Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Transaksi



"Aku akan pergi ke perusahaan Andreas. Aku butuh dukungan untuk mempertahankan perusahaan ini," ucap Arya.


"Dalam kondisi seperti ini kamu masih memikirkan perusahaan?" tanya Anton.


"Kamu pikir apa? Ribuan pekerja nasibnya berada di pundakku. Perusahaan mulai goyah dan orang tuaku masih belum ditemukan. Kenapa Saka belum juga menemui kita?"


"Jelas dia ingin menyiksamu. Dia sama sekali tidak meninggalkan jejak. Indra dan Velia tewas. Deri juga sudah tiada."


"Kita belum menemukan jasadnya," ucap Arya.


"Saka tidak melepasnya. Dari pasti sudah dikubur. Tinggal menunggu giliran kita saja," kata Anton.


"Sialan! Memikirkannya membuatku pusing. Lebih baik aku segera pergi untuk bertemu Andreas. Memburu Saka juga perlu uang. Aku akan sewa orang untuk menghabisinya."


Arya membawa berkas, lalu keluar dari ruang kerja. Anton menarik napas panjang, ia putus asa karena tidak bisa mendapatkan jejak Saka. Anton bangun dari kursinya, lalu menyusul Arya.


Sekitar empat puluh menit, Arya serta Anton sampai di perusahaan Andreas. Akhir-akhir ini perusahaan itu berkembang pesat. Mengambil beberapa anak perusahaan kecil di bawah naungannya. Jika Arya berhasil bekerja sama, maka saham miliknya akan naik.


"Halo, selamat siang," sapa resepsionis.


"Arya Hartawan. Tuan Andreas mengatakan aku bisa menemuinya pukul sebelas," ucap Arya.


"Baik, tunggu sebentar, Tuan."


Wanita itu menelepon bagian atas. Memberitahu kedatangan Arya. Sedikit berbincang, wanita itu tersenyum kemudian menutup telepon.


"Tuan Andreas sudah menunggu Anda. Silakan ke lantai dua puluh. Di sana akan ada yang menyambut."


Arya mengangguk, lalu segera pergi bersama Anton tanpa mengucapkan terima kasih. Keduanya masuk lift menuju lantai yang disebutkan oleh bagian penerima tamu.


Benar saja dikatakan oleh karyawan bagian depan. Seorang pria menyambut mereka. Namun yang mengejutkan adalah, pria yang menyambut adalah Andreas sendiri. Tercetak jelas dari kalung nama yang dipakai.


"Anda Tuan Andreas?" tanya Arya.


"Iya, saya Andreas."


"Maaf, tapi saya ingin bertemu Tuan Andreas pemimpin perusahaan ini," kata Arya.


Andreas tersenyum. "Dulunya perusahaan ini milik saya. Sekarang bukan lagi. Sekarang saya asisten dari bos. Kemarin kita sempat bertukar email."


Anton memperhatikan penampilan Andreas dari atas sampai bawah. Ia tidak lepas memandang begitu juga Andreas yang menatap Anton dengan senyum. Sementara Arya heran karena ruangan yang mereka datangi tidak ada karyawan lain.


"Silakan, Tuan-tuan. Kita bicarakan mengenai bisnis," ucap Andreas.


Pintu ruang kerja dibuka. Andreas mempersilakan keduanya masuk ke dalam. Namun, Arya dan Anton tidak menyangka jika ada lagi seorang pria di dalam ruangan.


Andreas berdeham. "Sebenarnya beliau yang menjadi pemimpin perusahaan ini. Saya sudah mengatakan rencana kita untuk bekerja sama."


"Itu bagus," sahut Arya. "Bisa bekerja dengan perusahaan kalian merupakan berkah."


Andreas kembali berdeham. "Tuan, tamu sudah datang. Tidak sopan duduk membelakangi mereka."


Andreas tersenyum tidak enak terhadap kedua tamunya. Namun, Arya harus menerima perlakuan tak acuh dari rekan bisnisnya. Arya kini dalam situasi sulit. Jika ia direndahkan, maka ia akan menerimanya.


Kursi berbalik dengan pria yang menampilkan senyum menyeringai. Mata Anton dan Arya hendak keluar melihat sosok di depan mereka. Pria yang dinyatakan tiada kini bangkit kembali.


"Saka!" ucap keduanya.


"Tidak melupakanku rupanya," ucap Saka.


"Sialan!" Arya membuang berkas dan hendak menyerang Saka, tetapi Anton menahannya.


