Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Habis Semua



Arya terbangun ketika wajahnya disiram air. Ia mengerjap beberapa kali. Menggelengkan kepala agar bisa terbebas dari air yang menetes dari rambutnya.


Ia masih belum sadar akan keadaan sekitar, tetapi tubuhnya tidak leluasa bergerak. Tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan sebab terikat oleh tali tambang.


"Apa-apaan ini?" ucapnya.


"Masih belum sadar," tegur seseorang.


Arya memandang pria yang bicara. Sosok Saka berada di depannya. Memutar-mutar belati di tangan. Arya meneguk ludah. Ketakutan tiba-tiba hadir dalam benaknya.


"Lepaskan aku!" pintanya.


"Lepaskan? Tentu saja," ucap Saka.


"Anton! Di mana kamu?" teriak Arya.


Saka berdecih. "Pria itu tidak selevel denganku. Tapi aku akui jika dari awal sampai akhir aku tidak bisa menghabisinya. Dia malah dihabisi oleh orang lain. Sungguh sangat mengesalkan. Aku sangat marah dan butuh pelampiasan."


"Lepaskan aku, Kakak," ucap Arya.


Saka tertegun mendengarnya. Arya memanggilnya kakak. Sebuah panggilan yang sedari dulu Saka harapkan dari sang adik. Arya adalah anak baik. Sejak kecil sebelum dia tahu kalau ada perbedaan antara mereka berdua, Saka sering bermain bersama adiknya.


"Sudah lama aku ingin mendengar panggilan itu darimu. Kenapa baru sekarang kamu mengucapkan kata yang menyentuh?" tanya Saka.


"Kita memang kakak beradik," kata Arya.


"Saudara tiri. Satu ibu dan beda ayah. Sayangnya mama malah lebih menyayangimu. Aku bukan anaknya. Kalian membuangku."


Saka mendekat, Arya gelisah dari kursinya. Ia ingin menghindar, tetapi tidak bisa sebab tubuhnya terikat.


"Jangan mendekat!" ucap Arya.


"Adikku sayang. Oh, sebelum itu aku akan membiarkanmu melepas rindu bersama keluarga tercinta."


Chen yang berada di kamar mengangguk ketika melihat kode tangan dari Saka. Ia keluar dan tidak lama kembali bersama para tawanan.


Belinda, Hartawan serta Lisa dibawa masuk ke dalam. Ketiga orang dengan tangan terikat kaget ketika melihat Arya yang sudah berada di tangan Saka.


"Arya!" ucap Belinda.


"Mama, Papa."


"Lepaskan anakku, Saka!" teriak Hartawan.


Saka mengorek kupingnya. Rasanya teriakan Hartawan sedikit membuatnya tuli. Saka menyuruh rekannya untuk mendudukkan mereka di kursi dan diikat kembali.


"Di mana putraku?" tanya Lisa.


"Sudah mati," jawab Saka.


"Dia saudaramu!" bentak Lisa.


"Aku bosan mendengar kalian menyebut ini saudara, ini kerabat. Aku juga tau kalian itu punya hubungan darah denganku!" ucap Saka. Lantas ia tertawa. Puas dengan kekonyolannya, Saka berkata, "Lalu, saat kalian ingin menghabisiku, apa kalian semua menganggap aku keluarga, tidak, kan?"


"Maaf, Nak. Mama mohon padamu. Lepaskan kita semua. Kita ulang lagi semuanya dari awal. Mama sangat menyayangimu," ucap Belinda.


"Chen, buka kantong mayatnya," perintah Saka.


Baru Arya serta lainnya sadari jika di sana ada dua kantong tebal berwarna hitam. Chen membuka salah satunya, dan mengeluarkan jasad di dalamnya.


Lisa berteriak sebab jasad itu adalah putranya Deri. Pria malang yang tewas karena Saka dan penyebab itu semua karena dirinya sendiri.


"Kamu menyimpannya dan kamu tidak menguburkannya," ucap Lisa.


"Hei, Tuan masih berbaik hati agar kamu bisa melihat jasad terakhir anakmu," kata Chen.


"Josh, buka satu lagi," perintah Saka.


Josh mengangguk, lalu membuka satu kantong lagi dan mengeluarkan jasad di dalamnya. Arya membelalak melihat Anton di dalam sana.


"Sisa dua kantong lagi. Dua di antara kalian akan menghuninya," ucap Saka.


"Tidak adakah sedikit belas kasihmu, Saka." Belinda memohon.


