
"Sara tunggu!" seru Indra.
"Kenapa kamu bisa berada di sini? Dengar, Indra. Aku tidak mau ada gosip mengenai kita lagi," ucap Sara.
"Kita sudah menjalin hubungan lama. Wajar aku selalu tau di mana kamu berada. Ivan Sarmawan mengenalku."
Sara tengah berada di studio designer Ivan Sarmawan. Permohonan dari Ivan membuat Sara tidak tega menolak permintaan untuk berlenggak-lenggok di panggung Catwalk.
Ivan juga mengetahui kabar kehamilan Sara dan malah berencana membuat kerja sama pakaian khusus ibu hamil. Sara tentu tidak menyia-yiakan kesempatan tersebut. Sara langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.
"Oke! Sekarang apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Sara.
"Kenapa kamu mengkhianatiku?"
Sara tercengang atas pertanyaan Indra. Astaga! Mengapa Indra selalu mempertanyakan soal yang sudah pasti pria itu tahu jawabannya? Bukankah semua masalah ini datang darinya? Sungguh egois, keras kepala. Berbuih mulut Sara menjelaskan, Indra tetap pada pendapatnya kalau ia pria setia.
"Jika kamu hanya ingin bicara tentang ini, lebih baik kamu pergi saja," ucap Sara.
"Aku lebih lama bersamamu. Semudah itukah berpaling dariku?" tanya Indra dengan tatapan sedih.
"Seharusnya pertanyaanmu itu kamu ajukan pada dirimu sendiri."
"Kamu tau kenapa aku menikahi Velia!" ucap Indra.
"Dan kamu tau sebab aku menikah dengan Saka. Kamu yang memulai ini semua. Jadi, jangan salahkan aku, Indra!"
Sara hendak melangkah pergi, tetapi Indra menghadang. Indra meraih kedua tangan sang mantan, mengenggam erat yang langsung mendapat penolakkan dari Sara.
"Lepaskan aku!" pinta Sara keras.
"Sara!" seru Dini yang berlari menghampiri. "Lepaskan tanganmu, Indra! Aku akan panggil keamanan."
"Jangan ikut campur, Dini! Ini urusanku bersama Sara," ucap Indra.
"Kalian sudah tidak punya urusan lagi! Sara sudah putus hubungan denganmu!"
Indra mendorong Dini hingga membuat wanita itu terjatuh ke lantai. Sara berteriak, meronta dan akhirnya, dapat terlepas dari gangguan Indra.
"Kamu sudah sangat keterlaluan!" ucap Sara marah.
"Dengar, Sara! Jika aku tidak bisa mendapatkan kamu, maka Saka juga. Aku akan buat hidup kalian tidak pernah bahagia!" kata Indra, dalam sorotan amarah.
"Sialan! Kamu kira aku takut atas ancamanmu itu!" sahut Sara.
Indra berdecih, "Lihat saja nanti!"
Indra melangkah pergi dari ruang ganti Sara. Pria yang tanpa malu datang mengancam. Lelaki yang tidak sadar diri atas perbuatannya sendiri.
"Mana yang sakit?" tanya Sara.
"Maaf, aku tidak berada di sisimu saat pria itu datang. Seharusnya aku tidak keluar mencarikan asinan untukmu."
"Jangan merasa bersalah. Aku mana tau dia datang kemari."
"Aku kesal, kenapa penjaga malah mengizinkan Indra masuk," kata Dini.
"Mungkin mereka tidak tau hubungan antara aku dan Indra yang memburuk. Mereka taunya kami masih bersama."
"Benar! Sekarang kamu bersiap dulu. Kamu harus latihan berjalan di panggung," ucap Dini.
"Aku mau makan asinan buah dulu."
"Apa masih bisa dimakan?" tanya Dini.
"Untung bungkusnya tidak pecah. Aku bisa memakannya," jawab Sara sembari menyunggingkan senyum di bibir.
...****************...
Sara tidak menceritakan tentang insiden bertengkarnya ia dan Indra tadi siang kepada Saka. Bercerita tentang hal itu membuat suasana hatinya buruk. Terlebih saat ini Saka tengah asik-asiknya mengusap perut ratanya.
"Kasihan anakku. Ibunya terlalu keras bekerja," celetuk Saka.
Sara tertawa. "Aku ingin dia merasakan kalau ibunya adalah wanita pekerja keras. Kalau dia perempuan, dia akan tau kalau ibunya seorang model."
Sara tampak berpikir sebelum menjawab, "Aku setuju dengan apa pun yang anak kita kerjakan."
