Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Kabar Bahagia



Pagi harinya, Saka sudah dibuat panik oleh Sara. Istri tercintanya mengalami mual parah yang tidak berkesudahan. Begitu makanan masuk, detik itu juga makanan keluar.


Saka tidak peduli lagi, ia segera membuat janji untuk bertemu dokter di pukul sembilan pagi. Sara masih merasakan meriang. Tubuhnya tidak bertenaga padahal ia sudah makan banyak.


"Pakai jaketmu, Bee," kata Saka.


"Ambilkan jaketnya."


Saka membuka lemari, mengambil jaket rajut berwarna coklat muda, lalu memberikannya kepada Sara. Ia juga memakaikan sang istri topi dan masker tutup mulut.


"Ayo, Bee. Kita berangkat sekarang." Keduanya keluar dari kamar.


"Aku haus. Mau minum," pinta Sara.


Saka berlari menuju dapur, mengambil segelas air hangat. "Ini, Bee."


Sara meraih gelas itu, lalu meletakkan ke meja. "Kok, air hangat! Aku mau air dingin."


"Masuk anginmu belum reda. Minum air hangat dulu," kata Saka.


"Lidahku ini pahit. Kerongkonganku ini panas. Aku terkena panas dalam. Ambilkan aku air dingin!"


Saka kembali lagi ke dapur mengambil air sesuai keinginan Sara. Satu gelas air putih dingin habis diteguk istrinya. Sara tadi baru memuntahkan seluruh isi perut, air dingin lebih membuatnya segar.


"Bisa kita berangkat?" tanya Saka.


"Aku sudah lebih baik," jawab Sara.


Baru sampai di depan pintu, Sara merasakan mual kembali. Ia tidak tahan, lalu memuntahkan air yang tadi diminumnya.


"Sepertinya aku tidak bisa makan dan minum. Perutku tidak mau menerimanya," kata Sara.


"Sabar, Bee. Kita lekas ke rumah sakit."


Saka membuka pintu mobil bagian penumpang. Sara masuk, disusul oleh Saka yang duduk di kursi pengemudi. Kendaraan roda empat segera melaju menuju rumah sakit terdekat.


Sekitar tiga puluh menit, keduanya sampai. Karena Saka sudah membuat janji, mereka tidak lagi menunggu lama untuk mengantri. Hanya melewatkan satu pasien selepas itu giliran Sara.


"Istri saya mual dan muntah, Dok. Tubuhnya meriang," ucap Saka yang bertindak sebagai juru bicara.


"Apa Nyonya sudah minum obat?" tanya Dokter pria sembari menaikkan kacamata yang bertengger di hidung.


"Sudah, Dok. Tapi enggak mempan," sahut Saka.


Sara cuma bisa mengangguk. Menjawab pertanyaan dokter, ia merasa malas. Saka sudah mengambil alih semuanya.


"Silakan ke ranjang pasien. Biar saya periksa," kata Dokter.


Sebagai suami yang perhatian, Saka mendampingi istrinya. Dokter memeriksa denyut nadi dan jantung Sara, lalu mengangguk-anggukkan kepala.


"Silakan duduk kembali," ucap Dokter.


"Apa penyakit istri saya?" tanya Saka.


"Nyonya baik-baik saja. Saya akan kirim surat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter kandungan." Dokter itu tersenyum sembari melihat Saka dan Sara. "Kita pastikan dulu apa benar istri Anda hamil."


"Hamil?" tanya Saka.


Dokter itu mengangguk. "Iya. Istri Anda hamil. Langsung saja ke dokter kandungan untuk di USG."


"Bee, kamu hamil!" ucap Saka bahagia.


"Kita pastikan dulu. Takutnya salah lagi," kata Sara.


"Dokter sudah bilang begitu. Kamu pasti hamil."


Dokter paruh baya itu tertawa. "Saya ucapkan selamat dulu untuk kalian berdua."


"Kami langsung ke dokter kandungan, Dok?" tanya Saka.


"Iya, tidak perlu mengantri lagi. Langsung saja ke dokter kandungan," ucap Dokter.


"Terima kasih, Dok. Kami langsung ke sana," sahut Saka.


Saka dan Sara dituntun menuju ruang dokter kandungan oleh perawat. Mereka tidak perlu mengantri, dan Saka lega karena dokter kandungannya adalah seorang wanita matang.


"Halo, selamat datang," sapa Dokter. "Kita langsung saja periksa, ya."


Sara disuruh berbaring di atas ranjang pasien. Asisten dokter menangkas pakaian Sara, memberi gel, lalu dokter menempelkan alat di bagian dingin itu. Satu titik kecil membuat dokter tersenyum.


