Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Saka Akan Tinggal



Sara terpaksa harus berendam di dalam bathtub yang telah diisi air hangat dan juga sabun cair di dalamnya, dikarenakan gencatan senjata tadi malam yang membuat tulangnya remuk.


Saat Sara terbangun dengan tubuh penuh dengan tanda merah, Saka sudah mempersiapkan air untuk kekasihnya membersihkan diri. Dengan hati-hati Saka menggendong tubuh wanita yang sudah menjadi miliknya masuk ke dalam bathtub.


"Sara, apa kamu sudah selesai?" seru Saka dari luar.


"Sebentar lagi, Sayang," teriak Sara dari dalam.


"Apa kamu bisa berjalan keluar?"


"Tentu saja." Sara segera membasuh seluruh tubuhnya yang penuh busa dengan kucuran shower. Malam panjang nan indah akhirnya dapat ia rasakan juga dan itu bersama kekasih yang baru saja jadian dengannya.


Terdengar pintu kamar mandi dibuka. Sara keluar dengan memakai bathrobe dan juga handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sarapannya sudah datang. Ayo makan dulu," ajak Saka.


Sara mengambil croissant yang ia campur dengan sedikit butter, lalu buah potong dan menyeruput jus buah yang Saka pesan untuknya. Sedangkan Saka melahap croissant dengan secangkir kopi panas.


"Oh, ya, Sayang. Kamu tinggal di mana untuk sementara? Kamu tidak mungkin pulang ke pulau, kan? Itu bukan tempat tinggalmu sebenarnya," kata Sara.


"Jika kamu ingin menyuruhku tinggal, aku akan tinggal. Aku bisa menyewa tempat kos sebagai tempat tinggal. Hanya saja aku harus bekerja untuk menghidupimu," sahut Saka.


Sara tersenyum mendengarnya. Ia baru tersadar jika Saka, adalah orang biasa. Tidak seperti Indra yang merupakan anak orang kaya dan bekerja sebagai pengusaha.


Saka memandangi kekasihnya. Ia berpacaran dengan seorang model terkenal. Ia seorang pengangguran yang hidup dengan mengandalkan sebuah harta warisan dari sang kakek.


"Kamu tidak malu?" tanya Saka.


"Malu kenapa?"


"Uang warisan kakekku sudah menipis. Ya, aku menyadari karena aku tidak bekerja karena kecewa akan kehidupanku sendiri." Saka mengenggam tangan Sara. "Aku janji untuk membahagiakan dirimu."


"Jangan ucapkan janji, Saka. Aku sudah kenyang akan janji."


"Aku akan buktikan." Saka tersenyum. "Aku tidak ingin mengajakmu hidup susah, tetapi aku ingin mengajakmu berjuang bersama."


Sara mengangguk, "Aku akan selalu bersamamu, Saka. Kita berjuang bersama-sama."


Manusia boleh saja berencana, tetapi tuhan yang menentukan. Pertemuan Sara dan Saka rupanya telah diketahui oleh publik. Rekaman CCTV hotel menunjukkan Sara yang marah, menangis serta berlari memeluk Saka tersebar dalam dunia gosip hiburan.


Mereka yang memberitakan juga memberitahu bahwa Sara dan Saka menginap di hotel dan keluar dari sana saat hari menjelang siang. Semua penggemar dan penghujat berbondong-bondong memberikan komentarnya di akun media sosial.


Wajah Saka juga terpampang jelas di sana. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Saka. Profil pria itu tidak ada disebutkan, dan netizen menduga-duga dia memang kekasih baru Sara karena mereka kedapatan keluar dari hotel.


Para pembenci memberi komentar negatif dengan mengatakan hal yang dilakukan Sara tidak pantas dan menyangkutpautkannya bersama Indra. Sedangkan para penggemar mendoakan yang terbaik untuk keduanya agar bisa menjalin hubungan ke arah yang lebih serius.


"Bagaimana ini?" tanya Dini.


"Adakan konferensi pers. Aku akan memberi pernyataan," kata Sara sembari melirik Saka. "Kamu tidak apa-apa, Sayang?"


Saka menggeleng, "Maafkan aku. Seharusnya kita memakai topi atau apalah untuk menyamar."


