Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Pesan Indra



Saka segera memasukkan kembali laptop di dalam tasnya kemudian menyimpannya di lemari. Saat ini keberadaannya telah diketahui, dan orang yang ingin menemukannya telah mematahkan sayap Saka.


Dering pesan masuk ke dalam ponsel. Saka menjejalkan tangan ke saku celana, meraih gawai, lalu membuka pesan dari nomor asing. Matanya terbelalak, Saka mengumpat keras dan menendang kursi.


"Sial! Sial! Sial! Dia memblokir akunku. Uang sisa dua puluh juta dan dia mengambilnya! Dia pikir aku akan kalah! Aku Saka tidak akan pernah menyerah sama sekali," ucapnya. Saka menarik napas panjang kemudian mengembuskannya. Begitu sampai berkali-kali. "Lupakan soal ini dulu. Aku harus menjemput Sara. Sayangku pasti tengah menunggu."


Saka keluar dari kamar menuju pintu depan. Ia meraih kunci motor dan jaket kulit yang berada di atas sofa kemudian melangkah pergi.


...****************...


Sara telah selesai melakukan sesi foto untuk pemotretan hari ini. Besok, ia akan melakukan syuting iklan produk kecantikan dari sebuah brand. Sebuah perona bibir keluaran terbaru yang meminta jasanya sebagai model.


"Biar aku antar pulang," kata Dini.


"Aku sudah minta Saka menjemput. Kamu pulang saja kalau mau."


"Saka pakai motor, lebih baik pakai mobil. Ini sudah malam, Sara!"


Sara menatap Dini. "Aku ingin membeli mobil lagi untuk Saka. Ya, aku ingin beli lagi buat kami."


"Apa? Beli mobil lagi?" tanya Dini.


"Kenapa? Saka adalah suamiku dan aku ingin membelikannya kendaraan yang sama seperti yang kupakai. Naik motor juga enak, sih. Malah asik bisa pelukan. Pokoknya aku harus beli mobil!"


Dini menghela. "Terserah kamu saja."


Dini dan Sara berjalan bersama menuju lantai dasar. Keduanya duduk di kursi lobi sembari menunggu Saka datang menjemput. Namun, orang yang tiba di studio bukan pria yang diharapkan.


"Indra! Kamu di sini?" tanya Sara yang langsung beranjak dari duduknya.


"Tentu saja aku tau di mana kamu berada. Kita sudah bersama selama beberapa tahun."


"Pergilah, In. Kalau wartawan sampai tau, maka akan timbul gosip yang tidak benar. Isu mengenai diriku sudah terlalu banyak," kata Sara.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu. Tinggalkan pria itu! Dia pria jahat, Sara. Aku tau siapa Saka sebenarnya," kata Indra.


"Kamu bicara apa, sih?"


"Aku serius mengatakan hal ini kepadamu. Tinggalkan dia. Saka tidak pantas bersamamu," ucap Indra.


"Oh, tidak! Indra, cepat sembunyi, wartawan datang," seru Dini.


Indra dan Sara menoleh depan, dan memang ada sekumpulan wartawan gosip yang datang. Indra mengumpat. Pemberitahuan Dini sudah terlambat karena wartawan itu sudah mengacungkan mikrofon serta membidikkan kameranya. Kilatan lensa tiada henti menangkap gambar Sara bersama Indra.


"Mbak Sara! Anda masih berhubungan dengan Tuan Indra. Apa yang terjadi? Apa Anda masih menjalin hubungan bersamanya?" tanya wartawan pria beruntun.


Dua satpam hanya bisa menghalangi sekumpulan wartawan itu untuk tidak masuk ke dalam gedung. Mereka tertahan di depan pintu masuk.


Sara melangkah maju termasuk Indra dan Dini. Wartawan mundur hingga semuanya berada di luar gedung. Sara tersenyum, memasang wajah penuh kepura-puraan.


"Saya dan Indra hanya teman. Kebetulan Indra dan saya memiliki kerjasama, dan beliau datang cuma untuk menanyakan bisnis," ucap Sara.


"Sejak kapan itu?"


Sara memandang Indra agar pria itu memberi tanggapan kepada wartawan. Indra tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari para pencari berita.


