Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Kerja Sama



"Sudah, Nyonya," jawab Ferdi alias Saka.


"Baguslah," ucap Belinda.


Ferdi bangkit dari duduknya. "Kalau begitu saya undur diri."


Belinda mengangguk. "Ingat apa yang kukatakan sebelumnya."


Ferdi mengiakan, lalu keluar dari kamar. Sara tidak rela suaminya pergi, tetapi ia harus bersabar selagi Saka membereskan musuh-musuh mereka.


Sara memeluk Flora agar putrinya tidak mengatakan apa pun. Bisa saja Belinda bertanya, lalu Flora yang polos akan mengatakan kebenarannya.


"Flora, ayo ikut sama Nenek," ajak Belinda.


"Tidak mau. Flora mau sama Mama saja."


"Biarkan dia bersamaku," kata Sara.


"Baiklah. Jika kamu sudah sehat, maka siapkan makan malam. Arya akan marah jika kamu tidak menyiapkan makanan kesukaannya."


"Jangan sok baik. Wajahmu seperti malaikat, tetapi hatimu iblis," sembur Sara.


"Aku melindungimu, Nak. Sudah kukatakan padamu. Jika kamu keluar dari sini, maka Arya akan melecehkanmu lebih dari ini."


"Kamu cuma ingin melindungi putramu. Arya menghabisi suami dan sahabatku. Kalian takut aku membocorkan rahasia kalian saja, kan?" cerca Sara.


"Kamu benar. Salah satunya memang itu. Karena apa? Aku cuma percaya orang mati yang bisa menyimpan rahasia," sahut Belinda, lalu keluar dari kamar dengan menutup pintu.


Kali ini Sara tidak lagi menangis. Ada Saka yang telah kembali ke sisinya. Cahaya mentari sudah menembus awan gelap yang selama ini meliputinya.


"Flora sayang. Ingat pesan Mama. Jangan bilang kepada siapa pun jika Papa datang kemari."


Flora mengangguk. "Iya, Ma."


Sara memeluk putrinya. Sebentar lagi kebahagian yang ia dambakan akan datang. Sara akan menanti kegelapan terhapus dari sisinya.


...****************...


Saka masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum melihat seorang dokter yang tidak sadarkan diri dengan mulut terlakban dan tangan terikat.


"Dia sudah pingsan kalian malah mengikatnya," celetuk Saka.


"Buat jaga-jaga saja, Tuan," sahut Chen.


Pria yang pingsan adalah dokter pribadi Belinda. Saka mencegah pria itu dari awal, lalu mengirim pesan dari ponsel Nico untuk Belinda.


"Setelah ini kita ke mana?" tanya Mark.


"Tentu saja menemui sahabat lama," jawab Saka. "Tapi sebelum itu, kita singkirkan dokter ini."


"Singkirkan? Maksud, Tuan?" Chen bertanya.


Saka terkekeh. "Apa masih kurang perintahku?"


"Baik, Tuan. Besok pria ini akan tinggal nama saja," sahut Chen.


"Siapa pun yang telah melukai istriku, dia harus mati. Termasuk dokter ini. Dia hanya diam di bawah ancaman Arya tanpa sedikit pun iba kepada Sara."


Membayangkannya saja diri Saka mendidih. Selama lima tahun Sara telah menderita terlebih istrinya telah mendapat perlakuan tidak senonoh dari Arya. Saka tidak ingin bertanya apa saja yang dilakukan oleh saudara tirinya. Melihat kondisi Sara tadi, ia sudah bisa menebaknya.


Saka mencintai istrinya. Mau bagaimanapun Sara, ia akan menerimanya. Ini murni cinta suami kepada pasangannya. Cinta Saka kepada Sara. Sedikit pun tidak akan pernah berubah.


Mark melajukan mobil menuju tempat yang Saka tunjukkan. Di belakang mereka ada mobil yang mengikuti. Penumpang di dalamnya adalah Josh serta Tedy.


Sekitar empat puluh menit, mobil sampai di perusahaan. Saka keluar, lalu kendaraan yang ia tumpangi berlalu pergi. Saka menoleh ke arah mobil hitam sedan yang ditumpangi Josh serta Tedy. Kedua anak buahnya itu yang akan menunggunya, sedangkan Chen serta Mark akan membereskan dokter Nico.


"Andreas! Aku ingin lihat seberapa kagetnya kamu melihatku," gumam Saka.


