
Saka terengah-engah untuk naik ke daratan setelah bertahan pada kuatnya arus sungai. Ia tidak tahu sekarang berada di mana. Seluruh badannya sakit karena tiga peluru bersarang di tubuhnya. Sialnya hari malah hujan dan membuat batu di sana terasa licin.
Ia selalu ingat untuk terus bertahan meski malaikat maut telah datang sekalipun. Ayahnya pasti bisa menemukan keberadaannya kali ini. Kedua anak dan ayah itu memang berada dalam hubungan dingin.
Meski Bernad memang berada di luar negeri, tetapi pria itu tidak akan membiarkan putranya sendirian. Pasti ada sekelompok orang yang bisa menyelamatkan Saka dari ini semua.
Saka terluka di beberapa bagian. Lengan dan punggungnya terkena luka tembak. Tubuh melemah, cairan merah keluar dari badannya. Saka berharap di dalam sungai tidak ada buaya. Bisa-bisa ia dimakan dan lenyap tanpa sisa.
Saka berusaha untuk naik ke daratan. Ia mencoba mengangkat tubuhnya dengan tumpuan tangan. Tubuhnya terasa berat, tetapi ia tidak ingin menyerah.
"Sara, tunggu aku," ucapnya.
Ia mencoba lagi naik. Saka mencoba bangkit, ia terhuyung-huyung. Saka mencoba melangkah di atas bebatuan di tengah derasnya air hujan. Ia berjalan di permukaan batu yang licin.
"Aku harus kuat," gumamnya. "Oh, tidak!" Saka berteriak. Tanpa sengaja ia tergelincir. Kepalanya membentur batu, tetapi ia masih sadarkan diri. Kondisinya semakin lemah. "Apa ini akhir bagiku? Sara, anakku. Semoga kalian selamat."
Kepalanya terasa berdenyut. Ia melihat seakan sekelilingnya berputar. Pandangannya kabur setelah itu hitam. Terakhir, Saka bergumam nama istrinya.
Di sisi lain tepat di lokasi yang telah dikirimkan, tiga orang pria tengah mencari keberadaan Saka. Salah satunya adalah Andreas. Ia mendapat kabar dan perintah dari Bernad untuk menemukan Saka yang tengah dikepung oleh musuh.
"Sial! Kenapa aku terlibat dalam kasus ini? Mentang-mentang aku tinggal di sini. Jadi, aku harus mengurus anak orang. Dia itu, kan, berkuasa. Kenapa tidak menyuruh mata-mata untuk menjaga putranya? Sudah tau Saka itu banyak musuh, dan satu lagi. Kenapa Bernad itu tau kontakku?" Andreas berteriak kesal. "Aku ini sudah pensiun."
Untungnya hari sedang hujan. Teriakan Andreas tidak terdengar jelas sama sekali kecuali oleh dua anak buahnya.
"Fokuslah mencari, Tuan. Kita juga harus waspada. Kalau ada musuh yang ikut mencari bagaimana?"
"Beraninya kalian menasihatiku," sahut Andreas kesal.
"Siapa suruh Tuan pergi bertemu orang tua itu. Pasti Tuan Bernad sudah menyelidiki siapa orang terdekat putranya."
"Tuan!"
Andreas dan satu anak buahnya kaget mendengar jeritan itu. Si pria berambut gondrong menemukan jas dari seseorang.
"Saka pasti berada di sekitar sini. Kalian buang jas ini dan sebarkan gosip jika di sungai ini terdapat buaya," ucap Andreas.
"Sungai ini mana ada buaya. Sudah ditangkap waktu itu."
"Dasar bodoh! Bilang saja begitu. Biar musuh mengira Saka memang mati dimakan buaya. Kurasa memang dia sudah mati saat ini," ucap Andreas.
"Ini sama saja menakuti warga sekitar."
Andreas memukul kepala si botak yang terus menyela. "Ini jembatan penghubung. Mana ada warga tinggal di sini."
Si gondrong menyahut, "Saya akan mengabari rekan yang menyamar sebagai warga. Mereka akan mengatakan apa yang Tuan ucapkan."
"Bagus! Sekarang cepat cari posisi Saka. Ponselnya masih aktif, kan?"
