
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bernad.
"Masih belum sadar," jawab Dokter Leo. "Aku salut dia masih bisa bertahan hingga sampai detik ini. Saka dibawa dari tempat jauh sampai ke rumah kecil ini, tetapi nyawanya masih enggan untuk pergi."
"Dia anakku, Leo. Baru kali ini aku merasa kalau aku memiliki hati. Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Kamu tau kenapa aku menyuruh Belinda untuk pergi. Terlalu banyak musuh, bahkan identitas Saka sudah mulai terungkap," tutur Bernad.
"Kamu manusia biasa, Bernad. Kamu pun punya rasa kasih dan sayang."
"Aku akan ke Indonesia. Saka bilang istrinya tengah hamil."
Leo menepuk pundak rekannya. "Pergilah. Jangan khawatirkan Saka. Dia aman bersamaku."
Bernad memandangi putranya yang terbaring lemah dengan alat yang menempel pada tubuh. Saka mengalami koma. Ia kecup kening sang anak. Leo benar, ia hanya manusia biasa yang punya hati. Ia menyayangi putranya dan tidak akan membiarkan siapa pun yang menyakitinya.
"Semoga kamu cepat sadar, Nak. Daddy akan bawa istrimu kemari. Kamu harus bertahan demi membalaskan semuanya," bisik Bernad di telinga Saka.
Bernad berpelukan pada Leo sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah perawatan. Saka memang disembunyikan agar musuh tidak dapat mengetahui kabar mengenai patahnya salah satu sayap dari kekuatan Bernad.
"Kalian sudah mencari tahu siapa musuh Saka?" tanya Bernad.
"Ya, Tuan. Saudara tiri dan mantan kekasih nyonya Sara."
Bernad mendecakkan lidah. "Aku heran dengan Saka. Dia selalu saja ingin bertemu ibu dan neneknya. Mereka semua tidak peduli pada anak itu."
Bawahan membuka pintu mobil. "Silakan, Tuan."
Bernad masuk bersama ketiga pengawal. Mesin dihidupkan, Bernad kembali menoleh pada tempat persembunyian putranya. Ia menghela napas panjang kemudian menyuruh sopir untuk segera menjalankan mobil.
"Tuan Saka mendapat harta warisan," ucap anak buah Bernad. Melanjutkan kembali perbincangan tadi.
"Memangnya berapa harta warisan itu dibanding warisan yang aku serahkan pada Saka?" Bernad mengembuskan napas kasar. "Anakku tidak perlu harta. Dia butuh kasih sayang ibu dan ayahnya. Ini semua karena aku. Belinda tidak bisa menghilangkan sakit hatinya dan terus-terusan melukai Saka."
Mobil melenggang melalui jalan sepi nan gelap. Memang tempat persembunyian itu terpencil dan jauh dari jalur keramaian. Namun, dari depan sana ada dua buah mobil yang menghalangi.
"Tuan, sepertinya ada tamu tidak diundang," ucap sopir.
Bernad melihat dua mobil yang melintang di jalan. Ia melihat sopir, anak buah di sisi depan dan sampingnya. Dari ketiga pria itu pasti salah satunya ada pengkhianat atau lebih parah lagi semuanya adalah pengkhianat.
"Siapa di antara kalian yang menjadi pengkhianat?" tanya Bernad.
"Tuan, apa yang kamu katakan? Kami setia kepadamu."
"Wilayah ini milik kita. Tidak ada yang tau kecuali orang-orang yang terpilih." Bernad mengeluarkan ponsel, ia lekas menghubungi dokter Leo.
"Tuan, itu asisten Felix," ucap sopir yang menunjuk ke arah depan di mana seorang pria berdiri dengan senjata di tangan.
Felix masih muda. Rambut cepak, penikmat lukisan di tubuh di mana hampir lengan dan leher pria itu terdapat gambar. Tubuhnya tinggi dan kekar.
"Ternyata dia yang membocorkan ini semua. Aku harus segera mengabari Leo," kata Bernad.
"Halo, Leo!"
"Kamu sudah sampai?" tanya Leo.
