
"Ada apa, sih? Tiba-tiba saja, nih, mobil mogok," ucap Deri kesel sembari keluar dari mobil.
Ia sedikit terhuyung menuju bagian depan. Deri memegang kepalanya. Minuman memabukkan membuatnya tidak jelas memandang. Untung saja ia masih bisa mengendarai mobil.
Deri menjejalkan tangan ke saku celana. Ia mencari ponsel untuk melihat kerusakan yang dialami kendaraan roda empatnya. Sialnya ponsel itu tidak berada di saku celana maupun kemeja yang ia kenakan.
"Sialan! Mana lagi, tuh, ponsel," ucapnya.
Deri kembali membuka pintu mobil. Ia mencari-cari telepon pintar miliknya sembari mengumpat karena ini bagian yang merepotkan.
"Masuklah ke dalam, Bung!"
Deri terdorong ke dalam. Ia dipaksa masuk oleh seseorang. Deri mencoba untuk melawan, tetapi di belakang sana terus mendesaknya masuk.
"Siapa kamu? Kurang ajar! Lepaskan aku," ucap Deri sembari meronta untuk bebas dari cengkeraman seseorang di belakang.
Deri masuk ke dalam mobil dan ketika ia ingin meloloskan diri lewat pintu sebelahnya, seorang pria menghadangnya sambil tersenyum.
Deri memegang keningnya. Ia menggeleng agar bisa melihat secara jelas sosok pria yang di depan. Pria asing berwajah bule tersenyum memandang Deri, bahkan pria itu melambaikan tangan.
"Jangan terkesima pada wajah tampannya."
Deri menoleh pada sosok di sampingnya. Pria berwajah oriental. "Siapa kalian?"
"Malaikat mautmu," ucap Chen, lalu menyemprotkan cairan bius.
Deri mengerjap beberapa kali. Pandangan matanya mulai kabur. Ia memegang kepala agat tetap sadar, tetapi obat bius terlalu kuat, lalu ia pingsan.
"Hei! Target sudah pingsan. Kita pergi," seru Chen.
"Ted, cepat hidupkan mobilnya. Tadi kamu sendiri yang merusaknya. Bagaimana bisa tidak bisa menghidupkannya lagi?" kata Mark.
"Kurasa aku tidak bisa menghidupkannya. Kita bawa pakai mobil kita saja," ucap Tedy.
Mark berdecak. "Menyusahkan saja. Aku akan telepon Josh untuk mendekat."
Di dalam mobil, Chen terbahak mendapati Tedy. Dia yang membuat mobil Deri mogok saat di kelab malam, lalu dia sendiri tidak dapat membenarkan kekacauan itu.
Tidak lama mobil hitam muncul. Josh keluar, lalu membuka pintu penumpang bagian belakang. Mark dan Tedy mengalihkan tubuh Deri ke kursi belakang.
"CCTV sudah diretas?" tanya Chen.
"Beres. Secepatnya kita pergi sebelum ketahuan pihak keamanan," ucap Josh.
Bergegas keempatnya masuk ke dalam mobil. Josh segera mengendarai kendaraan ke kediaman besar milik mereka.
...****************...
Saka memutar rambut Velia yang berlutut di depannya. Sesuai yang ia ucapkan kalau wanita itu akan menjadi pelayan selama sepuluh hari ke depan seperti Sara.
Ia menarik rambut panjang itu ketika keempat bawahannya datang bersama tubuh Deri yang pingsan. Saka tersenyum musuh keduanya telah berada di dalam genggaman.
"Sadarkan dia," perintah Saka.
Tedy mengangguk, lalu berjalan menuju dapur. Tubuh Dery diletakkan di dekat Velia yang duduk berlutut dengan pakaian sobeknya.
"Aku akan berikan pertunjukan indah untuk Indra. Kita lihat bagaimana perasaannya melihat istri tercinta bermain gila dengan sahabatnya sendiri," ucap Saka.
Velia memegang kaki Saka. "Jangan terlalu kejam, Saka. Aku ini wanita."
"Apa kamu tau penderitaan Sara di sana? Setiap hari Arya selalu melecehkannya. Bayangkan betapa menderitanya istriku itu. Indra! Kalian semua sama sekali tidak ada yang iba. Aku mencoba mengubur sisi kejamku, tetapi kalian membangkitkan sisi terburukku." Saka menendang Velia. Membuat wanita itu terjungkal.
Tedy datang dengan membawa air. Ia menyiram Deri. Seketika pria itu sadar. Deri terbatuk-batuk, ia mengusap wajah. Melihat keadaan di mana pria asing mengelilinginya. Matanya membelalak ketika bertatapan dengan Saka.
