Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Bantuan



"Bee," panggil Saka.


"Iya. Temanmu sudah pulang?" tanya Sara.


"Baru saja pulang."


"Makanan sudah siap. Kamu makan saja dulu. Aku mau suapin Flora makan," kata Sara.


Saka mengangguk. "Oke, aku duluan kalau begitu."


Sara mengambil nasi serta lauk untuk Flora setelah itu meninggalkan ruang makan. Saka duduk di kursi, ia menikmati makanan yang telah istrinya siapkan.


Saka melihat jam di pergelangan tangannya. Ia tersenyum sebab waktu masih banyak agar musuh menyerang dan masuk perangkap. Kelihatannya Andreas juga pasti ditangkap setelah dibuntuti.


"Maaf, Sara, Flora. Kalian harus merasakan ketakutan lagi saat ini," gumam Saka.


Selesai makan, Saka mengaut nasi dan lauk untuk istrinya. Ia ingin mengulang kisah lama saat Saka menyuapi Sara. Kenangan yang selalu berputar di setiap Saka merindukan istrinya. Saka berjalan ke ruang TV. Di sana tidak ada istri serta putrinya.


"Sara!" panggilnya.


Tidak ada sahutan sama sekali. Saka melihat sekitar. Ia meletakkan piring yang dibawa di atas meja. Saka berjalan menuju rumah tamu. Ia sudah siap menerima apa pun. Hening yang ia rasakan dan biasanya situasi seperti ini sangatlah tidak baik.


Benar saja, Sara tidak menjawab panggilannya karena istrinya telah ditawan, sedangkan Flora duduk dipangkuan Anton. Yang lebih mengenaskan adalah Andreas. Wajahnya babak belur. Kemeja putih yang ia pakai telah berlumuran cairan merah.


"Begitu cepat rupanya," ucap Saka.


Arya berdecih. "Aku sudah bilang jika kamu akan tetap kalah. Jika hari itu kami bisa membunuhmu, kemungkinan hari ini juga."


Saka duduk di kursi sofa sembari menyilangkan kaki. Ia tampak tenang saja dalam situasi seperti ini.


"Tawarkan kesepakatan kalian," ucap Saka.


"Satu per satu harus ada nilainya," sahut Anton.


"Membebaskan kedua orang tua dan bibimu? Baiklah, aku akan bebaskan mereka," kata Saka.


"Aku minta Sara dan Flora," ucap Arya.


"Jangan serakah, Arya. Nilai transaksimu kurang. Aku bersedia membebaskan kedua orang tuamu dan menukarkannya dengan istri serta putriku. Aku juga akan berikan hartaku untuk menukar Andreas."


"Kami akan lepaskan Sara dan Andreas, tapi kamu harus menyerahkan Flora padaku," kata Anton.


"Jangan!" teriak Sara.


"Sialan! Aku menginginkan Sara, Anton," ucap Arya.


"Begini saja. Aku akan memberimu semua kekuasaanku sebagai anggota Whack Man. Semua hartaku di Amerika sana akan kuberikan," tawar Saka.


"Kamu jangan gila, Saka. Itu adalah kekuasaan tertinggi milik tuan Bernad. Kamulah yang mewarisi itu semua," ucap Andreas.


Andreas dipukul oleh bawahan Anton karena mencoba untuk bicara. Anton dan Arya membiarkannya sesaat. Mereka menikmati itu agar Saka tahu jika mereka tidak bisa dianggap remeh.


"Ini semua demi kalian. Aku tidak peduli dengan harta itu. Aku perlu istri, putri dan sahabatku," ucap Saka.


"Aku juga perlu Sara!" sela Arya.


"Rupanya kamu memang menyukai istriku. Dia itu Kakak iparmu," ucap Saka.


"Dia tidak lagi menjadi Kakak iparku kalau aku ...."


"Arya!" tegur Anton. "Transaksi ini lebih menguntungkan."


Anton memberi kode kepada bawahannya agar Saka ditahan. Empat orang pria berbadan kekar maju untuk menahannya. Namun, tanpa diduga, keempat pria itu tumbang serta beberapa bawahan Anton yang lain termasuk Arya.


"Sialan!" ucap Anton sembari menoleh ke kiri dan kanan. Ia tetap memegang Flora. Sementara Saka lekas meraih Sara.


