Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Bayi Perempuan



"Sara! Makanannya mana?" teriak Arya.


Sara bergegas membawa makanan yang baru saja matang ke meja makan. Semua pekerjaan rumah ia yang kerjakan. Tidak ada pelayan di kediaman lama sebab Arya maupun mertuanya tidak memperbolehkan orang asing masuk ke tempat mereka.


Nama Sara sudah tenggelam selama beberapa bulan ini, bahkan sahabatnya Ivan Sarmawan juga bertanya-tanya ke mana perginya rekan bisnisnya.


Sara melihat model dan artis yang mengenalnya berbicara di TV. Mereka tidak tahu di mana Sara sebenarnya, bahkan Indra juga membual tidak tahu apa-apa mengenai mantan kekasihnya.


Semua hilang termasuk Dini, padahal Sara berada di dalam penjara keluarga suaminya. Menjadi pelayan bagi keluarga keji itu. Perutnya sudah membesar, tetapi Sara disuruh bekerja selayaknya pembantu.


Sara meletakkan sepiring ayam goreng di atas meja serta lalapannya. Hari ini, ia cuma bisa menyajikan makanan sederhana saja sebab Sara sungguh kelelahan. Perutnya kadang sakit dan itu membuat pekerjaan jadi tertunda.


"Cuma ini?" tanya Hartawan.


"Jika ingin makan enak, makan saja di restoran. Atau cari koki yang bisa memasak," jawab Sara.


"Sialan!" Arya mendorong Sara hingga terjatuh. "Dia itu mertuamu. Beraninya kamu bicara tidak sopan."


"Apa harus mendorongnya, Arya?" sela Belinda.


Arya berdecak, "Masakan olahanmu hanya ini saja. Ayam goreng, sayur sop, lalapan dan sambal. Belajar sana menu yang lain."


"Arya! Kamu bisa makan di restoran sana. Sara tidak enak badan." Belinda mengulurkan tangan kepada menantunya, tetapi ditepis oleh Sara.


"Jangan sok baik padaku," ucap Sara.


"Lihat, Ma. Menantumu tidak sopan sama sekali," kata Arya.


"Sudahlah. Kita makan saja."


Sara berusaha untuk bangun, tetapi ia merasakan sakit itu kembali. Sara meringis yang membuat Belinda, Hartawan dan Arya menatapnya heran.


"Ada apa?" tanya Belinda.


"Kenapa dia berdarah?" ucap Arya.


Sara merasakan nyeri di pinggangnya. "Tolong aku."


"Dia mau melahirkan. Cepat panggil dokter," kata Belinda.


"Bawa aku ke rumah sakit."


"Mimpi saja. Kamu bisa lari jika ke rumah sakit," sela Hartawan. "Biar Papa saja yang menelepon dokter pribadi kita. Dia bisa memanggil bidan temannya."


"Iya, Pa itu lebih bagus," ucap Arya.


"Ayo, Arya. Kamu bawa Sara ke kamarnya," perintah Belinda.


Arya mendengus ketika ia disuruh membawa Sara ke dalam kamar. Mau tidak mau Arya mengangkat tubuh Sara, lalu membawanya ke dalam kamar.


Kebaikan keluarga Hartawan hanya pada kamar yang Sara tempati, yaitu tempat tidur besar yang tadinya dijadikan sebagai kamar tidur ia dan Saka. Kamar itu lebih cocok agar Sara tidak bisa lari. Jendelanya dipagari, pengawas juga mudah melihat Sara dari bawah.


Mau dikurung di kamar manapun, Sara juga tidak bisa lari. Terlalu banyak penjaga di dalam rumah itu juga CCTV. Setiap pergerakan Sara selalu diawasi.


"Tahanlah sebentar lagi. Dokter akan datang," kata Arya.


"Saka," ucap Sara.


"Suamimu sudah mati," sahut Arya. "Biar aku telepon Indra saja. Dia pasti senang melihatmu akan melahirkan."


Sara menggeleng. "Jangan!"


Arya tertawa. "Dia bisa menemanimu."


"Dia akan mengambil anakku. Kumohon, jangan lakukan itu."


Arya tertawa mendengar permohonan itu. Ia berhasil menjebak Sara dengan menandatangani surat perjanjian. Tertulis di surat itu bahwa Sara bersedia memberikan anaknya jika berani melawan perintah keluarga Hartawan.


