
"Keputusanmu terlalu menyakitkan buatku," ucap Indra.
"Aku akan menelepon Velia dan mengatakan keadaanmu."
Indra terdiam dan artinya ia setuju Velia akan datang. Sara menghubungi istri dari pria yang masih tidak menerima hubungan mereka berakhir.
"Kita lama menjalin hubungan ini, Sara. Tidak mungkin hatimu berubah secepat itu. Aku yakin kamu masih mencintaiku," kata Indra.
Sara menggeleng, "Aku tidak lagi mencintaimu. Seseorang sudah membuka mata dan hatiku yang buta. Kamu tidak pernah mencintaiku, Indra. Kamu hanya terobsesi padaku."
"Aku bersumpah, Sara. Kamu tidak akan bahagia kecuali bersamaku. Aku akan membuka topeng yang dipakai oleh Saka. Dia pria buruk, dan tidak pantas untukmu."
"Pantas atau tidak itu urusanku! Sudah cukup kamu menyusahkanku," kata Sara dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu datang? Kenapa kamu menyelamatkanku? Biarkan aku mati dan itu akan membuatmu merasa bahagia."
"Pikirkan anak dan istrimu. Di sini kamu yang mencari masalah, tetapi aku, Indra. Aku yang selalu disalahkan."
Indra mencoba bangun dari tidurnya, tetapi Sara menahannya untuk bangun. Kedua tangan Indra memeluk tubuh Sara erat. Pria itu menangis dan mengucapkan kata maaf.
"Tolong lepaskan aku!"
"Tidak bisa, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Indra dengan terisak.
Sara memohon, tetapi Indra bersikeras. Ia terlalu mencintai Sara, dan tidak ingin kehilangan wanita itu. Indra memperlakukan Sara bagai boneka porselen. Wanita itu kesayangannya dan tidak boleh ada yang memilikinya.
Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita tergesa-gesa masuk ke dalam ruang pasien. Velia berhenti melangkah saat mendapati Sara berada di sana.
"Maafkan aku," kata Sara.
"Tidak perlu, Sara. Sampai kapan kamu akan melepaskannya?"
"Bicaralah pada suamimu."
"Sayang, kamu di sini saja," ucap Indra dengan menahan tangan Sara.
Velia mengerjap, menahan air mata agar tidak keluar. Ia menenangkan hatinya kalau apa yang dilihat adalah hal yang sudah biasa.
"Dia istrimu, Indra. Di mana hatimu?" kata Sara.
Indra tidak dapat menjawab itu. Ia memandang Velia. "Sayang, kumohon terima Sara."
Velia menggeleng, "Aku tidak ingin berbagi."
"Kumohon, Velia. Kamu akan tetap yang pertama."
Indra tahu ia egois. Tidak seharusnya ia memperlakukan dua wanita berhati tulus seperti ini, tetapi ini soal hati. Indra mencintai Sara dan Velia sebagai ibu dari anak-anaknya.
"Aku tidak pernah meminta apa pun padamu, Velia. Kumohon kabulkan permintaanku. Terima Sara," pinta Indra.
Air mata yang ditahan akhirnya keluar juga. Ia seorang istri dan sekarang suaminya meminta untuk menerima wanita lain dalam hidup rumah tangganya.
Velia mengangguk, "Baiklah."
Sara melepas pegangan tangan Indra. Ia tidak dapat bicara apa-apa. Bibir Sara seketika kaku. Ia melihat wajah Indra yang sangat bahagia. Seharusnya Sara senang karena Velia menerimanya, tetapi hatinya seakan menolak.
"Aku permisi," kata Sara yang melangkah keluar.
"Sara sayang! Kamu mau ke mana?" teriak Indra yang berusaha untuk turun dari ranjang, tetapi Velia mencegahnya.
Sara berlari menuju mobilnya. Ia terisak di dalam sana dan mencoba menelepon Saka. Panggilannya tidak diangkat, bahkan di reject oleh Saka. Sara menyalakan mesin mobil, lalu berlalu dari gedung rumah sakit.
...****************...
"Nona Sara sudah pulang," tegur penjaga rumah.
"Apa Saka datang kemari?"
"I-iya, Nona."
Sara masuk lagi ke dalam mobilnya, dan meminta penjaga untuk membuka pintu gerbang kembali. Hari sudah larut malam, tetapi Sara tidak peduli. Ia ingin pergi menemui Saka sekarang juga.
"Enggak tahu, Nona Dini."