"Baik, Tuan."
Untungnya Andreas punya anak buah lokal. Cuma si botak dan si gondrong yang berasal dari luar negeri. Mereka berdua dapat diandalkan dalam mencari orang. Keduanya adalah mantan detektif di negeri Paman Sam.
"Lokasinya berada di sini. Sekarang kita cari," ucap Si Botak.
"Saka pasti berada di sekitar bebatuan. Cari dengan teliti. Tidak peduli hujan deras. Mati atau hidup. Kita harus mendapatkannya," perintah Andreas.
Andreas bersama anak buahnya segera mencari. Ia berharap sungai ini memang tidak ada buaya karena jika itu sampai terjadi, maka Saka cuma tinggal nama.
"Tuan! Lihat ini?" teriak Si Gondrong.
Andreas hampir saja terjatuh di atas bebatuan ketika berlari menghampiri anak buahnya. Keduanya menemukan sosok pria yang terluka dan dalam keadaan pingsan. Itu adalah Saka.
"Untung saja ia tidak hanyut," ucap Andreas. "Apa dia masih hidup?"
"Napasnya sangat lemah," jawab Si Botak.
"Sekarang cepat bawa dia. Kita harus bergegas membawanya ke rumah sakit dan berharap dia dapat bertahan," kata Andreas.
Untuk mengunakan helikopter terlalu bahaya. Pasti saat ini musuh tengah menyusuri sungai. Andreas bersama anak buahnya memang melewati rawa yang mengarah ke sungai di mana Saka terjatuh.
Tubuh Saka dimasukkan ke dalam kantung mayat. Meski belum mati, tetapi mereka harus membawanya dengan itu.
...****************...
"Eh, Tuan-tuan ini mau ke mana? Wah! Dari luar negeri, ya? Apa kalian tersesat?"
Salah satu dari enam orang pria bertampang bule berdehem kemudian menjawab, "Kami ingin mandi sungai."
"Mandi sungai di tengah hujan begini? Eh, Tuan tau bahasa Indonesia rupanya," ucap pria yang memakai kaus dan celana jeans robek. Satu tangannya memegang payung dan satu lagi memegang pancingan.
"Begini, kami tengah berjalan-jalan dan tanpa sengaja menjatuhkan barang di sungai. Kami ingin mencarinya."
"Jangan ke sungai ini. Banyak buaya."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu pergi memancing?" tanya pria bule itu.
"Saya memancing di atas jembatan. Buaya tidak bisa menangkap saya. Lagian sedang hujan deras. Air naik dan arusnya jadi kuat. Barang yang Anda maksud pasti sudah hanyut."
Enam pria itu saling memandang kemudian salah satunya mengangguk. "Kami pergi dulu kalau begitu."
Keenamnya tidak jadi masuk ke dalam sungai. Mereka menaikkan kembali perahu karet yang telah susah dibawa ke dalam mobil bak terbuka, lalu pergi dari sana.
"Syukurlah," ucap pria itu dalam hati.
...****************...
Kedua anak buah Andreas terengah-engah. Mereka bukan berjalan santai, tetapi melangkah cepat, seperti berlari menembus rawa tempat mereka datang.
Saka harus segera diberi pertolongan pertama guna menyelamatkan nyawanya. Perkataan Saka mungkin ada benarnya. Malaikat maut enggan untuk mengambil nyawanya yang sekarat itu.
Ketika melihat tiga orang pria, anak buah Andreas yang lain segera menolong. Mereka membuka mobil yang berpotongan seperti ambulan dan di sana sudah ada dokter.
Dalam perjalanan, Andreas telah memberi sinyal untuk bergerak. Ketika sinyal itu mendekat barulah mobil itu muncul di jalan tidak jauh dari jembatan.
"Cepat tangani!" perintan Andreas. "Semuanya masuk. Kita langsung berangkat."
Dokter segera melakukan tindakan pertama. Tidak peduli betapa sibuknya anak buah Andreas yang menutup pintu kemudian masuk ke dalam mobil, seperti dikejar setan. Kendaraan roda empat segera berlalu dari sana demi keselamatan tentunya.
Bersambung