
Saat ini, sang pria patah hati tengah berada di apartemen miliknya. Indra meneguk minuman memabukkan langsung dari botol dan ia akan membuang botol itu ke lantai setelah habis isinya.
Indra tidak terima, sekalipun ia tidak akan terima akan keputusan kekasihnya. Sara cintanya, hidupnya, napasnya, dan seluruh jiwanya hanya untuk wanita itu.
Indra hanya perlu waktu untuk memutuskan hubungan bersama dengan Velia. Ia pasti akan menceraikan istrinya dan Sara malah tidak pernah sabar akan hal itu.
"Kamu tidak percaya aku bunuh diri, kan? Aku akan buktikan Sara. Setelah aku kehilangan nyawa, baru kamu akan terus bersamaku."
Indra beranjak dari duduknya, mengambil pecahan botol yang berserakan di lantai. Indra tersenyum, menggigit bibir kemudian mengiris urat nadinya sendiri.
Noda merah bercucuran. Indra tersenyum melihat itu. Ia mengambil ponsel, memotret apa yang terjadi pada tangannya, lalu mengirimkan gambar itu kepada Sara.
"Datang, Sayang. Kamu harus datang."
Sara tengah berbalas pesan kepada Saka. Kekasihnya mengatakan akan datang untuk makan malam. Saka juga mengatakan jika ia sudah menyewa rumah kontrakan untuk tinggal di Jakarta.
Sara sendiri tidak tahu rumah Saka yang sebenarnya. Kekasih barunya itu seperti tidak ingin membicarakan masalah keluarga dan Sara mengerti saat Saka mengatakan jika ia hanya sendirian.
Bisa jadi Saka memang tidak punya rumah dan hidup pria itu suka berkelana. Dilihat dari hobi Saka yang suka berpindah tempat, kemungkinan seperti itu.
Saka lahir di Pontianak, lalu pria itu mengatakan keluarganya di Jakarta. Namun, Saka malah tinggal di pulau Randayan. Sara rasa Saka memiliki jiwa petualang.
Sara tersenyum dan ia membayangkan Saka akan mengajaknya mendaki gunung, berkemah di sana dan di hawa yang dingin mereka akan saling menghangatkan.
Khayalan Sara buyar saat pesan baru masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Indra yang membuat mata Sara ingin keluar dari tempatnya.
Sara bergegas mencari kunci mobil dan membuat sang sahabat yang baru kembali dari dapur menjadi heran.
"Sara, kamu cari apa?"
"Di mana kunci mobil? Cepat carikan aku!" kata Sara.
"Ada di laci lemari pajangan. Di sana kuncinya," jawab Dini.
Sara langsung menuju lemari yang dimaksud oleh Dini dan ia mengambil kunci kemudian bergegas keluar dari rumah.
"Tunggu, Sara! Kamu mau ke mana?" teriak Dini.
"Aku akan menemui Indra," jawab Sara, lalu masuk ke dalam mobil.
Dini menghela napas panjang. Ia yakin sekali jika Indra telah mencoba melakukan percobaan bunuh diri, dan itu sudah biasa terjadi saat Sara menginginkan hubungan mereka berakhir.
Dalam perjalanan, Sara menelepon ambulan untuk segera ke apartemen milik Indra. Air mata menitik, menodai pipi Sara yang mengkhawatirkan keadaan Indra.
Sara keluar dari dalam mobil dan mengatakan kepada penjaga apartemen jika Indra tengah melakukan percobaan bunuh diri.
Penjaga itu langsung mengikuti Sara dan wanita penerima tamu hanya bisa melongok karena memang terlihat sangat darurat.
Sara dan penjaga sampai di lantai lima. Keduanya bergegas menuju bilik yang Indra tempati.
"Indra! Buka pintunya," teriak Sara.
"Tenang, Nona. Saya akan meminta bantuan lain untuk membukanya." Penjaga itu pergi meninggalkan Sara.
"Indra! Ini aku, Sara," teriaknya sembari terisak.
Petugas ambulan datang bersama dengan orang penjaga yang membuka paksa pintu apartemen. Sara masuk setelah pintu bisa dibuka dan ia menggeleng karena Indra kembali menyayat pergelangan tangannya.
