
Kapal motor mendarat di pelabuhan Teluk Suak. Satu per satu penumpang naik ke atas jembatan dan berjalan ke tempat tujuannya masing-masing.
Termasuk Sara dan Saka yang singgah dulu ke warung kopi untuk sekadar membuang penat. Saka memesan teh hangat manis untuk Sara, tetapi wanita itu enggan untuk meminumnya.
Yang Sara inginkan, adalah mandi. Tubuh dan wajahnya terasa lengket dan juga bajunya tercium aroma solar.
"Apa kota singkawang itu jauh?" tanya Sara.
"Tidak juga. Paling hanya sekitar satu setengah jam. Tergantung mobilnya. Kita akan naik bis untuk sampai ke sana," kata Saka.
"Bis?" ulang Sara.
Saka mengangguk, "Iya."
"Apa tidak ada taksi? Aku kemari menumpang mobil taksi."
Saka tersenyum, "Beda, dong, Sara. Taksi di sini pakai pesan dulu. Kecuali dari bandara. Di sana memang ada taksi yang nongkrong."
"Kenapa tidak pesan saja?"
Saka menghela, "Lihat tujuannya. Setahuku hanya ada taksi pulang pergi Pontianak-Singkawang dan sebaliknya. Kalau Teluk suak-Singkawang, ya, pakai bis. Atau enggak pakai mobil khusus teluk suak."
"Begitu rupanya."
Sara tampak lelah membayangkan perjalanan panjangnya kali ini. Tubuhnya benar-benar lelah hanya karena mendengar rute perjalanan saja.
"Kan, aku sudah bilang untuk tidak ikut. Kamu masih ngeyel mau ikut," ucap Saka.
Sara berdehem sembari menundukkan kepalanya di meja. Saka mengusap rambut kusut Sara akibat terpaan angin laut.
"Nanti kita jalan-jalan di sana. Jangan khawatir. Kamu pasti senang saat di kota."
"Aku hanya butuh ponsel untuk menghubungi kekasihku."
"Pakai ponselku dulu, bagaimana?" tawar Saka.
Sara mengangkat kepalanya memandang Saka, lalu mengulurkan tangan. "Mana?"
Saka memberikan ponsel miliknya dan dengan senang hati Sara menerimanya, lalu melakukan panggilan telepon kepada Indra.
"Belum diangkat," kata Sara.
"Coba lagi," sahut Saka.
Sara mencoba lagi mendial nomor Indra dan kali ini kekasihnya itu menjawabnya.
"Sayang, ini aku Sara."
"Astaga, Sayang! Kamu pakai nomor siapa? Kenapa ponselmu tidak aktif?" ~ Indra.
"Ponselku jatuh ke dalam air laut. Jadi ... aku meminjam ponsel teman serumahku."
"Aku akan mengirim ponsel baru untukmu." ~ Indra.
"Tidak perlu. Aku akan membelinya sendiri."
"Kamu di mana? Jangan pernah untuk keluar dari pulau, Sara. Tetaplah sembunyi di sana." ~ Indra.
Mendengar perkataan Indra, Sara jadi kesal. Apa maksud kekasihnya itu? Apa Indra berniat menjadikannya seorang tawanan?
"Aku tidak ke mana-mana. Aku titip pada orang untuk membeli ponsel baru."
Sara memutus sambungan teleponnya secara sepihak, lalu mengembalikan ponsel milik Saka.
"Terima kasih," ucap Sara.
"Kamu masih yakin, berharap pada pria seperti itu?" tanya Saka.
Kening Sara berkerut. "Maksudmu?"
"Dia, bahkan tidak menanyakan teman serumahmu," jawab Saka.
"Kenapa dia harus bertanya tentangmu?"
Saka menoyor kepala Sara. "Sudahlah. Ayo kita pergi."
Sara mengusap keningnya, dan mengomel akan perbuatan Saka. Keduanya berdiri sembari menunggu bis yang lewat. Bis bertuliskan Nek Aki berhenti. Sara dan Saka naik dan duduk di kursi belakang.
"Jangan bilang naik bis kamu mabuk lagi?" kata Saka.
"Enggak, kok. Siapa juga yang mabuk kendaraan."
Nih, cewek kagak sadar diri. "Kalau mabuk lagi, aku tinggal kamu."
*****
Bis menurunkan mereka di jalan Alianyang tempat mall baru berdiri. Sara tampak bersemangat melihat gedung mall, tetapi ia terdiam karena mall yang ada di kota Singkawang, tidak seperti mall lain di kota besar.
