Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Makan Malam



Sesampainya di kediaman, Sara dan Saka langsung masuk ke dalam rumah. Dini masih belum tidur dan wanita itu masih duduk di ruang keluarga sembari menonton TV.


Saka sungguh tidak enak hati ada orang lain di rumah istrinya. Ia langsung naik ke atas menuju kamar padahal perutnya keroncongan. Selepas dari rumah sakit mereka belum makan malam. Hanya pengertian dari istrinya yang akan membuatnya kenyang. Saka melirik ke sofa, Sara tampak berbincang dengan Dini.


"Aku haus dan lapar. Dia malah bicara dengan temannya. Memang secepatnya aku harus mencari rumah," gumam Saka dengan menaiki anak tangga satu per satu.


"Bagaimana dengan Indra?" tanya Dini.


"Dia masih belum menerimanya, tetapi aku tidak peduli. Aku mau masak dulu. Suamiku akan kelaparan nantinya."


"Wah! Sara, kamu sungguh ingin menjadi istri baik? Kukumu akan rusak jika mengurus masalah dapur," ledek Dini.


"Kamu mengejekku? Aku seorang wanita dan sudah menjadi istri. Aku tidak akan melupakan kodratku. Termasuk saat memiliki anak nantinya."


"Kamu telah merencanakan masa depanmu."


"Tentu saja. Lebih baik kita bicara sambil memasak saja. Sekalian kamu bantu aku," ucap Sara.


Keduanya menuju dapur. Sara hanya bisa memasak hal sederhana dan kebanyakan itu makanan sehat karena ia harus menjaga bentuk tubuh. Lain halnya dengan Dini yang merupakan pemakan dari segala makanan enak. Dengan bantuan sahabatnya, Sara akan memasak menu istimewa di hari pertama pernikahannya.


Di dalam kamar tidur, Saka sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Untungnya ia membawa baju ganti untuk berjaga-jaga. Seharusnya ia membawa istrinya ke hotel untuk bulan madu, keadaan dari rumah sakit telah membuat keinginan itu buyar. Ditambah suasana rumah yang membuat canggung.


"Kenapa Sara belum juga naik ke atas? Apa dia sibuk dengan sahabatnya itu?" gumam Saka. "Mau ke dapur, tapi aku malu. Dini membuatku tidak nyaman saja, dan di mana pelayan yang bekerja di sini?"


Pelayan yang membersihkan rumah hanya datang waktu pagi sampai sore. Hanya ada dua penjaga saja yang bermalam dan bergantian untuk menjaga rumah dari sang model.


Pintu kamar terbuka. "Boo sayang!" Sara langsung memeluk Saka dari belakang. "Wangi. Sudah mandi rupanya."


Saka membalik diri. "Masih ingat dengan suamimu? Aku kelaparan dan kehausan."


"Kenapa tidak memanggilku?"


"Kamu sibuk dengan sahabatmu," jawab Saka.


"Aku sudah siapkan makan malam. Kita makan bersama," kata Sara.


"Dini juga ikut?"


Sara mengangguk. "Kamu akan terbiasa dengannya nanti. Ini rumahku dan aku istrimu."


"Seharusnya aku tidak merasa canggung. Hanya saja aku malas berdebat dengannya. Terakhir dia meremehkanku," ungkap Saka.


"Dia menghinamu? Aku akan bicara dengannya."


"Jangan, Bee. Aku malas berdebat saja waktu itu. Jangan katakan apa pun, dan aku tidak ingin dianggap sebagai suami pengadu."


"Baiklah, lupakan soal itu. Kita makan malam dulu."


Keduanya berjalan beriringan bersama menuju ruang makan. Di sana sudah ada Dini yang duduk manis menunggu keduanya. Sara menarik kursi depan karena Saka adalah pemimpin dari keluarga. Dia juga menjalani peran sebagai istri baik yang melayani sang suami.


"Terima kasih," ucap Saka.


"Sudah tugasku. Semoga kamu suka masakan yang aku buat," kata Sara.


Saka sudah cukup senang dengan hidangan apa adanya. Menu ayam goreng serta sayur sop dan sambal terasi. Ada juga salad sayur, ayam rebus tanpa kulit yang menjadi menu makan malam Sara.


"Aku tidak keberatan makan makanan sepertimu," ucap Saka kepada istrinya.