Ia mengucek mata, memastikan jika pria di depannya itu adalah kerabatnya. Sepupunya yang ia habisi dengan senjata api lima tahun lalu.
"Saka!"
"Oh, masih mengenalku rupanya," ucap Saka.
Deri menoleh ke samping melihat wanita yang berusaha untuk bangkit. Matanya ingin keluar melihat sosok itu. Velia! Istri temannya. Penampilan Velia tampak sangat kacau.
"Velia!"
Velia menoleh, ia menitikkan air mata. "Ini semua karena kalian! Aku disiksa oleh pria jahat ini!"
"Velia, maafkan aku," ucap Deri.
Saka mengulurkan tangan. Chen memberi belati lipat kepadanya. Saka mengeluarkan mata pisaunya, lalu memutar-mutar itu di tangan.
"Aku ini saudaramu. Tega sekali kamu memperlakukanku seperti ini," kata Deri.
"Aku ingin tertawa mendengarnya. Apa perlu isi otakmu kukeluarkan dan memutar ulang memori lima tahun lalu?"
"Maafkan aku, Saka," ucap Deri.
"Aku akan memberimu hadiah. Kenikmatan seorang wanita. Jika tidak ingin mati, berikan aku petunjuk bagus."
"Apa maksudmu?"
"Tiduri Velia," kata Saka bernada perintah.
"Tidak! Dia istri Indra," tolak Deri tegas.
"Memangnya aku peduli? Atau kamu mau aku membunuhmu?"
"Kamu harus berjanji untuk membebaskanku," ucap Deri.
"Aku tidak pernah ingkar janji. Aku akan melepasmu."
Velia menggeleng ketika Deri mendekat padanya. Josh menyiapkan kamera untuk menangkap gambar seru yang akan dilakukan korban.
"Buka kemejamu itu," kata Saka.
"Jangan, Deri. Kasihani aku," ucap Velia lirih.
"Maaf, Velia. Aku ingin hidup. Maafkan aku."
Deri melakukan perintah Saka dan Josh mulai merekam perbuatan tidak senonoh itu. Saka memejamkan mata. Ia membayangkan kalau itu adalah Sara. Arya, aku akan mencabik-cabik tubuhmu.
Saka memberi kode kepada bawahannya untuk menghentikan Deri. Chen mengangguk, lalu menendang Deri.
"Kamu ini kebablasan rupanya. Kami saja tidak boleh menyentuhnya sampai bawah sana," ucap Chen.
"Wah! Dia ini benar-benar ingin menodai istri temannya," sahut Mark.
"Tuan harus menghukumnya," pinta Tedy.
"Apa hukuman yang kalian inginkan?" tanya Saka.
"Tuan, tangannya sangat liar. Dia harus diberi pelajaran," ucap Josh.
"Bawa kemari. Aku akan mengabulkan keinginan kalian." Saka tersenyum licik.
"Kamu bilang akan melepasku," ucap Deri.
"Telingamu tidak dengar dengan jelas. Maksudku adalah melepasmu ke akhirat." Saka tertawa disusul oleh keempat bawahannya. "Velia sayang. Tangan mana yang menyentuhmu? Aku akan balas sakit hatimu."
"Terkutuk!" umpat Velia.
"Aku terbiasa mendengar kata umpatan," sahut Saka.
"Sehari-hari itu makanan kami," sahut Tedy.
"Teman-teman, ayo, kita lakukan permainan menariknya." Saka memutar-mutar belatinya, lalu mengulurkan tangan.
Chen dan Josh memegang Deri. Tangan kanan pria itu diletakkan ke uluran tangan Saka. Sang penikmat mengusap punggung tangan yang halus itu.
"Sangat indah. Jari-jari yang hanya memegang bolpoin dan ponsel. Aku jatuh cinta pada keindahan ini dan ingin mengoleksinya," ucap Saka.
"Jangan!" teriak Deri.
Saka tertawa. "Maafkan aku, Deri."
Deri berteriak keras. Velia menutup mata dan telinga, sedangkan keempat bawahan Saka tertawa. Saka sangat menikmati adegan menegangkan ini.
"Terima kasih," ucap Saka.
Deri berteriak kesakitan. Ia mengerang, menangis. Betapa sakitnya tindakan yang dilakukan oleh Saka.
"Jangan khawatir. Aku akan meringankan bebanmu," kata Saka. "Chen, lakukan."
"Siap, Tuan." Chen mengeluarkan senjata api.
Dor ... !
Bersambung