
Pagi-pagi sekali, Dini sudah bertandang ke rumah Sara hanya untuk menanyakan kabar yang saat ini tengah beredar di media sosial. Video berdurasi sembilan belas detik menayangkan Sara pergi bersama tukang ojek sembari bergandeng tangan.
Sudah banyak kritik pedas dari para netizen serta penggemar yang menyayangkan Sara jatuh ke pelukan pria yang sebenarnya tidak pantas sama sekali bersama wanita itu. Namun, ada juga yang mendukung. Mereka tidak mau mencampuri urusan pribadi Sara.
"Bagaimana kamu ingin menjelaskannya sekarang?" tanya Dini. "Aku bilang untuk berhati-hati, tetapi kamu seakan ingin mempublikasikan hubunganmu bersama Saka."
"Lagian wajah Saka juga tidak terlihat jelas, dan memang aku ingin memperkenalkannya pada penggemarku. Aku ingin mereka tau statusku yang sudah berubah," kata Sara.
"Bee, aku rasa apa yang dikatakan Dini ada benarnya. Kita memang harus hati-hati di luar sana. Ini juga demi karier kamu," ucap Saka. Lebih baik memang begini. Aku tidak sadar jika apa yang aku lakukan akan mengundang orang-orang itu tau keberadaanku.
Tumben Saka berkata seperti itu. Apa yang terjadi? "Nah, betul apa kata Saka," sambung Dini.
"Terserah kalian saja. Aku sudah tidak peduli dengan karier, aku ingin fokus menjadi ibu rumah tangga."
Dini mencibir, "Kamu ingin mandiri, Saka saja kerjaannya enggak jelas. Kamu terbiasa hidup berkecukupan, lalu ingin hidup sederhana, apa kamu mampu?"
"Ucapanmu sangat keterlaluan, Din. Orang tuaku tidak ada sejak aku berusia lima belas tahun. Aku tidak tau keberadaan mereka, dan selama itu aku bisa menghidupi hidupku sendiri," kata Sara. Ia merasa tersinggung atas perkataan Dini yang menganggap remeh dirinya dan Saka.
"Memang adanya begitu, Bee. Aku memang belum bisa memberimu kelebihan materi."
"Maafkan aku. Kamu bersiaplah, Sar. Kita ada jadwal pemotretan lagi. Ada juga tawaran iklan. Kamu ingin mengambilnya tidak?" tanya Dini.
"Aku terima. Iklan tidak terlalu banyak menghabiskan waktuku."
Sara beranjak dari ruang makan karena Dini memang berada di rumahnya ketika Sara dan Saka sarapan bersama. Saka turut menyusul istrinya ke dalam kamar.
"Saka!" tubuh Sara meremang ketika Saka menyentuhnya.
"Biarkan aku memelukmu," ucap Saka.
"Aku mau ganti baju."
"Biarkan aku membantumu."
Saka menarik kaus putih dari bawah, melewati kepala sampai lengan Sara, lalu membuangnya ke atas tempat tidur. Ia kembali memeluk Sara erat, memberi kecupan nakal di sekitar tengkuk dan pundak.
"Kamu sangat harum. Aku sangat tidak ingin berpisah darimu," ucap Saka.
"Hari ini aku harus kerja."
"Aku tau. Biarkan aku bersamamu sebentar saja. Semalam aku belum puas menikmatimu," ucap Saka disela kecupan yang ia berikan di sekitar punggung belakang istrinya.
"Kumohon jangan seperti ini. Dini akan marah karena menungguku," kata Sara bernada serak.
"Kapan kamu libur? Ngomong-ngomong, kita belum bulan madu."
"Kamu ingin liburan ke mana? Pulau Randayan lagi?" tanya Sara.
Saka menggeleng. "Bagaimana kalau pantai atau gunung saja? Tapi aku tidak bisa membawamu ke hotel mewah."
"Pantai lebih baik. Aku tidak mau ke gunung."
"Luangkan waktumu kalau begitu. Kita akan pergi berkemah," kata Saka dengan mengecup kening wajah istrinya.
Sara melanjutkan kegiatannya berganti pakaian, merias sedikit wajah, dan rambut. Sederhana saja Sara terlihat cantik. Memang dia wanita yang paling menarik menurut Saka.
"Aku pergi, Boo," pamit Sara.
