Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Pindah



"Masih marah?" tanya Sara.


Sara meletakkan nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya juga segelas air putih di meja. Saka tidak berniat makan bersama sejak terganggunya kegiatan tadi.


"Aku cuma malas untuk bertemu dengannya," jawab Saka.


"Dia sahabat sekaligus manager, dan merangkap sebagai asisten."


"Bilang saja Dini juga berperan sebagai orang tuamu," ucap Saka.


Sara tersenyum. "Bisa dibilang begitu. Dia yang selama ini bersamaku."


"Dia tidak punya pacar?" tanya Saka.


"Dini tidak punya pacar. Dia selalu berada di rumah. Kadang aku menyuruhnya untuk menikmati masa cuti. Dia bilang kalau aku adalah satu-satunya teman untuknya," tutur Sara.


Saka memandang istrinya. "Bee, kamu tidak berpikir ada yang aneh dengan Dini? Bisa jadi dia menyukaimu. Dia tidak suka kepadaku dan menganggu kita karena memang Dini itu mencintaimu."


Sara tercengang. Teori yang sangat masuk akal sekaligus mengada-ada. Karena Dini tidak terlihat bersama seorang pria, maka ia menyukai seorang wanita.


"Seharusnya kamu mandi lagi agar pikiranmu bersih."


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Bisa jadi, kan? Dia menyukaimu," ucap Saka.


Sara menepuk kening. "Kamu kira Dini wanita belok? Dia tidak seperti itu. Aku tau siapa sahabatku sebenarnya."


"Maksudku bukan dalam arti tanda kutip. Bisa jadi, sebagai seorang sahabat, Dini takut kehilangan dirimu. Dia ingin kamu selalu ada bersamanya."


"Hentikan omong kosongmu! Kamu kira Dini sakit apa? Jangan banyak nonton film aneh," kata Sara. "Sekarang, habiskan makan malammu setelah itu bantu aku membereskan pakaian."


"Aku hanya asal nebak saja. Dia wanita sibuk yang selalu mencampuri urusan sahabatnya," gumam Saka.


Sementara menunggu Saka menghabiskan makanannya, Sara mengeluarkan beberapa pakaian yang akan ia bawa untuk pindah ke rumah baru.


"Apa kita perlu pelayan untuk rumah baru?" tanya Sara.


"Rumahnya tidak terlalu besar. Aku bisa mengerjakan urusan rumah tangga. Kamu tidak perlu khawatir soal itu."


"Kita harus membagi jadwal kalau begitu. Aku akan membantumu dalam mengurus rumah," ucap Sara.


Saka meletakkan piring kosong yang sudah ia lahap habis isinya kemudian meneguk air putih sampai setengah.


"Bee, aku ingin dirimu. Tadi adegannya terganggu," kata Saka.


"Kamu baru saja selesai makan." Sara mengambil tisu di meja rias, lalu menyeka bibir Saka. "Kamu saja belum membersihkan mulutmu."


"Sekarang kamu sudah bersih. Saatnya bermain."


Sara mendorong wajah Saka yang ingin menyosor dirinya. "Bantu aku bereskan pakaian setelah itu baru bermain. Aku tidak ingin baju-baju ini terkena cairan milikmu."


"Kamu mau hamil?" tanya Saka tiba-tiba.


Sara mengerutkan kening. "Ada apa dengan pertanyaanmu itu?"


"Kamu seorang model. Apa boleh hamil?"


"Tentu saja boleh. Ini bukan debutku pertama kali. Aku sudah boleh menikah dan memiliki anak. Umurku juga cukup untuk keduanya. Lagian aku tidak terikat agensi mana pun," jawab Sara.


"Nah, kalau begitu aku tidak akan ragu untuk menanam benih di rahimmu," ucap Saka dengan senyum nakalnya. "Ayo, Sayangku. Kita bertempur lagi."


Sara didorong hingga terjatuh di tempat tidur. Saka membuka pakaiannya dan melucuti baju yang Sara kenakan. Selanjutnya Sara hanya pasrah dengan apa yang terjadi.


...****************...


Besok paginya, Sara, Saka dan Dini mengunjungi rumah baru. Sara bersama Dini berangkat dengan kendaraan roda empat karena Sara akan langsung pergi ke tempat kerja. Sementara Saka mengendarai motor matic miliknya.


