
Di sebuah area sepi jalan Street Water. Tepatnya di gudang tumpukan mobil rongsokan. Kedua kubu sudah berada di sana untuk saling bertanding. Saka dengan empat bawahan serta Felix bersama bawahannya sekitar seratusan.
Saka yang melihat banyaknya musuh tidak gentar sama sekali, bahkan sebaliknya. Felix merasa kalau pria di hadapannya bukan Saka yang dulu. Saka berubah menjadi lebih ganas dari sebelumnya.
"Kamu membawa bawahan sebanyak ini hanya untuk menghabisiku?" Saka tertawa. "Haruskah aku mengatakan jika itu kemunduran bagimu?"
"Kami semua akan mencabik-cabik tubuhmu," ucap Felix.
"Aku takut, Felix. Teman-teman, bagaimana menurut kalian?" tanya Saka.
"Kita berlima. Kurasa ini tidak adil," sahut Tedy.
"Apa kita memanggil bawahan juga?" tanya Chen.
"Tentu saja. Kita perlu bantuan," timpal Josh.
"Anak buah kita cuma ada dua puluh orang. Kita akan mati," kata Mark.
Sejurus kemudian, Saka serta keempat bawahannya tertawa. Mereka mengolok-olok Felix serta anak buah dari pria itu. Jika dibandingkan memang kekuatan mereka tidak seimbang. Namun, di sana adalah Saka serta keempat pemimpin dari kelompok mafia kecil.
"Kalian semua jangan takut!" ucap Felix. "Mereka cuma menggertak."
"Kita harus memanggil bantuan rupanya. Kita tidak boleh kelelahan. Mereka ini sangat banyak," ucap Saka.
"Saya akan panggil mereka, Tuan," kata Chen.
"Kerjakan, Chen."
Chen menelepon bawahannya. Lima menit kemudian dua puluh orang keluar dari persembunyian. Rata-rata membawa senjata seperti tongkat bisbol, knukcle serta rantai.
Kubu Felix juga sama. Mereka membawa senjata yang sama seperti milik kelompok Saka untuk menghantam musuh. Kedua kubu sedikit pun tidak gentar. Bahkan mereka membara untuk segera menghabisi lawan.
"Seranggg!" perintah Felix.
"Semuanya! Habisi mereka!" ucap Saka.
Saka bersiul sembari menepuk tongkat bisbol yang ia pegang ke tanah. Ia masih berada dalam posisinya dan memperhatikan bawahannya menghabisi lawan.
"Kenapa tidak ada yang mendekat? Masa harus aku yang mengajar mereka." Ia kembali bersiul. "Felix di mana kamu? Kemarilah saudaraku sayang."
Felix juga sama, ia melihat dulu bawahannya bertarung. Ia sangat yakin akan menang. Ratusan orang melawan dua puluh empat pria. Meskipun bawahan Saka adalah ahli, tetapi mereka tidak akan bisa menang melawan banyaknya musuh.
"Haish! Sepertinya aku harus turun tangan," ucap Saka. "Pakai bisbol. Lumayan buat latihan."
Saka turun tangan, mengayunkan tongkatnya ke arah lawan. Saka mengincar alat vital dari musuh agar tumbang hanya dalam satu pukulan.
Tujuan Saka hanya satu, yaitu Felix. Pria itu masih berlindung dari para bawahannya. Felix salah untuk bersantai, mereka terdesak karena Saka dan anak buahnya seolah berpesta.
"Sudah berapa banyak yang kalian habisi?" tanya Saka.
"Mungkin sepuluh," jawab Josh.
"Aku lima belas," timpal Mark.
"Dasar pembohong," sela Chen.
Mark terkekeh. "Incaranku Raker tiga. Biar aku yang menghabisinya."
Sebuah deru mobil terdengar. Saka menoleh pada truk yang datang. Sialnya mereka adalah anak buah dari Felix.
"Sial! Dia sengaja menyembunyikan separuh anak buahnya," kata Saka.
"Bisa jadi ada lagi yang akan datang," timpal Tedy.
"Benar! Anggota Black Dragon sangat banyak," ucap Josh membenarkan.
"Chen, Josh, kalian berada di sisi kiri dan kananku. Aku harus melawan Felix," ucap Saka. "Selagi itu. Semuanya!" teriak Saka. "Bertahanlah! Habisi mereka!"
Semangat bawahan Saka semakin berkobar. Mereka secara brutal menyerang lawan. Senjata tajam seperti belati mulai dikeluarkan untuk menumbangkan musuh dengan cepat.