"Untung aku tidak kehabisan napas di dalam sana," ucap Chen.


"Kita berhasil menembakkan bius pada mereka," sahut Tedi.


"Selamatkan aku," kata Andreas. "Aku masih ditodong."


"Apa dia masih iblis tersenyum? Menyelamatkan diri saja tidak bisa," ucap Josh.


"Lepas sendiri, kami akan membantumu menodongkan senjata," kata Mark.


Andreas tersenyum, entah kapan waktu, ia menusuk si kaki penodongnya, dan Mark menembak tangan bawahan Anton yang memegang senjata api.


Pria yang menodong Andreas tidak sempat berteriak sebab Josh sudah membungkam dirinya dengan menembak kepala pria itu. Sara berteriak dan Flora menangis.


Andreas berusaha untuk bangkit, ia melepas sendiri ikatan tali di tangannya. "Tidak sia-sia aku mencuri cincin ini dari tangan anak bernama Addy. Cincin ini banyak manfaat."


"Kamu bisa lari ke mana, Anton. Semua sudah kami habisi," ucap Saka.


"Tentu kamu tidak akan melukai putrimu, kan? Dia yang akan membebaskanku."


Semua menodongkan senjata ke arah Anton. Saka tidak memberi perintah apa pun dan keempat anak buahnya tidak berkutik.


"Flora!" isak Sara.


"Mama, Papa," ucapnya.


"Berani kalian melukaiku, maka anakmu tinggal nama." Anton menodongkan senjata api di kepala Flora. Ia berjalan mundur dengan menyeret Flora bersamanya.


"Berikan putriku, Anton!" bentak Saka.


"Kita lihat apa yang bisa kamu lakukan, dan jangan sekali untuk bergerak dari posisi kalian," kata Anton.


Anton terus mundur sampai ia mencapai pintu dan suara tembakan terdengar. Senjata yang berada di tangan Anton tergeletak begitu saja. Pria itu tumbang dan Flora ikut jatuh bersamanya.


"Flora!" seru Sara, lalu berlari meraih putrinya.


Saka serta lainnya juga berlari sampai ambang pintu. Mereka kaget melihat seorang pria paruh baya yang memegang senjata.


"Hai! Maaf, jika datang terlambat. Apa cucuku baik-baik saja? Biar aku periksa," ucap Dokter Leo.


Saka memeriksa kondisi Flora. Syukurlah putrinya tidak terluka. Flora pingsan. Saat bangun, Saka akan menenangkannya. Bagaimanapun Flora akan trauma atas kejadian yang terjadi.


"Kalian urus jasad mereka. Untuk Arya lekas bawa ke rumah satunya," perintah Saka. "Paman, terima kasih sudah menolong. Tolong periksa istri dan putriku."


"Sudahlah. Aku hanya menyelamatkan cucu dan menantuku," ucap Leo.


Saka lekas menyuruh semuanya masuk ke dalam. Para bawahan Saka mengamankan daerah sekitar. Mereka tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan meski jarak rumah dengan rumah lainnya cukup jauh.


"Paman periksa dulu mereka. Aku membantu mereka," kata Saka.


Dokter Leo mengiakan. Pria itu memang sengaja datang menemui Saka. Untungnya kedatangannya tepat waktu. Tidak disangka-sangka sebenarnya.


"Tenanglah, putrimu akan sebentar lagi bangun," ucap Dokter Leo.


Sara mengangguk. "Iya, terima kasih."


"Saka selalu menyebut namamu. Saat ia putus asa karena menderita kelumpuhan. Ia tetap bertekad untuk sembuh. Setiap hari ia berdoa agar keajaiban datang menghampirinya. Kami tidak bisa keluar dari persembunyian karena ada musuh yang mengintai. Saka menghabisi mereka. Semua yang telah menyakiti orang-orang yang ia sayangi," ucap Dokter Leo.


Sara tahu kebenarannya. Selama ini mereka sama-sama menderita. Saling merindukan dan menunggu keajaiban. Tidak disangka hari ini datang juga. Saka menghabisi mereka semua.


Arya dibawa bersama jasad-jasad yang telah tiada. Ia masih pingsan karena suntikan bius yang mengenai lehernya. Tinggal menunggu perintah Saka untuk nasib yang akan diderita oleh Arya nantinya.


Bersambung