
Plaak ... !
Sara sungguh tidak menyangka ia mendapatkan sebuah tamparan dari wanita asing. Cap lima jari mendarat di pipinya secara tepat hingga rasa panas serta perih dapat ia rasakan.
"Kamu siapa, hah?! bentak Lisa.
"Lisa! Apa yang kamu lakukan?" kata Belinda.
"Dia pantas mendapat tamparan dariku. Mulutnya sama sekali tidak bisa dijaga. Berani sekali dia menuduh kita sembarangan," ucap Lisa.
"Tampar dia!"
Sara menoleh ke arah pria yang berjalan mendekat. Saka menatap tajam Lisa dan Belinda. Ia melihat Sara yang ditampar oleh Lisa tadi, tapi sayangnya posisi Saka terlalu jauh untuk mencegah hal itu terjadi.
"Boo," panggil Sara.
"Tampar balik!" perintah Saka.
"Sudahlah, Boo."
"Aku bilang tampar balik!" kekeh Saka. "Jika kamu tidak ingin melakukannya, biar aku yang lakukan."
Plaak ... !
"Saka!" jerit Belinda. "Dia Tante kamu sendiri!"
"Siapa dia? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Dia menyentuh istriku, maka aku harus membalasnya."
"Istrimu telah lancang. Dia mengatakan jika kami kemari hanya untuk harta," ucap Lisa.
Saka tergelak. "Apa yang istriku katakan memang benar, kan? Kenapa? Apa kalian merasa tersinggung?"
"Saka! Keterlaluan kamu!" sahut Dery yang datang bersama Arya.
"Ada apa?"
"Berandalan! Kamu memukul ibuku!" Dery melayangkan tinjunya, tetapi ditangkap oleh Saka.
Dery menarik tangannya, tetapi sama sekali tidak bisa. Saka tersenyum sinis, memutar tangan Dery hingga membuatnya menjerit sakit.
"Tanganku!" jerit Dery.
"Lepaskan dia, Saka," pinta Belinda.
Saka malah terkekeh. "Aku ingat, waktu umurku delapan tahun, bukankah suamimu pernah memperlakukan diriku seperti ini. Kamu sama sekali tidak memintanya untuk melepaskanku."
Belinda terdiam, ia mundur beberapa langkah, lalu pergi. Arya yang geram atas kelakuan Saka, mencoba untuk menolong Dery. Ia melayangkan tangannya, tetapi disambut oleh Saka tanpa kedipan sama sekali.
"Dua pria yang tidak berguna," ucap Saka.
Saka mendorong mereka hingga keduanya terjungkal ke lantai. Lisa segera menghampiri Dery dan Arya, memeriksa cedera yang keduanya alami.
"Pembuat onar!" ucap Hartawan marah.
Saka berdecih, "Ayo, Bee. Kita tinggalkan tempat ini."
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar," kata Ayu Prameswari.
Rupanya Belinda pergi menemui sang ibu agar menghentikan pertengkaran di antara keluarga. Sebagai sosok yang paling tua, Ayu paling dihormati. Setiap perintahnya selalu didengar dan dilaksanakan.
"Kalian semua duduklah. Aku ingin mengumumkan sesuatu hal," ucap Ayu.
Saka dan Sara tidak jadi pergi, melainkan duduk di kursi paling ujung karena disitulah tempatnya. Dari kecil hingga dewasa ia selalu di belakang. Berbeda dari Arya yang duduk di bangku baris depan. Arya anak sah, sedangkan Saka anak tanpa pernikahan.
"Kalian semua harap tenang. Umurku sudah tidak muda lagi. Kematian bisa saja merenggutku saat ini. Aku mengumpulkan kalian karena ingin membagikan semua harta yang kupunya. Perhiasan akan kubagikan secara adil terhadap anak, keponakan dekat dan cucu menantuku," ucap Ayu.
Ayu memerintahkan kepada asistennya untuk membagikan kotak perhiasan kepada orang yang ditunjuk. Belinda, Lisa, Sara serta kerabat lain mendapatkan kotak itu.
"Apa?! Arya kaget. "Nenek, apa harta itu tidak kebanyakan? Kenapa Saka lebih banyak daripada kami. Warisan kakek juga dia yang mendapatkannya," protes Arya.