"Maksudmu menjadi sepertiku yang seorang pembunuh, kamu juga izinkan?"
Kening Sara berkerut. "Aku tidak suka candaanmu. Kamu selalu bilang pembunuh. Itu bukan pekerjaan, tetapi kejahatan."
"Bee, aku ini seorang pria .... " Saka tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Bingung bagaimana menjelaskan kepada istrinya jika apa yang biasa dianggap mustahil, sebenarnya memang ada.
"Apa?" tanya Sara.
"Kamu pernah nonton film tentang sekelompok pria yang melakukan kejahatan. Mereka mengedarkan obat-obatan terlarang, senjata, dan .... "
"Aku tau. Tentang mafia?" Sara memotong kalimat Saka.
"Sebenarnya mereka itu ada di dunia."
Sara tercengang. Bingung, belum bisa mencerna apa yang suaminya ucapkan. Sara mengerjap, melambaikan tangannya seakan ucapan Saka adalah omong kosong.
"Jangan membicarakan itu. Yang aku tau suamiku adalah pria baik dan kerjanya tukang ojek online."
Saka merangkul bahu Sara, ia kecup puncak kepala istrinya. Suatu saat nanti, Sara akan tahu siapa ia sebenarnya. Saka akan pelan-pelan memberitahunya.
Ponsel berdering. Saka enggan meraih gawai yang jelas berada di depan mata. Ia tengah memeluk Sara, mengecup pipi dan bibir wanita itu, tetapi nada dering dari telepon dengan layar enam inci malah tidak berhenti berbunyi.
"Angkat saja," kata Sara.
Berat hati Saka melepas rangkulan tangannya kemudian meraih gawai di meja. Sebuah nomor baru, ketika ingin diangkat malah sudah mati. Terlambat. Dengan malasnya Saka menaruh kembali, tetapi ponsel berdering lagi. Saka benar-benar mengangkatnya, mendekatkan layar ke indra pendengar.
"Halo! Apa? Kapan? Bagaimana bisa? Oke! Kami akan datang," ucap Saka.
Sara diserang kepanikan karena Saka. Ia tidak sabar menantikan kabar yang membuat suaminya kaget. "Ada apa, Boo?" tanyanya setelah Saka menutup telepon.
"Kita lekas ke rumah sakit. Nenek terkena serangan jantung," kata Saka.
Sara mengangguk. "Apa? Ayo! Kita berangkat sekarang."
Saka menyempatkan diri mengambil jaket untuk istrinya. Meraih kunci yang berada di laci pajangan, lalu bersama-sama keluar dari rumah menuju mobil.
...****************...
Saka sudah diberitahu ruangan di mana sang nenek dirawat. Seseorang yang menelepon Saka tadi adalah asisten dari Ayu Prameswari. Saka dan Sara langsung masuk ke dalam ruang rawat ketika sudah menemukan kamarnya. Di sana sudah ada Belinda bersama anak dan suami juga Lisa serta Dery. Ayah dari Dery yang merupakan keponakan Ayu Prameswari telah tiada.
"Nenek!" seru Saka.
"Untung Tuan segera datang. Nyonya besar ingin segera bertemu," ucap sang asisten.
Saka menggenggam tangan lemah Ayu Prameswari. "Nenek, ini Saka."
Wanita renta itu membuka mata. Di tubuhnya sudah terpasang alat-alat yang membantu masa kehidupan. Tiba-tiba air mata meleleh dari ujung kelopak sang nenek.
"Maafkan, Nenek," ucap Ayu.
Saka menggeleng. "Tidak, Nek. Saka yang salah."
"Ibumu membuat suamiku pergi. Sekarang anaknya membuatku menderita."
Saka tersentak mendengarnya. Perlahan genggaman meregang, tetapi Ayu menahan agar tangan Saka tidak terlepas. Ia menggeleng lemah.
"Aku menyayangimu, Nak. Jaga istrimu."
Ayu bersedih, napasnya tersengal-sengal. Saka panik tidak tahu harus apa. Orang kepercayaan Ayu Prameswari segera memanggil dokter.
"Nenek! Jangan tinggalkan Saka!"
"Nenek," ucap Sara lirih.
Dokter datang bersama tim. Anggota keluarga dipersilakan untuk keluar. Semua harap-harap cemas mengenai kondisi Ayu.
Pintu dibuka oleh perawat. Saka menerobos masuk, ia mematung melihat perawat lain menutupi tubuh Ayu Prameswari, dan dokter yang menggelengkan kepala. Ayu Prameswari telah berpulang ke hadapan Sang Pencipta.
Bersambung