Petugas segera melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan kucuran noda merah yang menetes dari pergelangan tangan lelaki itu.
Sara terisak sejadi-jadinya. Ia berada dalam kepanikan. Penjaga dan petugas segera menggotong Indra untuk segera dibawa ke rumah sakit.
...****************...
"Katakan pada Sara, jika aku sudah datang," kata Saka kepada penjaga.
"Eh, bang Saka. Tapi nona Sara keluar terburu-buru tadi."
"Ke mana?"
Saat Indra datang, penjaga akan pura-pura lupa, tetapi saat Saka datang, penjaga langsung mengizinkannya masuk.
Penjaga memencet bel dan tidak berapa lama, Dini datang membuka pintu. Ia kaget dan berusaha menampilkan senyum melihat Saka.
"Sara mana?" tanya Saka.
"Dia pergi," jawab Dini.
"Dia tadi berjanji untuk makan malam bersamaku, apa dia ada pekerjaan?"
"Sara pergi menemui Indra."
Saka terdiam, sejurus kemudian dia mengangguk. "Ya, sudah. Aku pergi saja."
Saka melangkah gontai meninggalkan rumah, tetapi ia terhenti saat suara Dini memanggilnya. Saka memutar tubuh sepenuhnya memandang Dini.
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu apa niatmu mendekati Sara. Aku hanya ingin memberitahu bahwa sudah berulang kali aku menasihati sahabatku itu. Sara tetap saja kembali pada Indra," ungkap Dini.
"Aku tidan punya niat apa pun. Kami saling mencintai," kata Saka.
"Kamu yakin? Jika cinta itu sepihak, sebaiknya lupakan saja. Aku menyarankanmu. Sara sangat mencintai Indra dan mereka sudah ditakdirkan untuk bersama, dan aku rasa kamu tidak sepadan dengannya." Dini menangkupkan kedua tangan. "Maafkan aku. Setidaknya, jika mimpi jangan terlalu tinggi, "kata Dini.
"Apa karena aku miskin kamu bisa seenaknya bicara seperti itu?"
"Maafkan aku. Hanya saja Sara sudah pernah hidup menderita. Dia mencapai karir yang luar biasa dengan hasil kerja kerasnya. Aku tidak ingin ia hidup susah."
"Aku merasa senang mendapatimu sebagai sahabat Sara. Kamu bicara begini, apa mendukung Sara sebagai wanita simpanan?" tanya Saka.
"Bukan begitu. Kamu salah paham. Aku ingin Sara mendapat pria baik dan juga mapan," jawab Dini.
"Aku tahu maksudmu. Jangan diperpanjang. Aku permisi," ucap Saka kemudian melangkah keluar dari halaman rumah Sara.
Saka mengembuskan napas gusar. Padahal ia datang dengan suka cita untuk makan malam bersama. Saka juga ingin menunjukkan motor baru yang ia beli secara tunai dari uang warisan.
"Sara, kenapa kamu membohongiku?" ucap Saka dengan nada lirih.
...****************...
Sara mondar-mandir di depan pintu ruang gawat darurat. Ia khawatir Indra tidak terselamatkan, dan itu semua karena keputusannya.
Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter pria keluar dan Sara segera menghampirinya. "Bagaimana?"
"Lukanya tidak terlalu dalam. Dia baik-baik saja," kata dokter.
Sara dapat bernapas lega. "Boleh aku menemuinya?"
"Dia akan dipindahkan ke ruang rawat dan Anda bisa menemuinya."
"Terima kasih, Dokter," ucap Sara.
Dokter itu tersenyum, "Sudah menjadi kewajiban."
Sara menunggu sampai Indra di tempatkan di ruang perawatan. Sara tidak ingin menghubungi Velia ataupun keluarga Indra sebab ia sendiri tidak ingin bertengkar untuk saat ini.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Sara pada perawat.
"Silakan, Nona."
"Terima kasih," ucap Sara, lalu melangkah masuk.
Di sana Indra terbaring lemah dengan pergelangan tangan diperban dan selang infus menusuk nadinya.
"Kapan kamu berhenti, Indra?" tanya Sara.
Bersambung