"Selamat, Bu. Anda hamil," ucap Bu Dokter.


"Aku tidak percaya ini. Aku beneran hamil?" tanya Sara.


Dokter duduk di kursinya. Mengulurkan tangan, memberi ucapan selama kepada Saka. "Selamat, Pak. Istri Anda hamil."


Sara duduk di kursi samping suaminya setelah memperbaiki pakaian. "Boo, aku beneran hamil."


"Usaha kita berhasil."


Dokter memberi resep anti mual, vitamin serta saran-saran untuk ibu hamil. Sara dan Saka mendengarkan dengan baik. Ini kehamilan pertama, calon penerus dari keduanya.


"Terima kasih. Saya akan menuruti saran-saran yang Dokter berikan," ucap Sara.


"Selamat sekali lagi, Pak, Bu. Semoga semua dilancarkan sampai kelahiran nanti."


"Terima kasih," balas Saka.


Keduanya keluar dari ruang bagian kandungan kemudian menuju tempat pengambilan obat. Saka tidak malu untuk sekadar mengecup punggung tangan istrinya meski pengunjung melihat mereka.


"Aku bahagia," ucap Saka.


"Aku juga. Akhirnya, aku diberi titipan oleh yang Mahakuasa."


"Kita harus menjaganya baik-baik."


"Pasti. Aku akan menjaganya baik-baik," sahut Sara.


...****************...


Kehamilan Sara sampai di telinga Dini. Sahabat Sara itu merasa bahagia, dan membatalkan semua job yang datang. Ia juga merasa kasihan karena sahabatnya tidak bisa makan dengan nyaman.


"Bagaimana rasanya hamil?" tanya Dini.


"Aku bahagia meski harus mengalami mual dan muntah."


"Aku jadi tidak sabar untuk melihatmu dengan perut buncit."


Sara tertawa. "Aku malah enggak sabar buat melahirkan anak ini. Saka begitu perhatian. Dia memanjakanku."


"Oh, di mana suamimu itu?" tanya Dini.


"Dia lagi beli baso. Aku menginginkannya."


Tidak lama Saka kembali, tetapi ia datang bersama Azka. Saka juga ingin berbagi kebahagian bersama temannya.


"Aku kembali, Sayang," kata Saka.


"Azka datang juga."


"Selamat untukmu, Sara. Aku turut bahagia," ucap Azka.


"Terima kasih."


Azka menepuk pundak Saka. "Usaha keras tidak mengkhianati hasil. Buktinya sudah nyata."


Saka tertawa. "Giliranmu, kapan kamu menyusul?"


"Belum saatnya," sahut Azka.


"Kita makan bersama basonya. Ini adalah pesta kecil," kata Sara.


"Biar aku yang menyiapkan. Kamu istirahat saja," ucap Dini mengambil alih.


Lima bungkus baso dituangkan dalam satu wadah. Sara yang lebih dulu mengambil bagiannya, disusul Dini, Azka, lalu Saka.


Sara tidak bisa makan banyak. Jika tidak, maka perutnya akan memuntahkan semua makanan itu. Ia menuruti saran dokter dengan makan sedikit, tetapi sering.


"Coba tebak. Kira-kira Sara mengandung anak laki-laki atau perempuan?" tanya Dini.


"Mungkin perempuan. Kata Saka, istrinya mengalami ngidam hebat," jawab Azka.


"Aku pernah baca artikel. Jika suka makan daging, maka anaknya laki-laki," ucap Dini.


"Aku tidak peduli laki-laki atau perempuan. Asalkan nanti, anakku lahir sehat," sahut Sara.


Saka tersenyum, kekhawatiran tiba-tiba melanda. Sara hamil sekarang, sedangkan statusnya berada jauh dari kebaikan. Dulu sang ayah meninggalkan Belinda karena hal itu, apa Saka juga harus meninggalkan Sara demi melindunginya?


"Boo, kamu kenapa?" tegur Sara.


Saka tersentak. "Enggak, Bee."


"Jangan-jangan mau selingkuh lagi. Kebanyakan istri hamil, suaminya malah selingkuh," sahut Dini.


"Amit-amit! Jangan sampai. Kamu membuatku takut," kata Sara.


Dini tertawa. "Bercanda. Aku yakin Saka bukan pria seperti itu."


Jika begini, aku harus keluar dari kehidupan lama. Ya, aku harus katakan kepada orang itu. Aku tidak akan pernah kembali ke Amerika. Aku akan menetap di sini bersama Sara dan anakku.


Bersambung