
Berita menggemparkan menghiasi TV dan berita online. Dikarenakan keluarga dari pemilik perusahaan ternama tengah ditimpa musibah. Rumah mendiang Ayu Prameswari kebakaran. Kabarnya terdapat empat korban yang tewas karena kejadian itu. Hanya satu nyawa yang selamat, yaitu Nyonya Belinda.
Kondisi Nyonya Belinda tampak syok. Beliau tidak bisa bicara ketika wartawan menanyai perihal kejadian itu. Saat itu Nyonya Belinda tengah berada di rumah putra tertuanya. Beliau menginap di sana karena mengkhawatirkan kondisi sang cucu yang tengah sakit.
Kebakaran terjadi pada malam hari ketika empat orang itu tengah tidur. Terdapat konslet di aliran listrik kamar. Dari sana percikan api itu berasal. Warga sekitar baru menemukan kebakaran setelah jago merah melahap sebagian bangunan rumah.
Jasad keempat korban yang terdiri dari suami, sepupu, anak kedua, keponakan serta sahabat tewas. Seseorang memberi pernyataan dan lebih menggemparkan seorang mantan model yang telah lama menghilang hadir di sana. Keempat korban saat ini masih ditempatkan di rumah kediaman mendiang Hartawan.
"Ayah dan saudara saya berencana untuk menonton bola bersama," ucap Saka.
"Tuan, apa Nona Sara adalah istri Anda? Kapan kalian menikah dan kenapa Nona Sara menghilang?" tanya wartawan pria.
"Bukan menghilang, tapi Sara memang tidak ingin lagi terjun ke dunia model," jawab Saka, lalu menlanjutkan. "Untuk soal menikah, saya rasa gosip itu sudah beredar dari lima tahun lalu. Pria yang bersama Sara adalah saya."
Untungnya waktu itu Sara sudah menyelesaikan kontrak kerjanya. Hanya rencana membuat pakaian khusus ibu hamil saja yang sempat tertunda.
"Nona Sara, apa Anda akan kembali ke dunia modeling?"
"Saya sudah memutuskan untuk pensiun," jawab Sara singkat.
Sara menjadi pengalih perhatian dalam kasus kebakaran sebab pencari berita malah tertarik padanya. Pihak berwajib juga mengatakan jika kebakaran adalah murni kecelakaan.
Pelayat membantu proses pemakaman. Saka turut mengantar sebab ia mendampingi ibunya. Sara juga turut hadir di sana. Semua mendoakan dan Sara teringat akan Dini dan Azka. Entah di mana keduanya dikubur oleh Arya. Pastinya Sara selalu mendoakan mereka.
Satu per satu pelayat pulang. Tinggal Saka, Sara dan Belinda serta dua bawahan yang masih setia menatap keempat makam itu. Masing-masing dengan pemikirannya.
"Malam ini kami akan pulang ke Amerika," ucap Saka.
Belinda menatapnya tajam, ia membuka mulut, tetapi tidak bisa bicara. Saka tersenyum melihatnya. Rasanya sangat sakit. Ingin bicara, tetapi tidak bisa.
"Jangan buang tenaga. Selamanya Mama tidak akan bisa bicara. Racun itu sudah menyebar dan tidak lama lagi Mama juga akan menyusul mereka," ucap Saka sembari melirik keempat makam yang masih harum pandan wangi.
"Jangan terlalu kejam, Saka. Biarkan Mama hidup tenang," kata Sara.
"Bukannya kamu yang memberi racun itu? Ingat yang aku berikan padamu saat itu, kan?" kata Saka.
Sara terkesiap. Rupanya efek dari obat itu begitu lama. Cairan racun itu juga kuat. Ia sangat ingat baru sekali mengoleskan racun itu ke cangkir minum Belinda dan sekarang mertuanya tidak bisa bicara.
"Dia Mama kita," ucap Sara.
"Lebih baik begitu, Sayang. Jika Mama bisa bicara, maka aku akan menghabisinya."
"Apa kita tidak membawanya bersama? Mama sendirian di sini."
Saka mengusap puncak kepala istrinya. "Jangan hiraukan dia. Terlalu baik juga tidak baik." Saka beralih pada dua bawahannya. "Siapkan dua pelayan wanita dan awasi mereka."
