Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Tidak Membiarkan



Dini tidak tahu apa yang terjadi pada Sara kali ini. Sahabatnya itu hanya mau bekerja jika telah diberi makan sepotong ayam dan kentang goreng. Makanan berminyak akan membuat tubuh Sara melebar. Dini cukup toleransi untuk kemarin, tetapi hari ini tidak akan.


"Setelah kamu menyelesaikan pekerjaan, kamu boleh makan apa pun. Aku tidak mau sampai pakaian yang sudah dipersiapkan menjadi kekecilan. Ayolah, Sara. Apa yang terjadi padamu?" gerutu Dini.


"Sehari makan junk food tidak akan membuat tubuhku melebar," sahut Sara.


"Aku tau itu. Memang tidak akan membuat tubuhmu melebar dalam sekejap, tetapi akan keterusan. Jika sampai ada masalah dalam sesi pemotretan, aku tidak akan bertanggung jawab."


"Hanya sekali saja," pinta Sara memelas.


"Aku tidak peduli. Lakukan pekerjaanmu dengan benar, maka aku akan berikan sepuluh potong ayam goreng. Terserah kamu akan muntah setelah memakannya, tetapi aku mohon .... "


Dini menyatukan tangan dihadapan Sara agar sahabatnya mau menuruti semua yang ia katakan. Pemotretan pakaian dari salah satu brand ternama sangat penting bagi Sara, dan tampil di salah satu majalah fashion luar negeri merupakan kesempatan emas. Dini tidak akan menyia-yiakan hal itu.


"Lakukan semua pekerjaanmu, Sara. Aku bukan sahabatmu sekarang, tetapi manager-mu!" kata Dini tegas.


Sara terperangah atas ucapan Dini. "Oke, aku setuju untuk sepuluh potong ayam goreng. Aku akan bekerja dengan profesional."


"Jika kamu bertingkah lagi, aku akan mengatakan ini kepada Alvin. Kamu tau sendiri dia hanya menuntut kesempurnaan," ucap Dini.


"Jangan beritahu fotografer itu. Aku akan lakukan semua perintahmu."


Dini segera memerintahkan penata busana dan rias untuk menyiapkan Sara. Pemotretan segera dilakukan, dan perancang busana serta penanggung jawab akan hadir sebentar lagi.


Sara sudah siap dengan pakaian yang ia kenakan. Setelan kemeja berwarna hijau melekat di tubuh indahnya. Kemeja tanpa dalaman yang menampakan kesan terseksi dari Sara. Rambutnya sengaja dibiarkan terurai dan menjadikan Sara sangat sempurna di depan kamera.


"Bagus, Sara. Aku suka gayamu," ucap Alvin.


"Terima kasih, Alvin," balas Sara.


"Kita cukupkan sampai di sini. Tinggal dua kali pemotretan, dan aku tidak mau kamu membuatku kecewa."


Sara melambaikan tangan, menganggap perkataan Alvin hal remeh. "Aku ini Sara. Membuatmu kecewa tidak ada dalam kamusku."


"Bagus! Aku suka rasa percaya dirimu. Kita cukupkan sampai di sini. Sampai jumpa besok," kata Alvin.


Sara memberi pelukan sebagai tanda perpisahan, lalu segera berganti pakaian untuk pulang. Dini menghampiri dengan memberi sebotol minuman juga ponsel.


Pertama Sara memeriksa panggilan serta pesan dari Saka. Suaminya telah datang menjemput, dan Sara baru ingat jika ia punya janji untuk datang ke rumah Belinda.


"Astaga! Aku lupa," kata Sara.


"Ada apa?" tanya Dini.


"Sore ini Saka dan aku akan pergi ke rumah mama Belinda."


"Kamu yakin akan memberikan perhiasan itu?" tanda Dini.


Sara mengangguk. "Iya, aku menyetujuinya. Ini cuma perhiasan."


"Sayang sekali," kata Dini.


"Mama cuma minta batu zamrud dan rubi. Aku harus segera pergi kalau tidak, mertua jahatku itu akan datang lagi."


Selepas berganti baju, Sara segera turun ke lantai dasar menemui suaminya. Saka memakai masker tutup mulut dan topi agar terlindung dari jepretan wartawan gosip. Ia tidak ingin kejadian waktu itu terulang.


"Bee!" seru Saka.


Sara langsung memeluk Saka. Gaya istrinya ini memang sudah berubah menjadi manja. Saka membuka pintu penumpang dan mempersilakan istrinya naik.