"Bukan, aku hanya tidak ingin kamu repot dengan memasak. Menu sayuran rebus akan aku makan," kata Saka.


"Aku tidak repot. Lagian ini tugasku. Kalau sibuk, aku tidak akan bisa memasak untukmu," ucap Sara.


Saka tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."


"Jadi, kamu tidak jadi pensiun dalam dunia hiburan?" tanya Dini.


"Aku akan bicarakan ini bersama Saka nanti."


Selesai makan malam bersama, Saka dan Sara langsung kembali ke kamar tidur mereka. Untuk urusan dapur akan dikerjakan besok pagi oleh pelayan yang datang.


"Kamu mengizinkanku bekerja?" tanya Sara.


Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Saka meraih handuk kecil, lalu membantu istrinya mengeringkan helaian hitam yang menitikkan air.


"Lakukan apa pun yang kamu inginkan. Aku mendukungmu, tetapi jangan lupakan aku sebagai suamimu," ucap Saka.


Sara menengadahkan kepalanya ke atas. "Tentu saja, kamu adalah suamiku. Kamu yang sekarang menjadi prioritasku."


Saka mengecup bibir Sara, kecupan yang terasa hangat dan mendalam. Ia beralih, merapatkan diri, memegang kepala Sara untuk tetap tertahan. Sara membalas, menyambut pancingan hasrat yang Saka berikan.


"Apa pintunya sudah dikunci?" tanya Saka.


"Tidak ada yang akan menganggu kita. Lakukan saja permainan yang kamu janjikan tadi."


Saka tidak segan sama sekali, ia langsung menghujani bagian jenjang milik Sara dengan kecupan-kecupan hangat. Tangannya menyusur ke bawah, menarik tali pengikat agar dapat menelusup masuk membelai kelembutan dari sisi paling terdalam istrinya.


Tangannya berada di atas keranuman lembab, menekan lembut seakan bagian itu sangatlah rapuh. Sentuhan Saka membangkitkan saraf di tubuh Sara. Ia merekah, sekujur tubuhnya merona, mendamba untuk segera dipermainkan.


Sara melipat bibir ketika Saka menemukan puncak dari keranuman. Jemarinya memijit, menarik hingga membuat bagian kecil itu menegang.


Saka masih menjelajahi tulang selangka Sara dengan bibirnya. Menyapukan indra perasanya ke cuping telinga Sara dan berhasil membuat gelora wanita itu terbakar.


Saka menghentikan jarinya, membuat Sara ingin protes, tetapi Saka tidak akan mengecewakan istrinya. Jemari itu digantikan dengan bibir yang dibenamkan di sana. Suara berat dikeluarkan Sara ketika Saka menggigit benda imut itu.


"Sakit," kata Sara.


Saka mengangkat wajahnya, ia menyapukan indra perasa di atas bagian yang digigit tadi. Selanjutnya seperti itu, Saka memberi sakit, lalu menghilangkannya dengan sapuan indra perasa.


Sara memeluk suaminya, menarik pakaian yang masih melekat di tubuh Saka. Secepatnya baju itu terlepas, Sara dapat mengecup bahu lebar dan leher suaminya.


Saka mengerang ketika Sara menyusuri setiap lekuk tubuhnya. Berawal dari pundak, otot bisep, lalu turun ke punggung belakang. Sara merasakan sesuatu menonjol yang menekan perutnya. Ia langsung memeluk Saka erat, kehangatan terasa, lalu bertukar menjadi dingin ketika Saka menarik diri.


Saka tersenyum karena Sara tidak merelakan dirinya bangun. "Sebentar, aku buka bagian terakhir dulu."


Saka melepas bagian penutup dari kakinya kemudian menarik handuk kimono yang masih berada di tubuh Sara. Semua halangan itu disingkirkan sampai keduanya begitu polos dan siap untuk melakukan adegan yang lebih menantang.


Saka menindih istrinya, Sara langsung memeluk kembali tubuh kekar itu. Merasakan sensasi hangat dari tonjolan yang menyentuh perutnya. Satu tangan Sara menyusur ke bawah. Jemarinya memberanikan diri untuk menyentuh ketegangan dari milik suaminya.


Saka berbisik, "Kamu mulai nakal."


Bersambung