Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Cengkeraman Saka



"Aku harus pulang. Urus saja masalah keluarga kalian. Aku tidak ingin ikut campur," kata Dini.


"Kamu hati-hati di jalan," ucap Sara.


"Jangan khawatir. Ingat, besok pagi kita ada pekerjaan."


Sara mengangguk. "Tentu saja aku ingat."


Dini keluar dari rumah menuju mobil. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Masih banyak waktu bagi Saka untuk kembali menarik penumpang. Pagi tadi, akun miliknya lancar, dan sangat sayang jika dihentikan sekarang.


"Bee, aku lanjut kerja, deh," ucap Saka.


Sara langsung menutup pintu dan menguncinya. "Tidak boleh. Aku tidak mau kamu pergi."


"Eh, ada apa denganmu?" tanya Saka heran.


Sara berjalan mendekat, ia menggigit jari telunjuknya, menggoyangkan tubuh dengan tatapan malu-malu.


"Bee, aku mau kamu," ucap Sara.


Saka mengangguk. "Ayo, kita ke kamar."


Wajah Sara berbinar, ia langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Saka harus menunggu istrinya selama sepuluh menit. Selagi itu, ia telah melepaskan pakaian yang dikenakan, dan menggantinya dengan handuk kimono.


"Boo!"


Saka menoleh, Sara sudah selesai dengan ritualnya. Tanpa malu-malu, Sara melepas handuk, begitu juga Saka. Keduanya seperti anak manusia yang belum mengenal sama sekali bahan kain.


"Sayangku," ucap Saka seraya mengulurkan tangan.


Sara menyambutnya dengan wajah tersipu. Saka meraih dagu sang wanita, mengangkatnya sedikit ke atas agar mata keduanya saling bertatapan.


"Aku rela meluangkan waktuku hari ini. Pasti kamu tidak akan mengecewakan diriku, kan?" bisik Saka di daun telinga Sara.


Tubuh Sara langsung menegang ketika gigi putih Saka mengapit daun telinganya. Ia sedikit geli saat embusan napas masuk ke sela-sela rongga sampai Sara tidak tahan untuk mengerang karena sapuan indra perasa Saka sampai di bagian tubuh jenjangnya.


"Sayangku, bagaimana kalau kamu yang memegang kendali kali ini?" bisik Saka.


Sara terbakar hanya karena bisikan menggoda yang suaminya lontarkan. Tubuhnya bergejolak. Bagian depan terasa kencang, dan bawahnya berkedut.


"Tentu," jawab Sara.


Permainan dimulai. Sara mengecup tulang selangka Saka, membelai otot-otot menonjol suaminya hingga ia mendapatkan sesuatu yang imut berwarna kecoklatan.


Sara mencicipinya, memutar-mutar dengan indra perasanya, lalu menggigit kecil keimutan yang Saka miliki hingga pria itu meringis sakit. Tidak hanya sampai di situ saja. Jari-jemarinya menjelajahi setiap bagian sensitif yang membuat Saka terus mengerang.


Suara berhasrat semakin nyaring ketika Sara mendapatkan bagian paling didamba oleh semua wanita. Sesuatu yang terlarang, penuh kelembutan yang semakin lama disentuh, semakin keras dan tegak.


"Ini akan terasa nikmat jika dia dimanjakan oleh bibirmu," ucap Saka.


"Aku akan memanjakannya."


Sara duduk di tepi ranjang, menghadap ketegangan Saka yang telah menimbulkan urat-urat dibalik kulit yang kecoklatan. Sara baru menyadari jika suaminya telah bercukur, bagian depannya tidak ada lagi hutan belantara. Licin hingga ia tidak tahan untuk mendekatkan pipinya di sana.


Indra perasa Sara keluar, menyusuri sepanjang garis yang ia bisa. Belitannya menggelitik, mempermainkan Saka yang sudah tidak tahan untuk diberi kehangatan.


"Lekaslah masuk," pinta Saka.


Sara tidak memperdulikan permintaan suaminya. Ia masih ingin menikmati es krim yang semakin keras.


Sara langsung memasukkan ketegangan itu ke dalam bibirnya. Saka mengerang keras. Hangat, nikmat terasa sampai ke ubun-ubunnya hingga ia tidak tahan lagi untuk mencengkeram rambut Sara, dan menggerakkan kepala istrinya maju mundur.


