Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Awal Dendam



"Tugas pertama adalah menghabisi Felix. Sudah cukup aku membiarkannya selama ini. Aku akan rebut kekuasaan yang diambil dariku!"


Sebuah foto ditusuk dengan belati tajam. Seorang pria telah lama menyimpan dendam atas perlakuan tidak adil. Takdir membuatnya kehilangan dalam sekejap dan ia terus menentang suratan nasibnya.


Malaikat maut pun tidak mampu mengambil nyawanya. Dia iblis yang keluar dari neraka terdalam. Di hatinya hanya ada api yang membara. Ingatan selama lima tahun lalu, anak dan istrinya. Sang ayah juga sahabat menjadi korban. Bahkan bukan itu saja. Kelumpuhan tidak membuatnya mati dalam kegelapan, justru itulah yang mendorongnya untuk meraih cahaya.


Diujung sana ada senyum istri yang ia cintai bersama orang-orang yang menyayanginya. Cahaya yang menjadi tujuan hidup Sakalingga Bernad. Mereka menunggu Saka datang menyelamatkannya dan kisah dendam ini akan dimulai dari Felix, sang pengkhianat.


"Selama ini kamu sudah berusaha. Sungguh ajaib. Kamu terbebas dari kelumpuhan sejak dua tahun lalu. Kamu berlatih keras dengan mengumpul anak buah di kota kecil ini," ucap Dokter Leo.


Pria kekar dengan punggung dipenuhi gambar lukis membalik diri. Ia menarik ujung bibirnya sedikit, mencabut belati yang tertancap di meja, lalu memainkannya.


"Aku akan pergi menyerang sekarang," kata Saka.


"Felix punya empat orang tameng yang melindunginya. Dari semua itu, mereka bukan orang biasa. Jika kamu ingin menggapai Felix, maka harus mengalahkan pelindunginya. Anggota kita juga cuma dua puluh orang. Tidak mungkin bisa mengalahkan anak buahnya yang mencapai ratusan atau mungkin ribuan," tutur Leo.


"Aku hanya akan menghabisi akarnya saja. Jika akar itu mati, maka pohonnya akan tumbang. Daunnya satu per satu jatuh dan dengan mudah bisa aku injak," desis Saka.


"Bawalah beberapa anak buah kita untuk melindungimu. Jangan biarkan orang tua ini khawatir."


"Kamu pikir aku perlu bantuan?" tanya Saka sembari menaikkan satu alisnya.


"Astaga! Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kamu itu anakku," ucap Leo.


"Aku akan membawa mereka agar mulutmu bisa diam."


Saka berlalu setelah mengatakan hal itu, sedangkan Leo cuma bisa menatap nanar kepergian laki-laki yang sudah ia anggap sebagai anak.


"Josh, Tedy, Mark dan kamu, Chen. Kalian berempat ikut aku," ucap Saka.


"Siap, Tuan."


"Pertama, kita habisi pelindung dari Felix," kata Saka.


Kelimanya bersiap menuju kota New York. Sejak ia telah sembuh dari kelumpuhan, Saka berpindah-pindah tempat tinggal. Mereka semakin mendekati musuh dengan menetap di kota Serendipity.


Hanya membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai ke sana. Sebuah kelab milik Bernad yang kini diambil alih oleh Felix.


"Felix tengah berada di Vegas. Kesempatan untuk menghabisinya," ucap Saka.


"Apa kita langsung menyerang dia di kelab, Tuan?" tanya Josh. Pria berambut cepak dengan tindikan di sepanjang jalur daun telinga.


"Kamu ingin kita mati dengan menyerang terbuka? Yang benar saja," sahut Chen. Pria keturunan oriental.


"Pancing dia keluar. Jika kita membakar kelab itu, maka daddy-ku akan bangkit dari alam kubur," kata Saka. "Chen dan Tedy yang akan memancingnya. Raker One adalah pria yang tidak menyukai mereka berdua."


"Aku paling suka memancing," ucap Tedy, seorang pria berasal dari Afrika Selatan.


Mark mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Selama perjalanan, Saka menatap foto Sara. Ia sudah tahu mengenai berita sang istri yang hilang tanpa jejak.