"Tidak apa-apa, Saka. Aku akan memberi pernyataan terakhir karena memang aku berniat berhenti bekerja."


"Kamu yakin?" tanya Dini. "Berita ini sangat populer dan pihak stasiun TV menginginkan kamu untuk menjadi bintang tamu. Kenapa tidak kita manfaatkan saja?"


Sara melotot memandang Dini. "Apa yang kamu bicarakan? Pergilah, Dini. Tinggalkan aku bersama Saka."


"Dini memang seperti itu. Kamu jangan merasa tersinggung," kata Sara.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tahu duniamu, tapi aku harap kamu pikir-pikir lagi untuk berhenti bekerja."


Sara tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku yakin dengan keinginanku."


Ada kesenangan dan juga kekhawatiran Saka mengenai hubungan asmara mereka untuk saat ini. Saka senang Sara berhenti bekerja sebagai model karena Sara akan menjadi wanita biasa. Namun, dibalik itu semua, Saka khawatir tidak akan bisa menghidupi Sara.


Mereka memang belum menikah, tetapi Saka berniat menjadikan hubungan mereka secara serius. Saka menginginkan Sara menikah dengannya.


"Sayang, aku pergi dulu. Aku harus pergi mencari tempat tinggal untuk sementara," kata Saka.


"Bukannya keluargamu ada di sini?"


"Memang benar, tapi mereka tidak menganggapku seperti itu," jawab Saka. "Oh, ya, kapan kamu mengakhiri hubunganmu dengan Indra?"


Sara tersentak, "Aku terlupa. Hari ini juga, Sayang."


Saka mengangguk dan tersenyum, "Aku akan menghubungimu nanti."


Sara memakaikan kekasihnya topi dan juga masker agar kepergian Saka tidak ketahui oleh wartawan. Sara juga memesan taksi online untuk mengantarkan Saka ke tempat tujuan.


Saka mengatakan jika ia singgah di rumah temannya yang mengantarnya ke hotel semalam. Jadi, Saka akan pergi menemui temannya dulu.


"Kamu serius dengannya?" tanya Dini setelah Saka pergi dengan mobil taksi.


"Kenapa kamu bertanya begitu? Dia baik, kan?"


"Ya, aku lihat Saka orangnya tampan. Tapi aku sarankan, jika kamu ingin membalas Indra, Saka bukan orang yang tepat. Dia jauh di bawah Indra."


"Ngomong-ngomong soal Indra, aku ingin menemuinya," kata Sara.


Sara menghidupkan kembali ponsel yang telah ia nonaktifkan sebelumnya sejak pulang dari hotel. Ada banyak sekali pesan dan panggilan telepon dari Indra yang mengajaknya untuk bertemu.


"Biasanya dia berani untuk datang ke rumah," gumam Sara.


"Dia seperti suami yang takut kepada istrinya," sahut Dini.


"Aku akan menunggunya untuk datang."


...****************...


Indra tidak fokus dengan rapat penting yang tengah ia gelar bersama dengan para staf perusahaannya. Semalam ia sudah direpotkan oleh Velia yang mengidam, dan paginya ia mendapat berita yang membuat kerja jantungnya seakan berhenti.


Kekasihnya berlari ke pelukan seorang pria dan keluar bersama dari hotel. Indra sudah membayangkan apa yang terjadi di antara keduanya. Mendapati hal itu kemarahannya meluap. ia masih menyakinkan hati jika Sara tidak akan tidur dengan pria lain.


Indra ingin sekali membalikkan meja di hadapannya dan menyuruh bawahannya untuk berhenti mengoceh mengenai pekerjaan. Ia ingin segera pergi menemui Sara dan meminta penjelasan.


"Cukup untuk rapat kali ini. Besok kita bisa sambung lagi," ucap Indra yang langsung beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruang rapat.


Indra tidak tahan lagi. Ia ingin pergi menemui Sara sekarang. Kembali Indra melihat video sang kekasih yang telah memeluk pria lain. Indra memperhatikan pria itu dengan seksama dan mengumpat kasar saat tahu siapa kekasih baru kekasihnya.


"Dia orang pulau itu!"


Bersambung