Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Belanja Hadiah



Sara bingung untuk membeli hadiah ulang tahun untuk sang nenek. Mengetahui fakta latar belakang Saka, ia yakin sekali jika wanita bernama Ayu Prameswari tidak akan menerima hadiah yang biasa saja.


Murah atau mahal pasti bukan kriteria yang wanita tua itu perlukan, tetapi sesuatu yang khusus, unik. Barang seperti itu yang susah ditemukan.


"Apa yang mau kamu beli?" tanya Dini.


"Aku tidak tau. Kalau tas mahal, aku yakin nenek Saka tidak akan menyukainya. Dalam acara ini, aku ingin suamiku menjadi pusat perhatian," jawab Sara.


"Kamu ingin menjadi keluarga Hartawan? Enggak salah pilih suami kamu. Ibarat Saka itu, pangeran yang tersembunyi dalam tempurung kura-kura."


"Salah, Saka itu arang dalam tumpukan berlian."


"Iya, iya. Saka memang terbaik. Sekarang kita cari hadiah dulu," ucap Dini.


Keduanya sudah berada di pusat perbelanjaan setelah menyelesaikan pekerjaan. Sudah satu jam berlalu, tetapi Sara tidak menemukan barang yang pas.


Membeli perhiasan pasti tidak dibutuhkan karena nenek Saka sama sekali tidak kekurangan materi untuk membeli barang mahal.


"Apa yang harus kubeli?" tanya Sara.


"Beli sembarang saja," jawab Dini.


"Mana bisa begitu. Ini pertemuan keluarga yang pertama. Saka adalah anak yang tidak diperhitungkan. Jika memberi barang asal-asalan pasti kami akan direndahkan."


"Justru dari itu! Saka tidak dianggap dalam keluarganya. Barang apa pun yang kalian berikan juga tidak ada nilainya," ucap Dini.


"Kamu benar juga. Ngapain aku repot-repot menyiapkan hadiah istimewa? Toh, tidak ada gunanya," kata Sara. Sedetik kemudian, ia menjentikkan jari. "Aku tau hadiah apa yang harus diberikan," kata Sara.


Setelah membeli hadiah, Dini mengantar Sara pulang ke kediamannya. Ternyata Saka tidak berada di rumah. Suami dari supermodel itu tengah mencari rezeki di jalan raya dengan membawa penumpang.


"Enggak apa-apa aku pulang duluan?" tanya Dini.


"Kamu balik saja. Kebetulan hari ini jadwalku membereskan rumah."


Baik Saka maupun Sara sama sekali tidak keberatan membereskan rumah. Terlebih Saka yang terbiasa hidup mandiri di luar negeri. Semua dikerjakan sendiri tanpa pelayan.


Sara mengangguk. "Iya. Cerewet!"


"Ini semua demi kebaikanmu," ucap Dini.


...****************...


Pukul setengah enam sore, Saka pulang. Sara sudah mengabari jika dirinya sudah berada di rumah dan menunggu. Sara membuka pintu ketika suara kendaraan roda dua milik Saka terdengar masuk ke pekarangan.


Saka membuka masker penutup mulut serta helm. Wajahnya mengkilat karena debu yang menempel. Cuaca Jakarta tadi siang panas. Aroma khas yang menguar dari tubuh Saka tercium.


"Jangan mendekatiku. Aku baru dari luar," kata Saka ketika Sara ingin memeluknya.


Sara tersenyum, dan tetap memeluk Saka. "Biarin. Aku tetap mau memelukmu."


"Aku sudah membeli hadiah buat nenekmu."


"Kamu begitu repot. Hadiah apa yang kamu berikan?" tanya Saka.


"Aku tidak tau kesukaan beliau. Apa aku harus beli perhiasan atau tas bermerek?" ucap Sara.


"Tidak perlu. Beri barang biasa saja."


"Aku membeli kain batik untuknya," jawab Sara.


"Bagus. Persiapkan semuanya, dan ini, tolong aku untuk membungkusnya. Aku juga harus memberikan nenek-ku hadiah."


Sara meraih bungkusan yang diberikan Saka. membuka tas kertas tersebut, dan tertegun melihat isi hadiah yang Saka berikan. Beberapa barang yang lebih buruk dari Sara.


"Dia yakin ingin memberikan ini? Sepertinya aku harus membeli satu barang lagi untuk menambahkannya," gumam Sara. "Aku pesan online saja lewat pelayanan jasa antar."


Bersambung