Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Tahanan



Sara bangun dari tempat tidur. Menangis tidak akan bisa mengubah kenyataan. Ia tidak percaya Saka tiada meski hal itu mungkin saja terjadi sebab Arya dan kawanannya sudah menghabisi Dini serta Azka.


Jendela yang ada di kamar Ayu Prameswari dipagari besi. Sara tidak bisa membukanya, dan satu-satunya cara adalah keluar dari pintu. Ia melangkah meraih gagang yang sayangnya terkunci.


Apalagi yang bisa Sara lakukan sekarang? Aktingnya tidak mempan sama sekali. Baik Indra maupun Arya tidak bisa dibohongi.


"Di mana kamu, Saka?" ucap Sara lirih.


Ia ingat ucapan Indra yang mengatakan kalau Saka adalah seorang pembunuh. Ya, ia percaya sekarang. Apa yang suaminya katakan waktu itu, ia percaya. Meski begitu, Sara mencintai Saka apa pun masa lalu dari pria itu.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku dan anakmu, kan? Aku akan tunggu di sini. Di rumah kita. Aku yakin kamu akan datang menjemputku."


Bunyi kunci diputar terdengar. Sara bergegas duduk di tempat tidur sebelum seseorang di sana masuk. Sara menoleh ke seorang pria yang berjalan menghampiri. Ia lekas bangun dari duduknya.


"Sebenarnya apa kesalahanku, Arya?" Sara menatapnya tajam.


Arya malah tertawa mendengar pertanyaan Sara. "Haish! Kakak iparku yang cantik. Sekarang kamu adalah seorang janda. Tidak ingin mencari suami baru? Aku senantiasa untuk menghangatkanmu."


Sara melayangkan tangan, tetapi Arya berhasil menangkapnya. Ia kecup telapak tangan Sara, dan sontak Sara menarik tangannya, lalu menyeka bekas kecupan Arya dengan pakaiannya.


"Kesalahanmu adalah menikahi Saka," jawab Arya.


"Itu urusanku! Kamu tidak berhak untuk melarangku berbuat apa pun!"


Arya mendorong Sara ke tempat tidur. Ia menindih sang kakak ipar yang menatapnya dengan kemarahan.


"Apa yang aku katakan benar, Sara. Aku suka padamu dari dulu. Tapi kamu tidak pernah sekalipun memandangku," ucap Arya.


"Arya! Kamu tidak serius, kan?"


Arya menatap Sara, ia membelai pipi yang mulus itu. Sedetik kemudian pria itu malah tertawa. Arya bangun dari atas tubuh Sara. Ia terbahak-bahak karena berhasil menggoda kakak iparnya.


"Kamu percaya?" Arya geleng-geleng kepala.


Sara bangkit berdiri. "Kamu sudah gila, Arya."


"Sejak kapan aku mencintai seorang wanita? Bagiku kalian semua adalah pakaian." Arya menatap Sara dengan hasrat. "Aku akan memperlakukan dirimu dengan baik jika kamu bersedia menjadi penghangat ranjangku."


Mata Sara melotot mendengar permintaan Arya. "Jangan pernah bermimpi untuk menyentuhku! Dasar sialan!" Sara berteriak di depan wajah adik iparnya.


Arya mengumpat, ia langsung menarik rambut Sara. "Berani sekali kamu berteriak di depanku! Aku bisa saja menodaimu sekarang juga. Kamu hanya sendirian di sini. Tidak ada yang akan membantumu."


Arya kembali mendorong tubuh Sara ke atas tempat tidur. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, dan memang ia berniat untuk meniduri Sara.


Pintu dibuka secara tiba-tiba. Arya menoleh, ia tersentak mendapati Belinda dan Hartawan di depan pintu kamar.


"Mama, Papa," ucap Arya.


Sara mendorong tubuh Arya, ia berlari menuju Belinda. "Anakmu membunuh suamiku dan dia ingin menodaiku!"


"Tetaplah di sini, Sara," ucap Belinda.


"Apa maksudmu?"


"Kamu tidak boleh keluar dari rumah ini."


Sara tersentak, ia mendorong tubuh Belinda hingga membentur Hartawan. Sara berlari keluar, Arya berteriak memanggil pengawal. Sayang sekali ketiga temannya sudah pulang tadi.


"Hentikan dia!" ucap Arya.


"Biarkan aku pergi!" pinta Sara memelas.


Lima orang penjaga di depan. Tiga di belakang dan ia hanya sendiri. Dalam keadaan hamil pula. Meski begitu, Sara harus berusaha untuk kabur.


"Kamu tidak bisa kabur lagi, Sara." Arya berjalan mendekat bersama Hartawan.


Sara mendorong penjaga, tetapi percuma saja sebab ia akhirnya bisa ditangkap. Arya melayangkan tangannya ke pipi Sara. Bukan hanya sekali, melainkan wajah Sara seperti kasur empuk yang senang ia tepuk.


"Hentikan, Arya!" seru Belinda.


Tubuh Sara melemah, ia terduduk di tanah dengan bibir pecah. Tidak terperikan betapa sakitnya kedua belah pipi yang telah ditampar oleh kekuatan seorang pria.


"Dia Kakak iparmu!" ucap Belinda. "Bawa dia ke kamar dan segera panggil dokter."


Belinda memerintahkan pengawal membawa menantunya masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin melihat betapa menyedihkan kondisi Sara saat ini.


"Wanita itu sangat bahaya," cetus Hartawan.


"Arya!" tegur Belinda.


"Ada apa, Ma?"


Dua tamparan mendarat di pipi pria itu. Hartawan kaget mendapati istrinya memukul putranya sendiri. Arya adalah anak kesayangan. Tidak pernah sekalipun Belinda memarahinya.


"Mama!" ucap Arya.


Sekali lagi tamparan mendarat di pipi Arya. "Saka adalah kakakmu! Apa yang terjadi padanya? Kamu apakan dia?"


"Dia jatuh ke sungai," jawab Arya enteng.


"Anak sialan! Pembunuh!" Belinda kembali menampar pipi Arya.


Hartawan segera memeluk Belinda, mencoba menenangkannya dari amarah. Sebenci-bencinya Belinda pada Saka, tetapi anak itu adalah putra kandungnya.


"Oh, Mama menyesal sekarang? Bukannya Mama dari dulu ingin membunuh Saka," ucap Arya seraya mengusap bibirnya yang pecah.


"Dia tetap anakku!" teriak Belinda.


"Tenanglah, Sayang. Ayo, kita masuk dulu," ucap Hartawan.


Sialan! Mama malah menyalahkanku. Peduli amat, Saka sudah tiada sekarang.


Belinda tahu kabar mengenai Saka karena tidak sengaja mendengar suami dan putranya berbicara di telepon. Jelas ia kaget dengan masalah ini dan bergegas menuju kediaman lama.


"Sekarang bagaimana? Sara malah tinggal di sini. Kalau dia lapor polisi, bisa gawat," ucap Hartawan.


"Ini semua tergantung Mama," sahut Arya seraya memandang ibunya. "Sekarang kita sudah mendapat apa yang diinginkan. Rumah ini dan semua harta nenek."


"Jangan kamu mencoba untuk melukai Sara. Dia tengah hamil," ucap Belinda.


"Mama dan Papa tenang saja. Sara tidak akan bisa lari. Arya akan buat dia tetap berada di dalam cengkeraman tangan kita."


Bersambung