"Lepaskan!" ucap Arya.


"Tahan. Ini sarang mereka," kata Anton, lalu beralih pada Andreas. "Kamu pasti Iblis tersenyum."


Andreas tertawa. "Wah! Rupanya masih ada yang mengenalku. Padahal aku sudah pensiun."


"Pasti kamu yang menyelamat Saka. Aku tidak sangka kamu berdiam di sini," kata Anton.


Andreas cuma tersenyum. Ia tidak ingin bicara panjang lebar karena di sini ia hanya sebagai pendamping Saka. Bayarannya pun sudah jelas di depan mata.


"Di mana orang tuaku?" tanya Arya. Matanya berkilat marah, emosinya naik. Arya bagai serigala yang ingin menerkam mangsanya.


"Mereka baik-baik saja. Jika ingin keduanya selamat, maka harus ada yang ditukar," ucap Saka.


"Apa yang kamu inginkan?" teriak Arya.


Saka tertawa. "Tentu saja nyawamu."


Arya dan Anton terdiam. Saka menikmati permainan ini. Ia akan membuat Arya bertekut lutut di depannya saat ini juga.


"Karena kamu adikku, aku hanya perlu sesuatu darimu saja," ucap Saka.


"Kelima jarimu."


Saka mengeluarkan belati dari saku celana, lalu meletakkannya di meja. Arya meneguk ludah. Lima buah jari sama saja Saka ingin hidupnya cacat. Lebih baik mati saja.


"Jika kamu berani, kita lawan secara terbuka," kata Anton.


"Tentu saja. Aku paling suka pertarungan terbuka."


Anton menepuk pundak Arya. "Kita pergi."


"Ingat ini, Arya! Aku akan mengambil semua yang menjadi milikku. Kutunggu kalian besok malam," ucap Saka.


"Kali ini pun kamu akan kalah," kata Arya.


Saka menampilkan senyumnya. "Lima jarimu akan segera menjadi koleksiku."


Sontak Arya mengepalkan kedua tangannya. Ia lekas melangkah keluar bersama Anton. Saka cuma menatap kepergian mereka. Pertarungan terbuka akan menjadi penentuan.


...****************...


"Kamu benar, Saka. Mereka mengikuti," kata Andreas dari seberang telepon.


"Bagus! Bawa mereka ke tempatku," ucap Saka.


"Oke. Aku siap meluncur."


Telepon diputus. Saka mengantongkan kembali ponselnya di saku celana. Ia menghampiri Flora yang asik bermain boneka.


"Sayang, kita main di luar, yuk," ajak Saka.


"Flora boleh keluar?"


"Kalau sama Papa boleh. Kita main bola di depan rumah, ya."


Flora mengangguk, lalu merentangkan tangannya. Saka menggendong putrinya. Ia mengecup pipinya dulu sebelum keluar rumah.


"Papa enggak bilang mama dulu?"


"Kita ajak mama?" tanya Saka.


Flora mengangguk. "Iya, harus izin mama."


"Anak pintar. Kita panggil mama kalau begitu," ucap Saka. "Mama!"


Saka memanggil beberapa kali. Sara muncul dari dapur dengan membawa satu gelas susu di tangan untuk Flora.


"Mau ke mana?" tanyanya.


"Kita main di luar. Ajak Flora main bola," kata Saka.


Sara mengangguk. "Depan rumah?"


"Iya, main di depan saja."


Sara mengiakan ucapan Saka. Ketiganya keluar rumah dan bermain bola di halaman. Tidak lama terdengar klakson mobil. Seorang pria keluar dan melambaikan tangan.


Sara langsung menyembunyikan Flora. "Siapa dia?"


"Jangan takut. Dia Andreas temanku," jawab Saka.


Andreas masuk begitu saja karena gerbang rumah tidak terkunci. "Halo!"


"Bee, dia temanku. Pria berjasa yang telah menyelamatkanku dari maut," ucap Saka sembari merangkul pinggang Sara.


"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Sara.


"Saka adalah temanku."


"Bee, bawa Flora masuk," kata Saka.


Sara mengangguk, lalu lekas membawa masuk Flora ke dalam rumah. Andreas memberi kode mata kepada Saka.


"Jangan menggodaku," kata Saka.


"Sialan! Mereka mengikuti," ucap Andreas. "Kupikir kalian akan benar-benar bertarung."


"Aku tidak punya bawahan banyak di sini. Kita lihat saja nanti malam. Mereka akan beraksi."


Bersambung