Saka berjalan ke masuk ke perusahaan. Seperti biasa, ia akan mengikuti prosedur untuk bertemu dengan kepala pemimpin perusahaan yang sama sekali tidak ada perkembangan.


"Tuan, ada yang ingin bertemu," ucap sang asisten.


"Siapa?" tanya Andreas.


"Katanya sahabat lama."


Kening Andreas berkerut. "Sahabat lama? Aku tidak punya sahabat."


"Namanya Sakalingga."


"Pria itu berkata begitu."


"Katakan padanya aku tidak berada di perusahaan. Bilang saja aku ke luar negeri atau bilang saja aku mati bunuh diri," ucap Andreas.


Sang asisten menggaruk-garuk kepalanya. "Baik, Tuan."


Jantung Andreas tiba-tiba saja berdegup dengan kencang. Nama Sakalingga ingin ia lupakan seumur hidupnya. Andreas ingin hidup normal tanpa bayang-bayang masa lalu.


Karyawan resepsionis mengatakan kepada Saka jika Andreas tengah sibuk dan tidak ingin diganggu. Tidak mungkin juga ia berkata kalau Andreas mati bunuh atau ke luar negeri karena tadi ia terlanjur mengatakan bos besar berada di kantor.


Saka tertawa kecil. "Sambungkan teleponnya kepada Andreas."


"Maaf, Tuan. Tapi Tuan Andreas tidak dapat diganggu," ucap wanita penerima tamu.


"Di mana toilet kalian?" tanya Saka.


"Di ujung koridor sana, lalu belok kanan."


"Aku pinjam toilet sebentar."


Saka berjalan menuju arah yang wanita itu katakan. Ia berdiam sejenak mengamati keadaan. Lift berada di seberang kiri. Jika Saka ingin ke sana berarti ia harus melewati meja resepsionis.


"Pukul berapa jam pulang kantor?" Saka meraih ponsel di sakunya. Satu jam lagi karyawan akan pulang. "Aku akan buat kalian pulang lebih cepat."


Saka masuk ke dalam toilet, ia mengeluarkan pematik api. Mengambil tisu, lalu membakarnya. Alat detektor asap mulai beraksi, dan alarm kebakaran menyala.


"Sekarang tinggal menemui pria itu," ucap Saka.


Semuanya panik karena alarm itu. Saka melenggang santai menuju lift. Ia cuma tersenyum melihat karyawan panik. Saka menekan angka paling atas. Ia masih ingat ruangan Andreas.


"Wah! Semuanya panik," ucap Saka.


Saka melihat di ruang teratas juga sama, bahkan seorang pria terburu-buru menyelamatkan berkas-berkas miliknya.


"Hei! Jangan khawatir. Alarm itu cuma bohong," ucap Saka.


"Apa? Anda siapa?"


"Apa terjadi kebakaran?" pintu terbuka. Andreas muncul.


"Halo, teman lama," ucap Saka.


Andreas membelalak. "S-Saka!"


Saka berjalan cepat, lalu berhambur memeluk Andreas. "Sudah lama, Sahabatku."


"Apa ini ulahmu?"


Saka tertawa. "Bagaimana lagi? Salah sendiri. Siapa suruh kamu tidak ingin menemuiku. Terpaksa aku memakai cara ini."


Saka merangkul bahu Andreas, lalu membawanya masuk ke ruangan. Andreas melepas rangkulan itu secara kasar.


"Aku kira kamu sudah mati sejak kecelakaan itu," ucap Andreas.


"Aku selamat berkat dirimu. Aku berterima kasih untuk itu."


"Ucapan terima kasihmu akan aku terima jika kamu bersedia pergi dari sini," ucap Andreas.


"Jangan begitu. Aku perlu perusahaanmu ini untuk membalas mereka. Kamu pergi saja ke luar negeri atau melompat dari gedung ini agar tidak bisa melihat wajah tampanku," kata Saka dengan senyumnya.


Andreas bergidik. Senyum yang ditampilkan Saka adalah bahaya yang sesungguhnya. "Apa maumu? Hanya sekali ini aku membantu."


"Targetku Indra. Aku ingin menjatuhkan dia lebih dulu."


"Lantas? Aku harus apa?"


"Temanku, kamu masih tidak mengerti. Aku akan menjadi bos di sini dan kamu adalah asistenku," ucap Saka.


"Ini perusahaanku! Enak saja."


"Bayarannya lima puluh persen harta yang akan aku rebut," ucap Saka.


"Setuju!"


Bersambung