"Sebenarnya, saat kami bersama telah menjalin hubungan kerja. Saya tidak mungkin memutus jalinan kerja sama yang telah kami bangun selama beberapa tahun ini. Sara dan saya sudah tidak punya hubungan apa pun. Saya punya istri yang sangat saya cintai, begitu juga Sara. Kami sudah punya pasangan masing-masing, dan pertemuan ini hanya pertemuan biasa. Kalian tau sendiri jika Sara sangat sibuk. Saya harus menemuinya sendiri untuk memberitahu keadaan bisnis kami," tutur Indra diselingi tawa kecil.


"Mbak Sara, sebenarnya siapa pria itu? Apa Anda punya pasangan seorang tukang ojek?"


"Apa artinya itu benar? Anda tidak takut dimanfaatkan?"


Sara menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan semua. "Maaf semua. Saya rasa sudah cukup wawancaranya. Intinya, saya punya pasangan dan saya mencintainya."


Sara memberi kode agar Dini membawanya. Dini meminta satpam untuk mengiringi mereka sampai ke mobil. Pencari berita tidak putus asa. Mereka tetap mengikuti sampai Sara masuk ke dalam kendaraannya, dan berlalu dari hadapan mereka semua.


"Indra memang pembawa petaka! Kenapa dia datang ke studio?" ucap Sara kesal.


"Indra mengetahui Saka. Dia seorang penjahat, Sar," sahut Dini.


"Diamlah, Din. Sejak kapan kamu percaya kata pria itu? Indra hanya membual," kata Sara. "Aku harus menghubungi Saka untuk tidak datang ke studio. Aku akan menyuruhnya menunggu di rumah."


Sara mengirim pesan kepada suaminya, sedangkan Saka sedari tadi sudah sampai di studio. Ia melihat Indra yang bicara kepada Sara, lalu wartawan yang menyerbu istrinya.


"Sebaiknya aku lekas pulang," gumam Saka ketika ia membaca pesan masuk.


Saka tidak mungkin menerobos masuk ke dalam kerumunan wartawan tadi hanya untuk mengatakan jika ia adalah suami dari Sara.


Saka cukup tahu diri. Ia tidak memiliki apa-apa untuk saat ini. Reputasi Sara harus dijaga. Video yang sudah terlanjur di lihat orang sudah membuat komentar buruk mengenai istrinya, dan Saka tidak ingin menambah beban.


"Sepertinya Saka tidak berada di rumah," ucap Sara ketika sampai di depan kediamannya. "Kunci rumah berada di bawah pot."


"Kamu masuk saja dulu. Mungkin Saka sudah terlanjur jalan ketika kamu mengirim pesan. Kamu mau aku menemanimu dulu?" tawar Dini.


"Kamu pulang saja. Ini sudah malam, dan tidak baik untukmu."


"Aku balik, deh," pamit Dini.


Begitu Dini ingin masuk ke dalam mobil, Saka masuk ke halaman rumah dengan kendaraan roda duanya. Sara tersenyum dan segera menghampiri suaminya.


"Maaf karena aku tiba-tiba ingkar janji," kata Sara.


"Enggak apa-apa. Aku masih di perjalanan tadi," ucap Saka bohong.


"Aku balik! Kalian masuklah. Ya ampun! Setiap waktu kalian bermesraan? Setiap ketemu nempel melulu," kata Dini.


Sara tertawa kemudian menjawab, "Beginilah enaknya pengantin baru."


Dini menanggapi dengan embusan napas kasar. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan secepatnya berlalu dari sana. Tidak baik untuk berlama-lama di hadapan pasangan yang tengah kasmaran. Jiwa jomlonya meronta-ronta menginginkan hal yang sama.


"Ayo, masuk!" ajak Sara.


Saka manut dengan mengikuti langkah Sara. "Bee, aku ingin bicara denganmu."


"Nanti saja. Aku mau mandi dulu."


"Sebentar dulu, Bee. Ini penting," kata Saka.


Sara mengerutkan kening. "Ada apa, Boo?"


"Kamu enggak menyesal menikah denganku?"


"Enggaklah," jawab Sara.


"Sayang, aku ini seorang pembunuh."


Bersambung