Chen dan Josh melindungi Saka yang ingin menggapai Felix. Ada beberapa lawan tangguh yang melindungi pria itu, tetapi bagi Saka sangat kecil untuk menghabisinya.
"Sudah cukup untukmu diam, Felix," desis Saka.
"Kalian habisi mereka. Biar aku yang menghabisi pria ini," ucap Felix kepada para bawahannya.
Felix tertawa. "Jasad Bernad sudah dikubur di tempat layak. Ya, aku juga tidak ingin melupakan kebaikannya yang telah membesarkanku. Tapi, organ di dalamnya sudah kuberikan untuk anjing peliharaanku."
Saka menarik sebelah sudut bibirnya. "Aku berdoa semoga dia tenang di sana."
"Lebih baik kita mulai saja. Sudah lama kita tidak bertarung bersama," ucap Felix.
"Dengan senang hati, aku akan meladenimu."
Saka melayangkan tongkat bisbol miliknya, tetapi ditangkis oleh Felix. Kedua tongkat retak. Saka membuangnya, begitu juga Felix. Keduanya bertarung dengan tangan kosong.
Saka melayangkan tendangan yang menghantam perut lawan. Felix mundur ke belakang, lalu kembali bersiap untuk menyerang. Felix melayangkan tinju yang bisa ditangkap oleh Saka.
"Kesalahanmu adalah tertangkap olehku," ucap Saka.
"Kamu pikir aku hanya belajar satu bela diri saja? Aku adalan pewaris dari Black Dragon." Felix mengunci balik tangan Saka, lalu membantingnya.
Felix melompat, ia menekan kekuatan lutut untuk menekan dada Saka. Namun sayang, Saka telah menghindar dan bangkit berdiri.
"Jadi, begitu, ya. Kamu mempelajari Judo juga ternyata," ucap Saka.
"Sudah kubilang, aku adalah seorang pewaris," sahut Felix.
"Masih saja mimpimu itu ketinggian. Mari kita lanjutkan saja."
Saka menyerang dengan melayangkan tinju. Lagi-lagi bisa ditahan oleh Felix dengan mudah, tetapi pria itu terdiam ketika merasakan empat jari yang menusuk rusuknya.
"Rasakan kekuatanku yang sebenarnya," ucap Saka.
Buagh ... !
Sedekat itu? Bagaimana bisa ia melayangkan tinjuan dari jarak yang dekat. "Sialan!" Felix terbatuk-batuk dan berusaha untuk bangkit.
Saka berlari, menekan wajah Felix dengan satu tangan, lalu membantingnya ke tanah.
Buagh ... !
Hoek ... !
Mataku kabur. "Sialan kamu, Saka. Aku tidak akan kalah!"
Buagh ... !
Felix melayangkan tinjunya yang menghantam wajah Saka. Wajahnya masih ditekan, dan kesempatan Felix untuk menghujani Saka dengan bogem mentahnya.
"Sudah cukup!" Saka menahan kepalan tangan Felix, lalu ia berganti memberi tinjuan kepada wajah musuh.
Buagh, buagh, buagh ... !
"Sialan! Kenapa kamu berkhianat, hah?" teriak Saka. "Matilah di tanganku!" Saka menghajar Felix habis-habisan.
Felix terbatuk-batuk. "Aku tidak akan kalah."
Saka mematahkan kedua tangan pria itu. Felix berteriak keras. Pertarungan berhenti seketika. Semua mundur ke kubu masing-masing.
"Dengar! Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Membalaskan dendam daddy-ku. Dia pantas mati!" ucap Saka, lalu memberi pukulan terakhir di wajah Felix.
"Ternyata aku tidak bisa mengalahkanmu," ucap Felix.
"Aku akan menghabisimu, seperti kamu melenyapkan nyawa orang tuaku!"
Saka mengulurkan tangan. Mark memberikan senjata api. Saka mundur selangkah, membidik lawan yang terbaring lemah.
Dor ... dor ... !
Dua tembakan mendarat di kepala dan jantung Felix. Pria itu tewas seketika. Saka memandangnya dengan penuh kebencian meski Felix adalah pria yang besar bersamanya.
"Lakukan seperti dia memperlakukan tuan Bernad. Berikan kepada para anjing!" ucap Saka.
"Baik, Tuan."
"Black Dragon! Sekarang akulah pemimpin kalian. Sakalingga!"
Bersambung