"Aku yakin kamu selamat. Tunggu aku sebentar lagi, Sara. Aku harus kuat jika ingin menyelamatkan dirimu," gumam Saka, lalu mengecup foto Sara yang tersimpan dalam ponsel.


"Tuan," tegur Mark.


"Aku baik-baik saja. Aku bersumpah akan menyiksa mereka sampai mereka sendiri berniat untuk mengakhiri hidupnya," ucap Saka bertekad.


Mobil berhenti di pinggir jalan. Dari sana, Saka dan keempat rekannya keluar. Hanya Chen dan Tedy yang akan ke kelab malam, sedangkan tiga orang lainnya termasuk Saka menunggu di tempat lain.


"Kami menunggu kalian," ucap Saka.


"Jangan khawatir, Tuan. Ini tidak akan lama," sahut Chen.


Keduanya berjalan kaki menuju kelab. Tepatnya Saka berada di jarak dua gedung dari tempat yang dituju.


"Selagi menunggu Chen dan Tedy, lebih baik aku main game," ucap Mark.


Saka tersenyum tipis. "Lakukan apa pun yang kalian inginkan sebelum bertarung."


Tedy dan Chen masuk ke dalam kelab. Biasa Raker One akan berada di tempat khusus bersama rekan sejawat. Mereka akan minum sambil bermain wanita.


"Kalian tidak boleh ke atas," ucap pengawal kepada Tedy dan Chen.


"Hei! Kami anggota VVIP," sahut Chen.


"Kalian tetap tidak boleh naik."


"Cari gara-gara. Habisi saja dia," kata Tedy.


"Dengan senang hati."


Chen mengeluarkan knuckle, lalu menghantamkannya ke perut penjaga. Keduanya memang sengaja untuk membuat kegaduhan agar Raker One datang dengan sendirinya.


Pengunjung kelab panik dengan keributan hingga sampai di telinga mangsa. Raker One bangun dari kesenangannya untuk menertibkan kondisi kelab.


"Siapa pengacau di sini?" suara Raker One menggelegar.


Cuih ... !


"Sialan! Beraninya kamu meludahiku!" murka Raker One.


"Banyak omong! Sini, lawan kami," tantang Tedy.


"Sialan! Sampai mati tidak akan aku lepaskan!"


Raker bergerak, Chen dan Tedy segera melarikan diri dari kelab. Mereka harus memancing pria itu sampai ke belakang gedung yang tidak jauh dari kelab malam.


Bukan saja Raker yang mengejar, tetapi sekitar sepuluh orang yang ingin menguliti keduanya. Chen menekan ponsel menghubungi para rekannya agar bersiap untuk menyerang.


"Kita berpencar," kata Chen.


Tedy mengangguk. Mereka berpencar memasuki gedung. Semua sudah masuk perhitungan karena sebelumnya, Saka dan bawahannya telah mempelajari situasinya beberapa hari yang lalu.


"Jangan lari!" teriak Raker One.


"Dia malah mengejarku," gumam Chen. "Harus cepat sembunyi."


Raker terengah-engah. "Di mana pria itu? Beraninya membuatku marah!" Ia berjalan pelan dan di satu sisi melihat laki-laki yang duduk di tanah. "Hei! Kamu lihat pria yang berlari di sekitar sini?"


Sosok pria itu tidak menjawab, melainkan menatap Raker dengan tajam. Raker yang kesal karena diabaikan melayangkan tangan, tetapi di tahan dengan tepat.


"Hei! Beraninya ingin melawan Tuan-mu sendiri. Oh, sudah lupa dengan atasanmu yang sebenarnya?"


"Siapa kamu?"


Pria itu bangun dengan tetap memegang tangan Raker One. "Lihat baik-baik wajahku ini." Saka membuka masker tutup mulutnya.


Raker terbelalak melihat sosok di depannya. "Tuan Saka!"


"Baguslah kalau kamu ingat. Dengan begitu aku mudah menghabisimu."


Saka memelintir tangan Raker, memukul lengan pria itu hingga patah, lalu melilit leher Raker dengan tali rantai hingga pria itu jatuh lemas ke tanah.


"Segini saja berani menantangku," ucap Saka. "Ah, aku ingin mengambil jari telunjuk ini sebagai hadiah untuk Felix."


Saka memotong jari telunjuk Raker yang memakai cincin, lalu menyimpannya ke dalam kotak.


Bersambung