Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Rencana Menghabisi



"Ada apa denganmu?" tanya Indra.


Indra buru-buru datang ke kelab malam demi menemui Arya. Saudara tiri Saka itu memintanya untuk bertemu dan mengatakan ada masalah yang penting.


Arya tersenyum sinis. "Entah kamu sudah mencintai istrimu atau sudah melupakan Sara, tetapi aku ingin membagi kebahagian ini bersamamu."


"Kebahagian apa?" tanya Indra.


"Mantan kekasihmu itu hamil. Dia mengandung anak dari saudara tiriku, Saka."


Mata Indra terbelalak mendengarnya. "Sara hamil?"


Arya mengangguk. "Benar. Dia tengah mengandung. Saka mendapat harta yang banyak dari nenekku karena istrinya memberikan pewaris." Arya tertawa. "Aku malah heran denganmu. Bertahun-tahun bersama, kamu malah tidak menidurinya."


"Sialan! Kenapa Sara harus bersama pria itu? Ini semua salahku! Andai aku tidak pernah membawa Sara ke pulau. Pasti saat ini Sara masih bersamaku," ucap Indra.


"Lantas, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Arya.


"Aku tidak akan membiarkan Saka bahagia. Dia mengambil wanitaku, dan aku akan merebutnya kembali. Sara harus menjadi milikku!"


Arya kembali terbahak. "Saka dan Sara sudah menikah. Kamu ingin memisahkannya dengan cara apa? Merebut Sara dengan cintamu? Aku yakin dia akan menolakmu mentah-mentah."


"Jika aku tidak bisa memisahkan mereka berdua, maka aku akan membuat mereka mati agar bersatu selama-lamanya."


"Sadis juga kamu. Tapi aku juga menginginkan hal sama. Aku ingin Saka mati."


"Anton bilang dia bukan pria sembarangan. Aku takut kita menyinggung orang yang melindunginya."


"Jangan takut akan hal itu. Lebih baik temui Anton. Aku juga ingin tau, sebenarnya apa yang Saka lakukan selama di luar negeri," ucap Arya.


"Lebih baik kita keluar dari sini. Aku akan meneleponnya. Kita ke apartemenku saja," ucap Indra.


"Oke," balas Arya.


Arya dan Indra keluar dari ruang VVIP kelab. Keduanya berjalan di antara kerumunan pengunjung yang bergoyang di lantai dansa. Keduanya menuju pintu luar di mana mobil mereka terparkir di sana.


Dalam perjalanan, Indra menelepon Anton agar menemuinya di apartemen. Mendapat kabar Sara yang hamil, darah Indra mendidih. Ia sakit hati atas pengkhianatan sang mantan kekasih.


"Sara, begitu cepat kamu melupakanku. Aku adalah kekasihmu, cintamu yang sesungguhnya. Aku tidak akan pernah membuat pernikahanmu bahagia," gumam Indra.


...****************...


Indra dan Arya telah berada di apartemen. Tinggal menunggu kedatangan Anton saja, dan Indra sudah mengabarkan kepada penjaga untuk mengizinkan sahabatnya naik ke lantai atas.


Bel apartemen berdering, Arya bangun dari duduknya membuka pintu. Pria yang ditunggu sudah berada di depan mata.


"Tumben kamu kumpul bareng dengan Indra," ucap Anton.


Anton dan Arya tidak terlalu dekat. Hanya sebatas saling mengenal saja. Arya mempersilakan Anton masuk, ia heran melihat Indra yang tertunduk lesu.


"Ada apa dengan dirinya?" tanya Anton.


"Sara hamil," jawab Arya.


"Lalu?"


"Apanya? Ya, Indra merana. Sara hamil anak Saka. Saudara tiriku. Mumpung kamu di sini. Aku ingin membahas tentang saudaraku itu," ucap Arya.


Anton duduk di samping Arya. Indra bersandar di badan sofa, memasang telinga baik-baik tentang pembahasan musuh mereka.


"Saka anggota dunia bawah. Ia punya kelompok bernama Red Eyes. Si mata merah yang jika marah akan menghabisi seluruh musuh. Kasino, kelab, ia punya segalanya. Belum lagi bisnis lain. Dia anak dari pria kaya," kata Anton.