"Belum. Aku tidak akan ke Indonesia. Mungkin aku akan mati. Segera bawa Saka pergi dari sana dan mungkin anak buahku sudah ada yang berkhianat. Selamatkan putraku. Jika kamu sampai tidak bisa, maka aku akan bangkit dari kubur untuk mencekikmu," ucap Bernad, lalu telepon diputus begitu saja.
"Kita hadapi mereka. Kelompok kita tidak boleh ada yang menyerah sekalipun maut di depan mata," jawab Bernad.
Keempatnya keluar dari dalam mobil. Bernad berada di posisi tengah berhadapan bersama Felix yang merupakan asistennya sendiri.
"Ada apa ini, Felix?" tanya Bernad.
"Aku datang untuk mengambil nyawamu, Tuan. Sekarang kamu sudah tidak punya apa pun. Pewaris satu-satunya juga koma. Seharusnya kamu menyerahkan segala kekuasan kepadaku, kan?"
Felix bisa dibilang adalah anak angkat dari Bernad. Sejak kecil selalu dengannya dan tumbuh bersama Saka. Karena Saka yang pembangkang dan suka menghilang tanpa kabar, maka Felix yang selalu menyelesaikan pekerjaan Bernad. Ia menginginkan kekuasan Bernad karena menurut Felix kekuatan dan kekayaan yang pria itu peroleh juga hasil dari kerja kerasnya.
"Tidak tahu balas budi. Kamu pikir bisa menggantikan Saka sebagai pewarisku? Mimpi!" ucap Bernad.
"Kekayaanmu adalah milikku juga!" teriak Felix.
Bernad berdecih, "Mimpi! Kekayaanku justru terkumpul dari aku muda. Semua warisanku hanya untuk Saka."
Felix tertawa. "Meski aku tidak bisa memilikinya, aku akan mengambilnya darimu!"
"Mataku tidak pernah buta. Silakan jika kamu bisa mengambil semua milikku!"
"Banyak omong! Kalian semua! Habisi Si Tua Bangka ini!" perintah Felix.
Dor .... !
Salah satu anak buah Bernad tumbang. Bernad memberi kode agar mereka mundur ke belakang mobil. Mereka kalah jumlah. Delapan melawan empat orang. Sayangnya salah satu anak buah Bernad tewas tertembak.
"Ini baru permulaan, Bernad!" teriak Felix. "Ayo, tembaki mereka!"
Anak buah Felix menembaki mobil yang menjadi pelindung bagi Bernad. Sisi kiri dan kanan adalah hutan. Bernad tidak mungkin membawa musuh berlari ke arah tempat persembunyian Saka. Jika pun harus mati, ia harus mengulur waktu agar Felix tidak ke rumah perawatan Saka.
"Sebaiknya Tuan lari. Biar kita yang menghalangi," ucap anak buah Bernad.
"Kamu kira aku tipe pemimpin yang mengorbankan bawahannya? Aku akan berjuang bersama. Ayo, kita habisi mereka!" ucap Bernad.
Keduanya mengangguk. Dalam hitungan ketiga, Bernad dan bawahannya keluar dari badan belakang mobil kemudian melesatkan tembakan ke arah lawan.
Bernad termundur ke belakang sebab terkena tembakan di perut. Di kubu Felix dua orang tumbang terkena tembakan di kepala.
"Kalian harus tetap melawan sampai mata kalian tertutup," ucap Bernad.
Satu per satu anak buah Bernad jatuh ke aspal jalanan. Selagi mata mereka masih terbuka dan tangan masih bisa menekan pelatuk senjata api, pertarungan masih berjalan. Namun, pertempuran harus terhenti sebab peluru dari kubu Bernad telah habis.
Felix tertawa. "Ayo! Lawan lagi."
Bernad jatuh berlutut. "Aku bersumpah! Dendam ini akan terbalaskan."
Felix mengacungkan senjata. "Matilah Tua Bangka!"
Dor .... !
Bernad tertembak tepat di jantungnya. Pria paruh baya itu langsung tergeletak tidak berdaya. Segala kedudukan, kekayaan pupus ditelan kematian.
Bersambung