"Saka!" tegur Dini dengan terengah-engah karena berlari.


"Ada apa?" tanya Saka.


"Tas istrimu ketinggalan. Dasar Sara ini!" ucap Dini kesal.


Saka mengambil tas itu dari Dini. "Terima kasih. Kamu pulang sendiri saja."


"Menurutmu aku akan pulang bersama siapa? Dasar! Suami istri ini selalu membuatku jengkel," gerutu Dini.


Saka menyusul masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin kemudian berlalu dari studio, meninggalkan Dini dengan kekesalan di hati.


"Aku hanya mengambil batu permatanya saja. Mama mungkin ingin membuat perhiasan dengan batu itu," jawab Saka.


Sara meraih kotak perhiasan yang ada di atas dashboard. Ia membuka dan memandang batu-batu itu. Warnanya begitu pekat, dan di luar sana batu tersebut sangat susah ditemukan. Harganya juga mahal.


"Itu hanya batu," kata Saka.


"Aku tau. Jika dibuat perhiasan pasti cantik," sahut Sara.


"Sudahlah, aku akan menggantinya suatu hari nanti."


"Aku tidak terlalu berharap," ucap Sara.


"Kamu meremehkan diriku, Bee."


"Aku tidak bermaksud begitu." Sara memalingkan wajah menghadap jalan.


Aku tau kamu tidak rela, Bee. "Sudahlah. Kita hampir sampai. Sekarang kita bersiap menghadapi keluarga Hartawan."


Mobil sampai di kediaman keluarga Hartawan. Kali ini Saka datang tanpa pemberitahuan, maka dari itu ia dihadang oleh penjaga rumah.


"Katakan saja aku datang," kata Saka.


"Tunggu dulu, saya beritahu kediaman," ucap penjaga.


Sara menggerutu karena penjaga saja bersikap tidak hormat pada suaminya. Saka memang sudah menjadi orang asing di keluarganya sendiri. Beberapa saat, Saka diizinkan masuk ke dalam rumah. Belinda, Hartawan serta Arya datang menyambut.


"Kenapa kalian tidak memberitahu untuk datang? Mama akan siapkan makan malam. Kita bisa makan bersama," ucap Belinda.


"Kami datang cuma untuk memberi apa yang kamu minta," kata Saka.


Wajah Belinda berbinar. "Benarkah? Sebenarnya Mama ingin membuatkan perhiasan untuk menantu kesayangan dengan batu permata itu."


"Aku ingin bertanya padamu, Belinda. Apa aku ini adalah anakmu?" tanya Saka.


Belinda tersentak. "Jelas saja aku ini Ibumu!"


"Lalu kenapa kamu memperlakukanku dengan berbeda? Apa salahku?" tanya Saka.


"Tentu saja karena ayahmu. Pria yang menghamili Ibumu dan pergi begitu saja," sahut Hartawan.


Saka menatap Belinda, sedangkan sang ibu memalingkan wajahnya ke arah lain. Saka selalu bertanya-tanya tentang hal itu, tetapi ia masih tidak percaya jika alasan kepergiaan ayahnya yang membuat Belinda bersikap tidak adil.


"Apa itu benar?" tanya Saka. "Jika itu kenyataannya, kenapa kamu masih melakukan perbuatan tidak senonoh?!" teriak Saka.


"Cukup!" bentak Belinda. "Jangan mengajariku cara bersikap. Karena kesalahan itu, orang tuaku tidak lagi percaya padaku! Mereka kecewa padaku!"


"Semua itu karena kesalahanmu sendiri!" kata Saka.


"Salah ayahmu! Dia yang membuatku hamil dan pergi begitu saja."


Saka tertawa keras. "Wanita polos. Kamu bahkan tidak tau seperti apa orang yang menghamilimu."


"Hentikan pembahasan ini. Katakan saja untuk apa kamu datang," kata Arya.


Saka mengeluarkan batu permata yang Belinda inginkan. "Ibumu menginginkan batu ini."


"Berikan padaku," pinta Arya.


Saka tersenyum sinis. Ia meletakkan batu di lantai, lalu merogoh saku celana yang menyimpan palu bogel 8 OZ. Sara yang melihat itu kaget.


"Lihat apa yang aku lakukan," kata Saka.


Saka menghancurkan batu permata itu berkeping-keping. Betapa pun kerasnya batu itu, Saka berusaha untuk merusaknya.


"Sayang! Apa yang kamu lakukan?" kata Sara.


"Aku tidak akan membiarkan mereka memilikinya," jawab Saka.


Bersambung