"Benar. Tuan Bernad sudah lama tidak aktif di dunia bawah. Aku dengar dia mewariskan segalanya kepada putranya. Tapi akhir-akhir ini semua usaha Saka telah diambil seseorang. Aku tidak tau siapa."


"Apa benar, Saka itu anak dari Bernad yang kamu maksud?" tanya Indra. "Kamu bilang pria bernama Bernad juga orang kaya raya."


"Siapa lagi kalau bukan Bernad itu? Aku yakin kalau mereka orang yang sama dan orang tua dari Saka."


"Saka tidak akur dengan ayahnya," sahut Arya.


Anton menjentikkan jari. "Aku rasa usahanya diambil oleh ayahnya sendiri."


"Aku tidak mau tau. Aku ingin menghancurkan Saka!" ucap Indra.


Anton tertawa. "Tenang. Ini akan sangat mudah. Kelompok Saka sudah diambil alih. Kurasa dia memang ingin berhenti dari dunia bawah. Dengan begitu, kita mudah untuk menghabisinya."


"Benar! Tidak peduli sekuat apa pun ayahnya. Dia berada di wilayah kita. Seekor gajah tetap kalah jika berada di sarang semut," ucap Arya.


"Aku juga ingin balas dendam karena dia pernah membuat kakiku ini cacat. Kita harus membuat rencana matang agar bisa membuat Saka tiada," desis Anton.


"Jangan sakiti Sara. Aku ingin dia," kata Indra.


...****************...


Andreas pergi langsung menyampaikan pesan dari Saka kepada sosok pria paruh baya yang duduk dengan angkuhnya. Dua jam Andreas menunggu demi bisa bertemu pria itu.


"Katakan! Kamu siapa? Ada kepentingan apa?"


"Saya Andreas, Tuan. Teman dari Saka."


Sebelah alis pria itu naik. "Sejak kapan putraku punya teman?"


"Saya datang kemari hanya untuk menyampaikan pesan," ucap Andreas.


"Aku mendengarkan," kata Bernad.


"Saka bilang dia tidak akan pernah pulang. Dia ingin memutus semua hubungan dengan pria yang menyuruhnya kembali ke Amerika." Andreas berdehem, lalu melanjutkan perkataannya. "Dia juga memberi kejutan kepada Anda sebagai hadiah perpisahan. Anda akan menjadi seorang kakek."


"Kakek?" tanya Bernad.


"Grandpa," jawab Andreas.


Meja digebrak, Andreas terlonjak kaget. Untung saja ia tidak punya riwayat jantungan. Tiba-tiba saja pria tua di depannya marah.


"Kamu boleh pergi."


Andreas mengangguk. "Baik, Tuan."


Andreas bangun dari duduknya, mengangkat tangan ke atas seolah ia adalah seorang tawanan. Dua orang pengawal bersenjata, mengiringinya sampai ke pintu gerbang.


"Aku harus cepat pergi. Ya ampun! Datang ke rumah itu, seperti pergi mengantarkan nyawa. Aku hanya ingin melihat wajah keterkejutan tuan Bernad. Aku sudah duga, dia marah. Saka, kali ini habislah kamu. Aku tidak mau ikut-ikutan tentang masalahmu," gumam Andreas.


Bernad menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Beberapa kali ia mengulangi hal itu agar hatinya tenang. Saka tidak menjadi seperti yang ia harapkan. Putranya tidak ingin kembali ke sisinya.


"Bertahun-tahun dia selalu menyalahkanku," gumam Bernad. "Memang benar, orang sepertiku ini sebaiknya jangan memiliki hubungan ikatan darah. Itu adalah kelemahan. Saka adalah kesalahan dan kelemahanku. Baiklah, Nak. Jika itu yang kamu inginkan, aku membebaskanmu."


Bernad, pria yang terbiasa hidup demi dirinya sendiri. Tujuannya adalah bisa hidup dengan kekayaan dan kekuasaan melimpah. Wanita baginya bagai pakaian. Namun, saat bersama Belinda ia telah melakukan kesalahan. Seharusnya ia tidak pernah menjalin hubungan bersama wanita itu.


Bersambung