
Sara menatap lekat Saka. Ia tidak salah dengar dengan apa yang suaminya katakan. Saka sangat jelas mengucapkan bagian terakhir dari kosakata yang membuat bulu kuduk merinding.
"Pembunuh?" tanya Sara.
Saka menunduk. Ia sudah mengungkapkan yang sebenarnya. Memang ia seorang pria sadis yang menghabisi lawannya tanpa ampun. Saka melenyapkan orang-orang yang menjadi musuhnya. Tangan berlumuran dosa, bahkan ia tidak dapat menghitung berapa banyak musuh yang ia ambil nyawanya secara paksa.
Sara tertawa keras. Menggelengkan kepala seolah ucapan yang dilontarkan Saka sangatlah lucu. "Astaga! Hari ini bukan tanggal ulang tahunku, Boo. Jangan menakutiku."
"Aku .... " Saka membiarkan Sara tertawa sepuasnya. "Iya, Bee. Aku cuma bercanda."
"Aku mandi dulu."
Sara masih tertawa ketika melangkah ke kamar tidur. Saka mengembuskan napas berat, bagaimanapun Sara tidak akan percaya dengan apa yang Saka kerjakan selama hidupnya.
Dunia gelap Saka tidak mudah untuk diterima Sara. Ibarat Sara hidup dalam kenyataan di mana ia adalah seorang model. Mempunyai suami, menginginkan pernikahan bahagia dan memiliki anak.
Dunia Saka bagai fantasi yang mana di dalamnya terdapat banyak musuh, jebakan, senjata api, obat-obatan, uang serta wanita berpakaian pendek.
"Seharusnya aku tidak menikahi dirinya. Sara dan aku jelas berbeda. Suatu saat aku akan pergi," gumam Saka.
Saka berjalan gontai menuju kamar tidur. Menyusul Sara yang bersuka cita memainkan air di dalam bilik mandi. Saka melepaskan pakaian atas, lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Ranjang bergoyang ketika Sara ikut naik dengan masih mengunakan handuk di tubuhnya. Ia memperhatikan Saka yang hari ini terlihat berbeda. Sejak tadi suaminya menjadi pendiam.
"Apa yang membuatmu diam?" tanya Sara.
"Pakai bajumu dulu."
Sara menggeleng dan malah membuka handuk yang melilit tubuhnya kemudian membuangnya di lantai. Selimut tebal ditarik sampai bawah leher sebagai penghangat.
"Katakan padaku. Apa yang membuatmu marah?" desak Sara.
"Aku tidak marah. Hanya saja aku tidak dapat banyak uang hari ini."
Saka tidak bohong karena memang hari ini, penumpang yang ia dapatkan hanya sedikit. Uang yang masuk hanya lima puluh ribu dikurangi jajan selama diperjalanan, dan sekarang tinggal tiga puluh ribu.
"Kamu membutuhkan uang? Aku bisa memberikannya untukmu," kata Sara.
Saka menatap mata bening Sara, ia kecup keningnya, lalu membawa sang istri ke dalam pelukan. "Ceritakan mengenai keluargamu."
"Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku berpisah. Sejak umur sepuluh tahun hanya tinggal bersama nenek."
"Ke mana nenekmu?" tanya Saka.
"Sudah meninggal dan saat itu aku hidup sendiri. Aku anak yatim piatu, sampai sekarang tidak tau di mana keluargaku. Entah hidup atau mati aku tidak tau," ucap Sara. "Bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu. Bedanya mereka ada di sekitarku," jawab Saka.
Sara menarik diri. "Mereka tau kalau kita sudah menikah?"
Saka mengangguk. "Iya."
Sara membisu, ia membelakangi Saka secepat kilat. Kenapa Saka tidak ingin memperkenalkan Sara kepada keluarganya? Mereka telah bersama dalam ikatan pernikahan.
"Bee, aku akan membawamu kepada mereka," ucap Saka.
Sara membalik diri menghadap suaminya. "Kenapa baru sekarang?"
"Biar aku beritahu kondisi keluargaku sebelum kita datang," ucap Saka.
"Aku siap mendengarkan."
"Aku punya ibu dan ayah tiri. Mereka tidak menyukaiku," ungkap Saka.
"Kamu juga punya saudara?" tanya Sara.