Dini hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat mobil Sara sudah menjauh dari rumah. Sara kembali berkali-kali menelepon Saka, tetapi tidak diangkat.
Sara menepikan mobilnya di pinggir jalan kemudian melakukan voice mail. Meski Saka tidak mau mengangkat panggilannya, Sara berharap rekaman suaranya dapat di dengar.
"Aku ingin bicara padamu sekarang. Aku tunggu kamu di hotel tempat kita bertemu kemarin."
Rekaman itu terkirim dengan centang dua, dan beberapa saat berubah warna menjadi biru yang artinya Saka sudah mendengar rekaman suaranya.
Sara langsung mengendarai mobil menuju hotel tempat mereka menghabiskan malam bersama, dan menunggu Saka datang. Tidak peduli Saka mengabaikannya, ia akan tetap terjaga menunggu sang kekasih.
Sesampai di hotel, Sara memesan kamar yang malam sebelumnya mereka tempati. Beruntungnya kamar itu kosong dan Sara langsung mengirim pesan, memberitahu kepada Saka nomor kamar yang ia tempati.
...****************...
Lagi-lagi Saka menuruti keinginan Sara. Ia datang juga ke hotel dan sekarang malah berada di depan kamar sewa Sara.
Saka yakin sekali jika Sara pasti seperti dirinya. Apa pun yang dilakukan Indra, wanita itu akan kembali pada sosok pria yang menyakitinya. Cinta memang bodoh dan buta, dan Saka termasuk ke dalamnya.
Ia meremehkan Sara yang terlalu buta akan cinta Indra. Namun sekarang, ia bagai menjilat ludah sendiri. Saka tidak dapat menghindar dari Sara, ia sudah jatuh terlalu dalam pada diri wanita itu.
Saka mengangkat tangan mengetuk pintu kamar beberapa kali. Pintu langsung terbuka karena Sara memang menunggu kedatangannya.
"Masuklah," kata Sara.
Saka masuk ke dalam dan Sara menutup pintu rapat. Ia langsung memeluk Saka dari belakang sembari mengucapkan kata maaf.
"Katakan apa yang kamu inginkan?" Saka melepas pelukan kekasihnya.
"Indra mencoba bunuh diri." Sara menjelaskan semuanya mengapa ia membatalkan janji untuk makan malam bersama.
"Kamu ingin bersamanya?" tanya Saka.
"Indra memohon kepada Velia agar menerima diriku dan Velia mengabulkannya."
Saka tergelak, "Dan kamu setuju untuk kembali padanya, lalu menjadi istri kedua dari pria itu, begitu?" Saka memegang kedua lengan Sara. Ia pandangi wajah cantik kekasihnya dengan lekat. "Sara, kalau kamu mencintai Indra, maka raihlah kebahagianmu sendiri."
"Bagaimana dengan dirimu?"
"Semua ini memang salah. Seharusnya aku memang tidak pernah mengenalmu."
"Kamu menyesal?" tanya Sara.
Saka menggeleng, "Tentu saja tidak. Terima kasih atas segalanya. Rasa sakit ini akan menghilang seiring waktu."
"Kenapa kamu menyerah? Apa itu artinya kamu tidak benar-benar mencintaiku?" Mata Sara berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin berjuang sendiri, Sara. Aku mencintai dirimu, tetapi kamu tidak, lalu apa gunanya? Kamu ingin kembali pada Indra, kan?"
"Kapan aku mengatakan ingin kembali bersama Indra? Aku hanya mengatakan apa yang terjadi di rumah sakit," kata Sara.
Saka terdiam dengan menatap Sara. Sejurus kemudian ia tertawa sinis. Menggeleng, memalingkan wajah, lalu memandang Sara lagi.
"Kapan kita bisa menikah?"
"Tidak ada yang melamarku," kata Sara.
Saka langsung berlutut dan mengulurkan tangannya. "Sara .... "
"Sara Aprilia."
"Seharusnya aku tidak pernah bertemu ataupun mengobrol denganmu, tetapi aku melakukannya juga. Kamu membuat jantungku berdenyut, membuat seluruh getaran dalam tubuhku. Sara Aprilia ... maukah kamu menikah denganku?"
"Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu. Seharusnya aku mengabaikan setiap godaan yang terucap dari bibirmu. Semua itu salah. Hubungan kita dimulai dari sebuah kesalahan, dan aku menginginkan kesalahan itu menjadi kebenaran. Ya ... aku bersedia menikah denganmu."
Bersambung