"Warisan kakekmu bukankah sudah berada di atas tangan ibumu?!" sahut Ayu. "Jangan kira aku tidak tahu apa-apa selama ini. Belinda! Dulu aku ingin mengurus Saka, tetapi kami bersikeras menolak sampai cucuku dibawa keluar negeri karena kekejaman kalian."
"Aku hanya ingin mengajarkan Saka menjadi kuat," sanggah Belinda membela diri.
"Aku tidak mau membahasnya. Luka itu terlalu dalam. Perbuatanmu yang membuat malu, malah kamu lampiaskan kepada Saka."
"Nenek, aku tidak memerlukan hartamu. Berikan saja kepada mereka," sela Saka dari ujung sana.
"Harta ini bukan untukmu! Percaya diri sekali kamu," kata Ayu.
Saka tertegun, bukannya Ayu mengatakan jika harta itu untuk pria bernama Saka. Tidak ada kerabat lain bernama Saka di keluarga Ayu Premeswari maupun Augustus Frederick. Lantas siapa lagi?
"Nenek membuatku malu," kata Saka sedih.
"Hartaku untuk Saka kecil. Aku akan memberikannya untuk cicitku kelak. Anakmu bersama Sara. Buatkan aku cicit secepatnya," ucap Ayu.
Sara tersipu malu, ia mencuri lirik pada Saka yang ikut tersenyum. Salah satu keinginan Sara memang ingin mengandung buah hatinya bersama Saka, dan ia harap tahun ini akan terwujud.
"Nenek tenang saja. Aku dan Sara akan bekerja keras. Sebentar lagi Nenek akan mendapat kabar baik," kata Saka.
"Semoga. Hartaku termasuk rumah ini kelak akan menjadi milik anakmu. Aku akan membuat surat wasiatnya dengan segera."
"Ucapkan terima kasih kepada Nenek," bisik Saka di telinga Sara.
Sara begitu malu, tetapi ia harus melakukannya. "Terima kasih banyak, Nek. Kami akan berusaha mewujudkan keinginan Nenek."
Ayu tertawa geli. "Berusahalah dengan keras."
Dengan harta yang melimpah, Sara tidak akan khawatir akan masa depan buah hatinya kelak. Ia memang seorang artis, tetapi ada masanya nanti kepopuleran itu akan terganti dengan yang baru.
Baik Arya maupun Dery hanya bisa menggerutu dalam hati. Mereka mendapatkan harta yang tidak seberapa dibanding Saka. Mau protes pun percuma, Ayu sudah membuat keputusan, maka semuanya harus patuh.
"Semua sudah dibicarakan. Setuju atau tidak, kalian harus menerimanya," ucap Ayu. "Aku sudah lelah. Sudah waktunya istirahat. Kalian hati-hati di jalan."
Sang asisten wanita dengan rambut kuncir kuda membantu Ayu bangkit dari duduknya, lalu membawa si nenek tua kembali ke kamar. Acara diambil oleh pelayan serta orang kepercayaan Ayu.
"Kita pulang, Bee," kata Saka.
"Datang kemari malah dapat sekotak perhiasan. Aku enggak sabar buat melihatnya."
Saka tersenyum. "Milikmu istimewa. Kotak hitam antik ini tersimpan perhiasan zaman dulu. Aku yakin di dalamnya ada emas, berlian yang sangat besar."
Lisa berdecih, "Aku masih ingat tamparanmu, Saka!"
"Lihat, dia sangat iri padamu," kata Saka.
"Kenapa?" tanya Sara.
"Karena kotak perhiasannya lebih kecil. Paling hanya beberapa kalung dan cincin," jawab Saka.
"Sudah lama tidak kembali, mulutmu semakin tajam," sela Hartawan.
"Apa Tuan Hartawan tidak terima dengan pembagian warisan?" tanya Saka.
"Nak, ini hadiah dari Mama. Ambillah." Belinda menyerahkan kotak perhiasannya kepada Sara.
"Istriku tidak butuh barang darimu." Saka mendorong kotak perhiasan itu.
"Sebenci apa pun kamu terhadap diriku, aku tetap ibumu!" ucap Belinda.
Saka menunjuk wajah ibunya. "Jangan kamu pikir aku adalah Saka yang dulu. Aku ini sudah sangat dewasa. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu mengambil harta milik kami!"
Bersambung