Saka tertawa, "Beginilah. Ini sudah cukup ramai. Saat malam nanti juga ramai, kok. Apalagi malam minggu."
"Kamu yakin?"
"Biasanya mall akan ramai bila ada acara saja. Kita pergi makan dulu," ajak Saka yang membawa Sara untuk makan ayam goreng cepat saji. "Habis ini kamu mau nonton bioskop?"
"Boleh," kata Sara.
Selesai makan siang, Saka membawa Sara menonton bioskop dan lagi-lagi wanita itu kaget ketika masuk ke dalam tatkala melihat keadaan bioskop yang sepi.
"Wah! Bioskop ini milikku," kata Sara dengan berlari ke sana kemari.
Saka geleng-geleng kepala dan ia tidak melewatkan kesempatan untuk memvideokan tingkah Sara melalui ponsel.
"Film apa yang akan kita tonton?"
"Nanti juga kamu tahu," jawab Saka, "di mana kamu mau duduk?"
"Di bagian tengah."
Saka mengangguk dan duduk di kursi bagian tengah. Di dalam bioskop itu hanya mereka berdua dan memang keadaan kosong tersebut menjadi hal yang biasa.
Sara dan Saka bersiap menonton saat layar di depan mereka memutar film. Namun, Sara mencengkeram lengan Saka saat lampu mulai dimatikan dan film di hadapannya, adalah film horor.
"Kenapa kita harus menonton film horor? Apa kamu tidak tahu, bioskop ini sepi?" Sara semakin memperat pelukannya di lengan Saka.
"Biar semakin tegang."
"Ish, kalau kita kesurupan bagaimana?" Sara menoleh ke sisi kiri dan kanan.
Saka menutup bibir Sara yang terus mengoceh dengan tangannya. "Jangan takut. Mereka ada di belakang dan di depan kita. Mereka juga ikut nonton."
Mendengar hal itu, Sara langsung memeluk Saka erat sembari memejamkan mata.
"Aku tidak bisa bernapas kalau begini."
"Ayo pulang. Jangan menakutiku," isak Sara.
Ia benar-benar ketakutan. Tubuhnya berkeringat saking takutnya, tetapi Saka malah terkikik geli.
"Kita habiskan dulu filmnya," kata Saka.
"Mau pulang. Aku bakal teriak kalau kamu tidak membawaku pulang," ancam Sara.
"Teriak saja. Paling kamu akan disangka ketakutan karena nonton."
"Pulang. Aku takut." Tubuh Sara benar-benar merinding. Ia beranggapan mungkin saja perkataan Saka ada benarnya, bahwa makhluk halus itu tengah ikut menonton bersama mereka.
Sara mengecup pipi Saka dan berhasil membuat pria itu kaget. "Aku sudah mengecup pipimu. Ayo pulang."
"Jadi pacarku."
"Enggak mau," tolak Saka.
"Ya, sudah. Kita habiskan nonton filmnya."
"Aku pulang sendiri kalau begitu."
"Silakan," ucap Saka sembari tersenyum.
Sara menoleh ke arah pintu, tetapi pintu itu terasa jauh baginya. Sara berdiri dan memandang ruangan bioskop yang hanya ada mereka berdua.
"Oke! Aku bersedia jadi pacarmu," kata Sara.
Saka tersenyum, "Beneran?"
Sara mengangguk, "Jadi yang kedua."
"Enggak apa-apa. Yang penting bisa jadi pacar artis."
Saka beranjak dari duduknya, lalu meraih tangan Sara untuk pergi, tetapi Sara menahannya.
"Aku duluan yang jalan. Jangan lepas tanganku." Sara berjalan lebih dulu, tetapi ia berhenti melangkah. "Aku dibelakang saja." Wanita itu berpindah posisi. "Eh ... kita berdampingan saja."
"Ya elah, mau pulang apa enggak?"
"Aku takut kamu berubah jadi hantu. Kamu tidak lihat film di depan? Pasangannya berubah jadi hantu," kata Sara saat teringat salah satu adegan film.
Saka menepuk jidatnya sendiri. "Astaga!" Saka akhirnya menggendong tubuh Sara. "Pegang erat-erat dan jangan melihat ke belakang."
Sara mengangguk, "Iya, tapi aku harus melihat wajahmu. Takutnya berubah pucat."
"Lihat saja sesukamu."
Bersambung.