"Biar saya saja, Tuan," sahut Mark.


"Kamu habisi Lisa lebih dulu."


Mark mengangguk. Ia meraih senjata api yang terselip di pinggang dan menodongkannya di kening Lisa.


"Jangan Saka. Aku tidak bersalah," mohon Lisa.


"Cepat habisi. Telingaku tuli mendengar suaranya," kata Saka.


Mark mengangguk. Menarik pelatuk, lalu melepasnya. Hanya terdengar suara kecil karena senjata api mengunakan peredam. Lisa tiada seketika. Timah panas telah bersarang di kepala.


Jasad Lisa dimasukkan ke dalam kantong. Saka bersiul dan kembali memutar belati di tangan. Arya dan Hartawan meneguk ludah. Terlebih Hartawan karena ia telah merasakan perihnya kehilangan satu jari.


"Dekatkan Arya padaku," pinta Saka.


"Tidak! Jangan sentuh aku!" teriak Arya.


"Adikku sayang adikku malang. Kamu kalah taruhan. Saatnya mengambil apa yang telah dijanjikan. Jari-jarimu akan menjadi koleksiku," ucap Saka.


"Lepaskan Arya!" teriak Belinda. "Jangan sakiti dia." Belinda terisak.


Ikatan tali di tubuh Arya dilepas. Tedy dan Josh membawanya ke hadapan Saka. Arya meronta untuk lepas, tetapi tenaganya tidak sekuat itu. Tangan kanan terulur di hadapan Saka.


"Wah! Tangan ini sangat indah," ucapnya girang.


"Jangan. Maafkan aku," kata Arya memohon.


"Tapi tangan ini telah menyentuh istriku. Tangan ini telah merebut apa yang kumiliki!"


Arya berteriak keras. Suara rintihan kesakitan merupakan lagu kesukaan Saka. Ia terus melakukan pekerjaan yang menyenangkan tidak peduli Arya meronta.


"Selesai. Cepat, kan?" kata Saka. "Satu lagi. Kita dengarkan lagu gembira yang dinyanyikan oleh Arya."


"Habisi Arya, Saka," ucap Belinda.


Saka menatap ibunya. "Kamu menyuruhku membunuhnya?"


"Habisi dia secepatnya! Aku tidak tega melihatnya tersiksa."


"Oh, Mama memang ingin anaknya tiada rupanya. Baiklah, aku akan kabulkan permintaan Mamaku yang tersayang," ucap Saka.


Saka mengulurkan tangan, ia meminta senjata api milik Mark, lalu memerintahkan Chen membuka ikatan di tubuh dan tangan Belinda.


"Ikat lagi Arya di kursi," ucap Saka.


Saka meletakkan senjata api di tangan Belinda. Ia memutar posisi di belakang. Saka meraih lengan ibunya, lalu mengacungkan senjata ke depan.


"Dari dulu Mama ingin sekali menghabisi seorang anak, kan? Sekarang akan aku kabulkan permintaan itu. Mama tembak Arya sekarang."


Belinda menggeleng. "Tidak! Dia anakku!"


Pegangan senjata itu melemah, tetapi Saka tidak membiarkannya sampai jatuh ke lantai. Ia memegangkan kembali senjata itu ke tangan Belinda.


"Ayo, Ma. Biar Saka bantu."


"Jangan, Saka. Mama mohon padamu," ucapnya.


Saka tetap meletakkan senjata itu ke tangan ibunya. Bersama dengan tangannya, Saka menargetkan Arya yang duduk di kursi dengan tubuh terikat.


"Siap. Tembak!" ucapnya.


Belinda memejamkan mata. Dua letusan kecil terdengar. Perlahan Belinda membuka mata. Senjata di tangan terlepas, matanya terbelalak melihat Arya.


"Arya!" teriaknya.


Dua peluru bersarang di jantung. Arya tewas detik itu juga. Chen meraih senjatanya, lalu menembak Hartawan di kepala. Belinda kembali berteriak.


"Sekarang kita impas. Kamu membuatku kehilangan ibu, ayah dan keluarga. Sekarang kamu juga sama, Belinda. Aku tidak membunuhmu. Aku akan membiarkan kamu menderita selamanya. Silakan saja untuk mengadukan diriku. Tapi apa kamu mampu melakukannya?" ucap Saka. "Bebaskan Belinda dan anggap semua korban mati karena kebakaran. Orang-orang akan mengurusnya termasuk mamaku juga."


Bersambung