Saka menarik tangan Sara, lalu menunjuk bibirnya. Sara harus memberi sarapan yang mengenyangkan bibirnya. Sara tersenyum, mencondongkan tubuh kemudian mendaratkan satu kecupan yang langsung disambut hangat oleh Saka.
"Sudah, Boo. Aku harus pergi," kata Sara.
Berat hati Saka harus melepas istrinya. "Hati-hati di jalan, Bee."
"Aku harus segera menghapus video yang beredar itu. Sungguh merepotkan punya istri terkenal," gumam Saka.
Pria itu meraih tas laptop yang ia simpan di dalam lemari. Sara sempat bertanya mengenai barang pribadi miliknya, tetapi untunglah istrinya itu tidak punya jiwa keingintahuan yang besar.
Saka membuka laptop, lalu mengerjakan tugasnya. Ia menekan tuts-tuts keyboard dengan jari-jarinya yang terlatih.
...****************...
"Aku datang kemari terburu-buru. Sebenarnya untuk apa kamu menyuruhku pulang?" ucap seorang pria dengan jalan terpincang-pincang menuju kursi sofa. Pria itu duduk setelah mendapatkan tempat yang bisa mengistirahatkan tubuhnya.
"Kapan kakimu sembuh?" tanya Indra.
"Kakiku tidak akan sembuh karena kamu memanggilku kemari," jawab Anton.
Anton adalah sahabat dari Indra. Wajahnya lumayan tampan, tetapi kakinya pincang karena kecelakaan sejak enam bulan lalu. Seorang pria yang tidak jelas apa pekerjaannya, tetapi punya banyak uang. Suka bepergian ke negara lain demi sebuah tujuan, tetapi tidak ada yang tahu apa tujuannnya. Hanya Indra yang mengetahuinya, tetapi pria itu tidak bisa mengatakannya kepada orang-orang.
"Aku sudah putus dengan Sara," ucap Indra.
"Benarkah? Akhirnya, kamu memilih Velia."
"Kamu kira aku ingin melepaskannya? Aku ingin setelah kampanye politikku selesai, aku akan membawanya kembali. Tapi aku ingin menyingkirkan pria yang telah menjadi suaminya."
"Sara sudah menikah? Kapan? Dia tidak mengundangku," kata Anton.
"Apa perlu dia mengundangmu? Pria itu sama sekali tidak pantas untuk Sara. Dia pasti memanfaatkan kekasihku. Pagi ini saja video Sara dan pria itu beredar, dan kamu tau apa pekerjaan suaminya? Tukang ojek," tutur Indra.
Anton tersenyum. "Aku rasa Sara memilihnya karena pria itu setia. Tidak sepertimu yang tidak memberinya kepastian."
"Jangan ingatkan aku soal itu. Aku ingin kamu menyelidiki pria bernama Saka. Dia yang telah merebut Sara dariku. Aku yakin sekali, pria berandalan itu tidak layak sama sekali untuk berdampingan bersama kekasihku. Aku ingin membongkar keburukannya di depan Sara."
"Siapa?" tanya Anton.
"Namanya Saka."
Kening Anton berkerut. "Saka?"
"Selidiki dia. Aku ingin kamu menghabisi pria itu," pinta Indra.
"Kamu punya fotonya?" tanya Anton. Saka? Apa dia adalah pria yang menyebabkan kakiku patah enam bulan lalu? Kenapa bisa mengenal Sara dan Indra?
Indra menggeleng. "Aku tidak punya. Tapi kamu coba lihat dua video ini. Itu Sara bersama Saka."
Anton meraih ponsel dari tangan Indra, lalu memutar video Sara saat terciduk di hotel, dan kebersamaan keduanya yang naik motor bersama.
"Sakalingga!"
"Kamu kenal?" tanya Indra.
"Dari mana kalian mengenalnya?" raut wajah Anton berubah tegang.
"Di pulau. Aku menyembunyikan Sara di sana saat skandal kami terkuak. Aku meninggalkannya untuk berdiam dan dia berkenalan dengan pemuda itu."
"Sialan! Rupanya dia bersembunyi di pulau hingga kami tidak bisa mencari jejaknya," kata Anton dengan menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Indra tidak mengerti.
"Aku akan menghabisinya!"
Bersambung