"Anakmu akan dijadikan pelayan. Nasibnya akan sama seperti Saka. Ya, hitung-hitung Indra melampiaskan sakit hatinya kepadamu. Oh, jika Indra tidak mau, aku bisa menjualnya ke rumah hiburan. Perpaduan wajahmu dan Saka pasti menghasilkan bibit unggul. Ah, Anton membuka tempat hiburan. Dia bisa kerja di sana nantinya," tutur Arya.


Sara menggeleng. "Jangan lakukan itu. Aku tidak akan lari ke mana pun."


"Iya."


Rasa sakit semakin Sara rasakan. Belinda mendekat, ia mengusap kening menantunya, tetapi mendapat penolakan dari Sara.


"Aku mencoba baik kepadamu," ucap Belinda.


"Jika kamu baik, maka lepaskan aku. Biarkan aku hidup tenang."


"Kamu mau melahirkan dan masih saja bicara melantur. Terserah kamu saja jika menolak perhatianku," kata Belinda, lalu beranjak dari sana.


Lebih baik sendiri karena Sara memang seorang diri. Ia mengusap perutnya, berharap anak yang dilahirkan akan selalu sehat. Selama berada di dalam penjara rumah, Sara belum pernah memeriksakan kandungannya. Ia tidak tahu apakah bayi yang ia kandung laki-laki atau perempuan. Namun, Sara berharap anaknya lahir selamat dan sehat tanpa kurang satu apa pun.


Setengah jam berlalu, Sara sendiri dengan rasa sakitnya. Pintu kamar terbuka, lima orang dewasa yang memakai seragam putih masuk. Terdiri satu pria dan empat orang wanita.


Sara mengenal dokter pria yang bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Hartawan. Sementara empat wanita adalah orang asing baginya.


"Sara, Dokter Widya dan perawat akan membantumu bersalin. Kamu tenang saja. Kami akan membantu sampai anakmu lahir dengan selamat," ucap Dokter pribadi itu.


Sara mengangguk, ia pasrah jika harus melahirkan seperti ini di rumah. Tiga wanita lainnya sibuk mempersiapkan peralatan. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk melakukan persalinan.


...****************...


Dari siang, Sara baru melahirkan pada pukul tujuh malam. Seorang bayi perempuan yang kini telah berada di dalam pelukannya. Sara melelehkan air mata melihat raut wajah sang putri. Itu mengingatkannya kepada Saka.


"Selamat, Nyonya. Putrinya sangat cantik," ucap Dokter Widya.


"Terima kasih, Dok."


"Jangan khawatir. Setiap bulan kami akan datang kemari. Keluargamu telah memutuskan itu."


Sara tersenyum getir. "Kamu sudah tau kondisiku?"


Dokter Widya menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup. Ia menundukkan tubuh, lalu berbisik, "Maaf. Kami juga diancam."


Sara mengangguk. "Aku mengerti."


"Siapa nama putrimu?"


"Flora Putri Lingga," ucap Sara.


"Nama yang bagus," kata Dokter Widya.


"Bunga di musim semi. Kuharap ia tumbuh kuat meski badan menerjang."


Pintu dibuka. Belinda, Arya dan Hartawan masuk ke kamar. Sara mempererat pelukannya kepada Flora. Ia tidak akan membiarkan mertua dan adik iparnya mengambil putrinya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Belinda.


"Ya, Nyonya. Menantu Anda baik-baik saja. Bayinya juga sehat," jawab Dokter Widya.


"Dokter sudah berusaha keras," sela Arya.


"Semua sudah selesai. Kalau begitu, kami undur diri," ucap Widya.


"Antar mereka keluar, Arya," perintah Hartawan.


Arya mengangguk, lalu mempersilakan dokter dan perawatnya keluar. Belinda duduk di tepi di tempat tidur. Ia mengulurkan tangan untuk meraih si kecil.


"Jauhkan tanganmu!" kata Sara.


"Mama neneknya."


"Keluar dari sini. Anakku tidak butuh dirimu!" ucap Sara.


"Sudahlah, Sayang. Buat apa kamu memperdulikan dia. Lebih baik kita tinggalkan saja wanita ini," sela Hartawan.


"Baiklah. Mama mengerti jika kamu ingin bersama bayimu," kata Belinda seraya tersenyum.


Bersambung