Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Menjatuhkan Indra



"Cari tau segalanya tentang pria itu. Semakin detil malah bagus. Aku ingin kariernya hancur," perintah Saka.


"Siap, Tuan. Aku dan Josh yang akan mematai Indra," sahut Chen.


"Tugas kita sekarang adalah mengambil Sara. Aku dilema saat ini. Jika muncul begitu saja, maka Arya tidak akan tinggal diam. Jika menyerang secara diam, maka Arya akan curiga kalau aku masih hidup. Aku bingung harus apa," ucap Saka.


"Kita culik saja, Tuan," usul Mark.


"Justru dengan menculik nyonya, maka akan membuat keberadaan Tuan terekspos," sahut Tedy.


Saka menggebrak meja. "Kiri dan kanan tetap sama saja. Kita buat guncangan lebih dulu setelah itu baru menyelamatkan Sara. Kuharap anak dan istriku bisa bertahan."


"Kami pergi dulu, Tuan," pamit Josh.


Saka mengangguk. "Berhati-hatilah. Wajah kalian akan mengundang perhatian. Lebih baik menyamar sebagai warga lokal."


"Kami akan menyamar. Tuan tenang saja," kata Chen.


Saka mengangguk. Kedua bawahannya keluar dari kediaman. Saka menyewa rumah mewah sebagai tempat tinggalnya bersama keempat anak buahnya.


...****************...


"Apa ini rumah dari target kita?" tanya Chen.


"Iya. Aku sudah mendapatkan alamatnya. Ini rumahnya, dan lihat di depan pintu itu. Dia pria yang menjadi target," tutur Josh.


Chen memandang Indra yang tengah berpamitan kepada istri serta anaknya. Anak kedua Indra seorang laki-laki yang hanya beda satu setengah tahun dari Flora.


"Keluarga harmonis," celetuk Chen.


Josh berdecih. "Justru pemandangan itu yang membuat curiga."


"Apa yang kamu dapatkan dari komputermu itu?"


Josh menyengir. "Kosong. Indra bersih. Tidak ada jejak skandal yang dilakukannya selama menjadi anggota dewan. Kecuali waktu dia masih bersama model bernama Sara."


Chen menoyor kepala Josh. "Kemampuanmu sudah berkurang sepertinya. Pria itu saja bisa berbuat tidak baik pada nyonya. Mana mungkin dia bersih. Satu lagi. Sara itu adalah nyonya kita."


Josh menggosok kepalanya. "Iya. Kamu tau sendiri jika ada orang seperti kita yang menjadi musuh bagi Tuan. Aku sedikit susah meretas."


"Sungguh kemampuanmu sudah berkurang. Aku akan katakan kepada tuan jika kamu sudah tidak berguna."


"Hei! Kamu meremehkan-ku. Dalam lima detik, aku bisa mencari tau rahasia dari pria itu," ucap Josh.


"Lakukan. Cek arus dana yang keluar masuk dari pria itu," kata Chen.


"Kamu bukan atasanku!"


"Aku cuma memberi saran." Mata Chen beralih pada Indra yang sudah masuk dalam mobil. "Dia mau pergi. Kita harus ikuti."


"Kamu yang pegang setirnya. Ikuti saja," sahut Josh.


Chen baru mengikuti setelah mobil yang dikendarai Indra sedikit menjauh. Tidak ada yang aneh dari hal ini. Indra pergi ke gedung tempatnya bekerja.


"Apa jadwalnya hari ini?" tanya Chen.


"Aku perlu waktu untuk mencari tau," jawab Josh.


"Menyadap begitu saja sangat lama."


"Aku sudah bilang kalau dia dilindungi. Lima menit lagi aku dapat jadwalnya," kata Josh.


Chen melajukan mobil. Dari jarak sekitar dua puluh meter akan ada kamera pengintai. Mereka tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun. Celah sedikit saja, maka semuanya akan habis.


"Dapat! Malam nanti di hotel Emerald," ucap Josh.


"Sadap semua percakapan Indra di telepon dan orang-orang terdekatnya," kata Chen. "Sebaiknya kita langsung ke hotel itu."