Saka mengangguk. "Iya, aku punya saudara tiri laki-laki. Dia juga sama, tidak menyukaiku."
"Di mana ayah kandungmu?"
"Kita tidak perlu membahasnya," jawab Saka.
"Kamu membunuhnya? Kamu bilang kalau kamu adalah pria berdarah dingin," ucap Sara dalam nada candaan.
"Bagiku kamu tidak begitu. Kamu pria hangat."
Sara naik ke atas pangkuan tubuh Saka, tepat di atas pusar dengan sesekali menggesekkan tubuh bawahnya. Saka cuma tersenyum, menarik diri Sara untuk menciptakan sebuah permainan indah malam ini.
...****************...
Saka sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Pesan beruntun yang masuk ke dalam ponsel, mengabarkan keadaan terburuk dari usahanya selama ini.
Semua asetnya telah disita dari berbagai negara. Anak buahnya telah diambil alih oleh seorang pria yang tidak boleh disebut namanya. Satu tujuan dari kejadian ini agar Saka kembali ke tempat yang seharusnya.
Saka memang lahir di negara kelahiran ibunya, tetapi hidupnya berada di tempat lain. Negara maju dengan segala kecanggihannya karena disitulah ia bisa mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang selama ini menghidupinya.
Saka kembali karena ke Indonesia karena ia sudah tidak ingin berada di dunia bawah, tetapi keadaan tidak semudah membalik telapak tangan.
Musuh-musuh yang mempunyai dendam tidak akan membiarkannya begitu saja. Mereka ingin Saka tiada hanya untuk sebuah kekuasaan.Yang bisa dilakukan adalah melawan, lalu berlari dari satu tempat ke tempat lain.
"Kamu mau beli mobil lagi?" tanya Saka.
"Iya. Mobil ini untuk kita," jawab Sara.
Akhirnya, Sara mengajak Saka untuk membeli mobil di salah satu showroom di Jakarta. Untungnya proses syuting bisa diselesaikan pada siang hari, dan mereka berdua bisa jalan bersama untuk melihat kendaraan roda empat yang dipamerkan.
"Enggak suka lagi naik motor?"
"Suka, tapi terlalu beresiko. Aku tidak mau ada video seperti itu lagi."
"Kamu malu?" tanya Saka.
"Tidak," jawab Sara cepat. "Kamu tidak ingin mobil?"
"Ini seperti melukai harga diriku."
"Aku tidak bermaksud begitu. Kita pulang saja kalau kamu tidak menginginkannya," ucap Sara.
"Hei! Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja. Seharusnya aku yang membelikanmu semua barang ini."
"Kamu bisa membelikan barang mewah ketika banyak uang," ucap Sara.
Andai Sara tahu kalau mobil yang ada di showroom itu bukan kendaraan yang pantas untuk suaminya. Saka terbiasa mengendarai mobil mewah, lalu menghancurkan kendaraan itu sesuka hatinya.
"Suatu saat aku akan menghadiahkan mobil impianmu," ucap Saka.
Sara memilih mobil warna hitam yang dibayar dengan tunai hari itu juga. Dengan kendaraan ini, Sara bisa leluasa dijemput oleh Saka tanpa harus menyembunyikan wajahnya.
"Kamu sudah luangkan waktu untuk kunjungan kita ke rumah keluargaku?" tanya Saka.
"Besok jadwalku kosong. Kita bisa pergi malam harinya," sahut Sara.
Saka tersenyum. "Berdandanlah yang cantik. Aku ingin mereka memujimu."
"Memangnya aku tidak cantik? Apa kecantikanku hanya karena make up?"
"Kamu cantik di mataku," ucap Saka.
"Tuh, kan, aku beneran enggak cantik."
Saka salah bicara. Wanita maunya cantik di mata suami dan semua orang. Saka mengatakan kecantikan Sara hanya untuknya, lalu bagaimana dengan pandangan orang lain? Sara seorang model yang harus sempurna di depan orang lain yang memandang.
"Kamu cantik, Bee. Sangat cantik, tetapi di mataku kamu sempurna. Tidak ada wanita yang lebih cantik darimu," ucap Saka.
"Sungguh?"
"Sumpah," jawab Saka.
Sara memeluk Saka erat. "Kamu juga pria paling tampan di mataku."
Selamat, batin Saka.
Bersambung