"Lumayan juga rumahnya. Tidak terlalu besar. Cukuplah untuk kami berdua," kata Sara.


"Dari luar memang tampak bagus. Kondisi lingkungan rumahnya juga sama seperti kediaman lama," sahut Dini.


Dini menoleh ke jalan, melihat motor putih menuju ke arah mereka. "Itu suamimu."


Saka menghentikan motornya tepat di depan pintu gerbang rumah. Ia membuka helm. "Maaf, tadi aku mampir ke minimarket." Saka menunjukkan dua kantung belanjaan di tangannya.


"Berapa uang sewa perbulannya?" tanya Sara.


"Tiga jutaan. Ayo, kita masuk," ucap Saka.


Gerbang dibuka, Dini membantu Sara menyeret dua koper ke halaman rumah. Di luar terdapat taman sederhana, sangat cocok untuk bersantai. Saka mempersilakan keduanya masuk, menjelaskan beberapa fasilitas yang ada di rumah itu.


"Bagus," ucap Dini.


"Benar. Rumahnya cukup nyaman," sahut Sara. "Tidak terlalu besar. Aku tidak akan lelah untuk mengurusnya."


"Baguslah kamu suka," kata Saka.


"Uang sewanya tiga juta sebulan. Kamu mampu untuk membayarnya, Saka?" tanya Dini.


"Dini! Aku akan membayar uang bulanannya. Saka belum punya pekerjaan," sahut Sara.


"Artinya, kamu tidak jadi mundur dari dunia hiburan?"


"Sepertinya istriku terbalik," kata Saka.


"Terbalik bagaimana?" tanya Sara.


"Dini begitu cerewet seperti seorang istri yang marah jika suaminya tidak bisa memenuhi kebutuhannya," jawab Saka. "Mungkin juga Dini ini adalah ibu mertuaku yang jahat karena aku tidak bisa membahagiakan putrinya."


Sara tidak dapat menahan gelak tawanya. "Kamu benar, Boo. Dini memang sangat bawel."


"Aku itu cuma bertanya," bantah Dini.


"Aku bukan pria yang akan menikahimu, Dini. Tidak perlu untuk membuktikan seberapa hebat diriku di hadapanmu. Aku sudah menikahi Sara, wanita yang menerima kekuranganku," ucap Saka.


"Jika di dunia ini hanya ada satu pria, maka aku juga tidak akan mau menikah denganmu!" kata Dini.


Sara tertawa, "Suamiku ini sangat tampan, Din. Dia juga jago di atas tempat tidur. Tapi dia sudah menjadi milikku dan aku tidak akan pernah membaginya."


"Kalian bicara apa, sih? Kenapa melantur ke mana-mana?" ucap Dini kesal, lalu keluar dari rumah.


"Akhirnya, dia pergi juga," kata Saka.


"Boo, jangan khawatir. Kita dapat membayar uang sewanya bersama-sama. Ini rumah kita, kehidupan kita," ucap Sara.


Saka memandang Sara lekat. Istrinya tidak menggunakan kata 'aku, tetapi kita ' Artinya, Sara ingin semua dilakukan secara bersama-sama. Sara menghormatinya, memberi peluang agar Saka turut andil dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Uang senilai tiga juta rupiah bukan hal besar untuk Sara. Itu uang jajannya dalam sehari. Sara bisa saja membayar sewa rumah sepenuhnya, tetapi istrinya itu menghargai dirinya. Sara ingin Saka terlibat di dalamnya.


"Iya, Bee. Kita bisa membayar uang sewanya bersama-sama, tetapi untuk tahun depan," kata Saka.


"Apa tahun ini kita menempati rumah ini secara gratis?" tanya Sara.


"Mana ada yang gratis. Aku membayarnya selama setahun."


"Uang dari mana? Warisan kakekmu?"


Saka mengangguk. "Begitulah."


"Kamu tidak pernah mengatakan berapa uang yang kamu punya."


"Sisa uangnya tinggal Dua puluh juta, dan ini uang untukmu. Segini saja dulu," kata Saka dengan menyerahkan sepuluh lembar uang merah kepada Sara.


"Ini sudah terlalu banyak, Boo. Terima kasih. Uang ini akan aku simpan. Ini pemberian pertamamu," ucap Sara.


Apa dia Sara si model ternama? Uang satu juta rupiah saja dia begitu senang. Aku sangat malu menyerahkan uang sedikit itu kepadanya.


Bersambung