya erat. Ia mengeliat agar terlepas dari jeratan sang istri.
"Aku kehabisan napas," kata Saka.
Sara mendorong Saka agar berbaring kembali. Segera ia duduk di atas pangkuan Saka agar suaminya tidak bisa lari ke mana pun.
"Aku masih mau kamu," pinta Sara.
"Iya, iya, aku layani kamu."
Saka menuruti keinginan sang istri, melayani Sara sebaik mungkin hingga mencapai puncak berkali-kali. Sara terpuaskan, tetapi Saka berada di ujung tanduk. Tenaganya terkuras habis, pinggangnya sudah sakit, dan tidur menjadi alasan agar permainan ini selesai.
Keheningan melanda, Saka membuka mata dan menoleh ke sisi samping. Sara sudah terlelap dengan tubuh polos. Dalam hati Saka berucap syukur, dan segera bangkit dari tempat tidur.
"Apa akhir-akhir ini aku jarang berolahraga? Dua ronde saja aku sudah tidak sanggup," ucap Saka sembari memijat pinggangnya.
...****************...
Pagi hari, Saka merasakan tubuhnya tidak lagi bertenaga. Lelah semalam bermain, Sara masih meminta dilayani waktu keduanya bangun pagi. Saka kehilangan tenaga terbesarnya. Sebagai lelaki ia takluk atas keagresifan sang istri. Untung saja pagi tadi Dini lekas datang dan membawa istrinya pergi bekerja. Jika tidak, Saka yakin akan terus dikurung di dalam kamar.
Bel rumah berbunyi. Dengan berat hati Saka beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu. Ia tahu siapa yang datang karena Saka telah mengirim pesan kepada Azka agar membawa tukang pijat.
"Syukurlah kamu datang," ucap Saka.
"Nih, aku bawa tukang urut. Kamu sakit?" tanya Azka yang langsung melangkah masuk bersama seorang pria yang berprofesi sebagai tukang pijat.
"Aku kelelahan," jawab Saka.
Dahi Azka berkerut. "Kamu, sih. Cari penumpang kebanyakan."
"Bukan masalah itu."
"Lalu apa?" tanya Azka.
"Dikeroyok sama Sara. Dari siang kemarin terus malam, lalu lanjut lagi ke pagi. Ambruk tenagaku."
Azka dan tukang pijat tertawa mendengar penuturan Saka. Kelelahan karena aktivitas tempat tidur akan membuat keperkasaan seorang pria dipertanyakan.
"Jangan kalian kira aku lemah. Istriku sangat ganas," ucap Saka.
"Hebat! Aku harus belajar darimu," sahut Azka. "Nah, lebih baik kamu lekas dipijat. Siapa tau Sara pulang langsung minta jatah lagi."
Saka menggeleng. "Ampun, dah. Sara jadi ganas akhir-akhir ini."
Bersambung