"Baik, Tuan."
Saka tersenyum memandang Belinda. "Perpisahan kita di tanah kubur. Kita akan bertemu lagi di tempat ini tentunya. Aku akan datang ketika jasadmu ditanam. Tenang saja, meski kamu sudah tidak punya apa-apa, aku akan tetap mengurusmu."
Belinda meraih kaki Saka. Wajahnya memerah dan terlihat jelas Belinda sangat marah akan kelakuan putranya. Saka menepis tangan ibunya.
"Sampai akhir pun, kamu tetap membenciku. Baiklah, aku tidak akan pernah kembali. Nikmati hidupmu di sini," ucap Saka. Lalu, menggandeng Sara untuk pergi dari sana.
...****************...
Untuk yang terakhir kali, Sara mengunjungi rumahnya yang dahulu. Rupanya rumah itu telah dijual oleh Arya. Sara cuma bisa menatapnya saja. Di sana banyak kenangannya bersama Dini. Semua properti miliknya memang telah dijual oleh Arya. Itu semua agar Arya bisa menjerat Sara lebih dalam lagi. Namun, tetap saja Arya tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Ingin kembali ke Pulau Randayan?" tanya Saka.
Sara menggeleng. "Tempat itu hanya untuk Saka yang biasa saja. Pemuda yang kukira hanya orang biasa."
"Aku akan menjadi orang biasa jika kamu menginginkannya. Aku akan buang semua dan hidup baru bersamamu," kata Saka.
"Kamu bisa melakukannya?" tanya Sara.
"Tubuhku sudah terlatih bertahun-tahun. Aku terbiasa hidup di jalanan meski daddy-ku sangat mampu."
Sara mengulurkan tangan dan Saka menyambutnya. "Aku hanya ingin bersamamu dan hidup tanpa rasa takut."
Saka mengangguk. "Kita mulai dari sekarang. Aku akan lepaskan semua."
Setelah mengunjungi tempat yang meninggalkan banyak kenangan, Saka dan Sara bersiap kembali ke Amerika. Di negeri sana mereka akan memulai kembali.
Urusan di sini akan diurus oleh Andreas. Pria itu telah mendapatkan bayaran yang pantas untuknya. Andreas adalah wakil yang akan menjual semua aset milik Belinda dan Saka dulunya. Hasil uangnya akan diwariskan pada Flora.
"Tuan, waktunya berangkat," ucap Chen.
Saka mengangguk. "Tunggu saja di mobil."
Chen berjalan keluar. Ia mengerti jika peristiwa ini membuat lubang besar di hati Saka. Dengan tangannya sendiri, Saka menghabisi musuh. Adik, ayah tiri serta kerabatnya. Bahkan, ibunya saja ia racuni. Dendam itu terbalas bagi mereka yang pantas menerimanya. Saka mungkin menang, tetapi sebenarnya ia adalah pria yang kalah.
Awal sampai akhir, hidupnya tetap begitu.Tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Semua yang ditampilkan adalah palsu. Sampai saat ini, Saka tidak habis pikir. Kenapa mereka membencinya? Saka rela menukarkan semua yang ia miliki demi keluarga. Namun sayangnya, itu tidaklah cukup.
"Melamunkan apa?" tanya Sara.
"Papa!" seru Flora.
Saka tersenyum. Ia meraih Flora dalam gendongannya. "Hanya berpikir, apa istriku ingin menambah anak lagi? Jika ia mau, aku siap untuk membantunya."
Sara tersipu malu. "Untuk itu, kamu harus tanya pada Flora."
"Flora sayang, apa kamu mau adik?" tanya Saka.
Flora mengangguk. "Flora mau."
Saka memandang istrinya. "Dengar sendiri, kan?"
"Ketika sampai di sana, kamu boleh membantu," ucap Sara sembari memalingkan wajahnya.
Saka berjalan mendekat, lalu berbisik, "Aku akan bekerja keras."
Jika Saka tidak bisa mendapatkan kasih sayang ibunya, maka ia akan membuat sebuah keluarga kecil yang di dalamnya penuh kasih dan rasa cinta.
Bersambung