"Maaf, Bee. Aku sungguh tidak tahan. Kamu tenang saja, aku akan memberimu hadiah yang pantas," ucap Saka.


Sara membiarkan Saka memperlakukan dirinya sebrutal itu, ia hampir tersedak karena mulutnya terus didesak oleh benda terlarang.


Saka mendorong istrinya sampai terjungkal ke tempat tidur. Keduanya beradu dalam permainan bibir yang panas. Saka tidak terima jika ia ditaklukan oleh istrinya sendiri. Tadi ia hampir mencapai puncak karena itulah ia lekas mendorong Sara ke atas ranjang.


Sara mengerang, tubuhnya semakin panas atas kecupan-kecupan tiada henti dari Saka. Sentuhan, cengkeraman suaminya begitu kuat hingga Sara tidak tahan untuk menjerit nikmat.


"Sayang, kamu rasakan hadiah yang aku berikan ini," kata Saka.


"Aku menantikannya," sahut Sara.


Sara melebarkan kaki, sengaja mengundang Saka ke dalam lautan membara yang sudah basah sedari tadi. Sara mengerang kecil ketika jemari Saka menyentuh kelopak yang tengah berkembang.


Sapuan jarinya terasa geli. Sara mengeliat, ia ingin dilakukan lebih. Jemari saja masih kurang, ia bangun dari rebahannya, meraih kepala Saka dan membenamkannya di sana.


Sara berteriak, mengangkat pinggul agar Saka semakin membenamkan kepalanya di sana. Ia merasa bagian bawahnya benar-benar basah oleh cairan kenikmatan dan ludah yang Saka berikan. Sara tidak puas, ia ingin Saka terus membenamkan wajah di sana hingga untuk kedua kalinya, ia mencapai puncak.


Sara terengah-engah, begitu juga Saka yang dapat bernapas lega terlepas dari cengkeraman istrinya. Wajahnya memerah penuh dengan tanda cinta dari Sara.


Saka memposisikan diri di tengah. Ia mulai mendesak, kedua tangannya menyatu dengan Sara, dan ia mulai bergerak secara lambat. Saka merasakan kelembutan kulit istrinya, embusan napas Sara terasa di telinganya.


"Sebut namaku, Bee," bisik Saka, lalu mengecup bibir Sara.


"Saka," ucap Sara.


Saka mulai bergerak cepat. Memacu diri dengan tenaga. Napas yang terengah-engah, keringat yang bercucuran menjadi pertanda betapa desakan yang Saka lakukan sangat liar.


"Lebih keras lagi," pinta Sara.


Saka melakukannya. Suara yang keluar dari tubuh keduanya sangat merdu. Saka menyukai suara hentakan dari bersatunya dua tubuh yang sama-sama berkeringat.


"Sial!" ucap Saka.


Tanda cinta dalam tubuhnya akan keluar. Saka semakin mempercepat gerakan tubuhnya. Cengkeramannya pada Sara kuat hingga sampai pada akhirnya, kecepatan itu melambat. Saka terjatuh pada tubuh Sara, ia terengah-engah, tetapi juga lega karena selesai memuntahkan lahar panas di rahim Sara.


"Apa puas?" tanya Saka.


Sara mengangguk. "Iya, biarkan aku istirahat sebentar."


"Tidurlah, aku akan terus berada di sampingmu."


Dengan mudah Sara memejamkan mata, sedangkan Saka turun dari tempat tidur dengan mengambil tisu basah yang berada di atas meja. Ia membersihkan inti Sara terlebih dulu setelah itu pergi membersihkan diri.


Saka menatap dirinya di depan cermin wastafel. Ia mengingat ucapan Sara yang mengatakan sang ibu telah mengunjungi rumah mereka.


"Belinda! Aku masih tidak tahu apakah kamu ibu kandungku. Kenapa kamu membenciku?!" teriak Saka.


Sebagai anak, Saka sangat iri. Sampai usianya sedewasa ini, ia ingin merasakan kasih sayang seorang ibu. Ia cemburu kepada Arya, tetapi apa daya jika Belinda sama sekali tidak menginginkan dirinya. Wanita itu hanya berpura-pura baik. Sampai Saka mempunyai keluarga sendiri, Belinda masih mengusiknya.


"Jangan salahkan aku, Belinda! Kamu akan menyesal karena telah melahirkanku," ucap Saka geram.


Bersambung