"Beres untuk soal menyadap ini."


...****************...


Tidak lama, satu orang pria datang lagi bersama satu wanita. Indra tidak memperdulikan dua tamu itu. Ia berjalan masuk lift menuju kamar.


"Jadi, pria yang bersalaman itu yang menjadi target Indra," ucap Chen.


"Dua tamu yang masuk tadi adalah suruhannya. Indra menghadiahkan gadis muda itu untuk orang yang duduk," sahut Josh.


"Ternyata sangat gampang menangkap mereka. Kamu sudah menghubungi lembaga pemberantasan korupsi, kan?"


"Wartawan juga sudah aku hubungi. Lihat, pria yang duduk itu pergi. Ayo, kita ke kamar juga," kata Josh.


Chen berjalan lebih dulu, lalu disusul Josh lima menit kemudian. Chen menyewa kamar yang bersebelahan dengan target. Sangat mudah mengetahui karena Josh sudah bisa menyadap ponsel milik Indra dan orang terdekatnya.


"Bagaimana Tuan Feri? Anda suka hadiahnya?" tanya Indra.


Pria berumur lima puluh tahun itu mengangguk. "Cantik. Saya suka."


"Kerja sama pembangunan gedung olahraga disetujui?"


"Tentu saja. Saya bagi lima puluh persen keuntungannya. Kita pakai bahan yang biasa saja agar banyak untung," ucap Feri.


Indra tertawa. "Ya, baiklah. Kalau begitu, silakan menikmati."


Indra keluar dari kamar meninggalkan Feri dan gadis muda. Ketika ia ingin melangkah ke kamar sebelahnya, dering ponsel berbunyi. Indra menjejalkan tangan ke saku celana mengambil gawai. Ia menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel ke telinga.


"Kamu di mana?" tanya Anton.


"Di hotel. Kenapa?"


"Cepat pergi dari sana. Ada yang menyadap ponselmu. Cepat pergi! Aku akan datang bersama anak buahku."


"Ada apa sebenarnya?" Indra panik.


"Aku bilang cepat .... "


Tubuh Indra terbentur dinding. Ponsel yang ia pegang terjatuh. Seorang pria bertopi meraih gawai itu, lalu menyerahkannya kepada Indra.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja." Pria yang menabrak berbicara bahasa asing.


"Matamu di mana, hah?" sahut Indra bernada marah dalam bahasa Inggris.


"Hei! Aku sudah minta maaf padamu. Jangan berteriak padaku!" ucap Chen.


"Aku sedang menerima telepon penting, Sialan!"


Josh berjalan menghampiri dan melerai. "Maafkan kami, Teman. Kita akhiri sampai di sini saja."


Josh segera membawa Chen pergi. Mereka masuk ke kamar yang disewa. Chen memang sengaja karena Josh memberitahu mereka telah ketahuan oleh musuh. Chen mengulur waktu agar wartawan segera menemukan keberadaan Indra.


"Sialan! Aku harus pergi dari sini," ucap Indra.


Baru melangkah, kilatan kamera sudah memotretnya. Indra membelalak. Tiba-tiba saja ada orang-orang dari lembaga korupsi yang datang.


"Pak Indra! Anda kami tahan."


"Apa-apaan ini?" tanya Indra kaget.


"Kalian dobrak pintu kamar ini. Bawa semua yang terlibat."


Pintu didobrak. Dua pria masuk serta wartawan yang tidak menyia-yiakan kesempatan untuk memotret gambar bagus. Pengusaha serta wanitanya digiring termasuk Indra serta satu rekan prianya.


"Pak Indra, apa Anda terlibat dalam kasus korupsi pembangunan gedung olahraga? Bukan hanya itu Anda juga terlibat dalam penyuapan," tanya seorang wartawan.


Indra diam saja. Ia tidak berkomentar dan manut digiring ke dalam mobil beserta tiga rekannya.


"Serangan berikutnya akan terjadi besok," ucap Josh.


"Harus hati-hati menyimpan data. Anton akan melindungi rekannya itu," sahut Chen.


Bersambung