
Satu nama yang terus ia ingat. Sara! Di mana dia? Bagaimana keadaannya? Matikah? Hidupkah? Sengsara atau bahagia? Tidak ada yang tahu. Saka membuka matanya. Ia mengingat segala kejadian terakhir kali. Detik-detik ia ditembak, lalu terjun ke sungai deras.
"Sara," panggilnya.
"Saka. Syukurlah kamu membuka matamu," ucap Dokter Leo.
"Dokter Leo. Anda di sini. Apa aku berada di Amerika?" tanya Saka.
Saka ingin bangun, tetapi ia merasa kaku. Ia mencoba lagi, tetapi tetap tidak bisa. Ia menoleh ke sisi kiri dan kanan. Tidak ada apa pun yang mengikatnya. Lalu kenapa ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya? Saka memandang Leo dengan penuh pertanyaan.
"Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak?" tanya Saka. "Aku tidak mungkin lumpuh, kan? Jika aku lumpuh, bagaimana aku bisa membalas mereka?"
"Tenanglah, Saka. Aku akan merawatmu," ucap Dokter Leo.
"Persetan! Aku tidak menginginkan kondisi ini!" teriak Saka.
"Kalian masuklah!" seru Dokter Leo.
Dua orang pria berbaju putih masuk ke dalam ruangan. Leo memerintahkan keduanya memegang Saka agar tidak meronta ketika disuntik. Saat ini Saka perlu tenang sebelum ia tahu kebenaran yang terjadi.
Leo berhasil menyuntik lengan Saka. Cairan obat mulai beraksi. Saka sedikit tenang. Matanya tetap memandang dokter Leo yang berumur sama seperti Bernad.
"Aku tidak tau bagaimana reaksinya jika mendengar apa yang terjadi pada Bernad." Leo mengembuskan napas kasar. "Tenanglah dulu, Saka. Aku akan jelaskan semuanya."
Saka kembali tertidur. Leo memeriksa lagi kondisi tubuh Saka yang tidak bisa digerakkan. Saka mengalami kelumpuhan akibat sumsum belakangnya terkena tembakan.
"Aku berharap muncul keajaiban," gumam Leo.
...****************...
Saka mengerjap, perlahan ia membuka mata. Masih di tempat sama, yaitu sebuah rumah. Saka tahu ia tidak berada di rumah sakit sebab Bernad tidak akan membawanya ke sana. Namun, ke sebuah tempat yang dibuat seperti rumah sakit kecil. Ada beberapa yang seperti itu dan tersembunyi di berbagai wilayah. Saka menoleh ke sisi kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun di dalam kamarnya.
"Leo!" seru Saka.
Pintu kamar dibuka. Seorang pria memakai baju putih masuk. "Tuan sudah sadar. Apa yang sakit?" pria muda seumuran Saka memeriksa kondisinya.
"Di mana dokter Leo? Suruh dia kemari," ucap Saka.
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar."
Perawat itu keluar. Saka melihat ada lagi pria yang memakai baju sama di depan kamarnya. Leo pasti menyuruh mereka berjaga-jaga. Sekali lagi ia mencoba menggerakkan tubuh, tetapi tetap saja tidak bisa.
Leo masuk ke dalam kamar, ia memeriksa Saka kemudian duduk di sisi ranjang pasien. "Aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu."
"Aku sungguh lumpuh?" tanya Saka.
"Ada peluru yang menembus sumsum tulang belakangmu. Kamu masih beruntung bisa selamat," jawab Leo.
"Beruntung kamu bilang? Aku tidak bisa bergerak. Ini sama saja dengan mati. Sara, istriku masih ada di sana. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya juga kandungannya."
"Aku akan merawatmu. Kamu pasti bisa berjalan lagi."
"Kamu yakin aku bukan lumpuh permanen?" tanya Saka.
Saka ingin tertawa mendengar penjelasan Leo. Jika peluru telah menembus tulang belakangnya, sudah pasti akan merusaknya. Leo hanya ingin mengatakan hal yang menghibur. Memberi harapan palsu meski hasilnya akan tetap sama. Nyatanya saat ini ia lumpuh.
"Di mana daddy-ku?" tanya Saka.
"Sekarang kita berada di pulau pribadi milik ayahmu," jawab Leo.
"Pulau yang mana? Dia punya banyak pulau. Dia bahkan tidak ada di sisiku."
"Dengarkan aku, Saka. Kita berada di pulau buatannya. Palm Island. Hanya kamu, aku dan dia yang tau di mana pulau itu," jawab Leo.
"Apa yang terjadi pada daddy?"
Tiba-tiba detak jantung Saka berdetak lebih cepat. Ia merasa ada satu hal yang membuatnya khawatir saat ini. Tatapan Leo semakin menyakinkan kalau memang benar telah terjadi sesuatu.
"Ada apa?" tanya Saka.
Leo menggeleng. "Aku pikir dia sudah mati."
"Apa maksudmu?"
"Felix berkhianat! Tidak tahukah kamu betapa susahnya membawamu pergi dari musuh? Nyawaku beruntung masih bisa selamat," ucap Leo.
Saat menerima telepon dari Bernad, Leo langsung menyemprotkan gas beracun ke semua penjaga. Ia tidak dapat mempercayai siapa pun waktu itu kecuali dua asisten pribadinya.
"Bernad ingin ke Indonesia menjemput istrimu. Di tengah perjalanan, ia mengatakan akan mati. Aku mendengar suara tembakan dan perkataannya. Ia sengaja tidak mematikan ponsel saat itu," ungkap Leo.
"Jadi, daddy mati di tangan Felix?"
"Dia berkhianat," ucap Leo.
"Pergilah, Leo. Tinggalkan aku sendiri."
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Aku ingin sendiri!" ucap Saka menegaskan.
"Baiklah," sahut Leo pasrah.
Saat Leo sudah keluar dari kamar, Saka ingin menangis. Bolehkah ia bersedih? Bernad mengatakan seorang pria tidak boleh menangis. Saka mengingat setiap didikan ayahnya. Sesakit apa pun itu, Saka tidak diperbolehkan menitikkan air mata.
Saka tahan akan luka fisik, tetapi ini masalah hati yang ada di dalam hatinya. Ia kehilangan pria satu-satunya yang menjaganya di dunia ini. Bernad mungkin bukan sosok ayah yang Saka idamkan, tetapi tidak dipungkiri jika pria itulah yang selalu bersamanya.
"Sekali ini saja. Aku ingin menangis," ucap Saka.
Lelehan air mata itu akhirnya jatuh juga. Saka meluapkan segala kesedihan melalui air mata yang tumpah ruah. Takdir begitu kejam mempermainkannya. Semua diambil begitu saja darinya.
"Sialan! Aku akan balas dendam!" teriak Saka.
Bersambung