Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Bertemu Adik Tiri



Anton menggebrak meja hingga menimbulkan retak. Ia yakin sekali jika Saka yang disebut oleh Indra adalah Sakalingga, pria berandalan yang telah membuat kakinya patah.


Laki-laki paling dicari oleh musuh, dibenci oleh saudaranya sendiri, dan dibuang oleh keluarga. Saka yang malang, tetapi pria itu tidak bisa ditaklukan dengan mudah.


Enam bulan lalu Anton baru bertemu dengan pria itu ketika berada di Hongkong. Perkelahian tidak dapat dielakkan saat itu, dan membuat kakinya menjadi korban. Lalu bagaimana bisa Saka sudah berada di Indonesia? Pria itu sangat licin seperti belut. Selalu berpindah tempat hingga sulit untuk menangkapnya.


"Dia menikahi Sara?" Anton malah tertawa.


"Ada apa denganmu? Cepat katakan apa yang kamu tau mengenai Saka."


Anton sungguh tidak dapat menahan gelak tawanya. "Apa dia sungguh pria yang tertarik pada wanita?"


"Jangan bertele-tele. Katakan saja."


"Aku yakin dia hanya bermain dengan Sara. Kamu tidak mengenal dia, dan dunia kalian sama sekali berbeda. Kamu berada di atas, tetapi Saka, dia menguasai segalanya. Dia pandai berlakon, menjadi pria biasa yang polos. Sebenarnya, Saka adalah bahaya. Jangan sekali kamu terlibat dengan pria itu," ucap Anton.


"Apa? Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Indra.


"Jika kamu ingin menang dan terpilih menjadi wakil rakyat, jangan berurusan dengannya."


"Untuk apa aku takut dengan pria miskin sepertinya," kata Indra.


"Kekayaan keluargamu tidak ada apa-apanya dibanding miliknya. Belum lagi warisan yang ia miliki."


Indra tertegun mendengarnya. Sebenarnya siapa Saka? Kenapa malah sosoknya sangat misterius? Mungkinkah Sara mengetahui Saka sangat kaya, lalu memilih bersamanya? Lalu untuk apa Saka malah menjadi tukang ojek online? Indra tidak habis pikir dengan teka-teki ini.


"Aku sangat bingung. Kenapa dia menjadi pura-pura miskin?"


"Menurutmu kenapa aku bersikap seperti orang biasa saja? Itu semua karena pekerjaan kami," kata Anton.


"Dia mafia?!"


"Raja kematian," ungkap Anton.


"Tidak bisa! Aku harus mengatakan kepada Sara tentang latar belakang suaminya. Nyawanya bisa terancam," kata Indra.


"Jangan dulu! Justru Sara sebaiknya kita jadikan umpan. Saka anak tiri dari keluarga Hartawan."


"Hartawan? Kamu yakin? Berarti, Arya adalah saudaranya," ucap Indra.


"Saudara tiri. Tapi yang membuat Saka berkelas adalah nama akhirnya, adalah Bernad. Aku tidak tau masalah keluarganya. Hanya yang kutau, dia tidak diinginkan hingga terjerumus ke dunia bawah."


"Bernad?" tanya Indra.


"Seorang pria yang berasal dari Amerika. Dia pembisnis yang wajahnya wara-wiri di majalah. Tapi nama Bernad ada juga di dunia bawah. Dia pemegang kendali terkuat dalam kelompok teratas. Aku tidak tau apa nama itu ada hubungannya dengan Saka. Mereka sungguh sangat misterius," ungkap Indra.


"Aku ingin Saka dihabisi! Jangan sampai Sara terluka karena latar belakang suaminya."


"Setahuku, Saka memang tengah dalam pengejaran. Dia suka berpindah-pindah. Besok di satu tempat, dan besoknya, kita tidak tau ada di mana. Sekarang dia punya istri dan pasti menetap di suatu tempat."


"Jelas saja dia berdiam di rumah Sara!"


"Kita selidiki dulu masalah ini setelah itu rencanakan untuk menghabisi Saka," ucap Anton.


"Aku akan menunggu instruksimu."


...****************...


"Bayarannya, Bang. Terima kasih," ucap wanita berkerudung.


Saka membalas ucapan terima kasih pelanggannya, lalu segera mematikan akun ojek setelah itu melanjutkan rencana untuk membawa mobil hitam menuju tempat sepi.


Perjalanan cukup jauh hingga Saka sampai di jalan sepi, dan ia berhenti bersamaan dengan kendaraan roda empat di belakangnya.


Saka turun dari motor, membuka helm, dan siap menantang orang yang masih berada di dalam mobil.


"Keluarlah," ucap Saka.


Pintu mobil dibuka, seorang pria keluar dengan senyum menjijikkan memandang Saka. Dia adalah anak kandung dari Hartawan. Arya Hartawan yang usianya beda dua tahun dari Saka.


"Rupanya anak kesayangan tuan Hartawan."


"Sejak kapan kamu kembali? Kukira hidupmu di luar negeri sudah sangat nyaman."


"Dunia begitu sempit hingga bertemu denganmu. Kamu merindukan kakakmu ini? Bagaimanapun kita satu ibu," kata Saka.


Ibu Saka bernama Belinda menikah dengan seorang pria bernama Hartawan. Dari pernikahan itu lahirnya seorang anak laki-laki bernama Arya yang sudah dinobatkan menjadi penerus keluarga Hartawan.


Saka adalah anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan. Sejak kelahirannya memang sudah tidak dianggap oleh keluarga sendiri.


Arya berdecih, "Kamu sudah tidak dianggap oleh keluarga kami. Pria berandalan sepertimu tidak pantas menyandang nama keluarga kami."


Saka tertawa. "Sejak kapan aku memakai nama keluargamu. Aku berterima kasih karena ibumu memberiku nama."


"Ibu dan ayahku kaget saat mendapati videomu bersama seorang model itu. Meski wajahmu terlihat samar, tetapi kami sangat mengenalmu," ucap Arya.


"Aku sudah ketahuan rupanya. Lantas kalian mau apa? Kita tidak punya hubungan apa-apa."


"Aku di sini hanya untuk memperingatkanmu. Kamu mengambil wanita Indra, dia tidak akan memaafkanmu!"


Saka malah tertawa. "Bisa apa dia? Pria yang ingin bunuh diri hanya karena cinta."


"Lihat saja nanti. Kamu akan hancur."


"Aku sangat menantikannya kalau begitu."


Arya kembali masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dari hadapan Saka. Sejak dulu Arya memang tidak suka Saka sebab itu keduanya bermusuhan.


"Arya sudah tau aku berada di sini, dan artinya, orang itu akan menemukanku," gumam Saka. "Indra! Aku harus menyelidiki siapa dia dan latar belakangnya. Arya sangat menghormati pria itu. Apa mereka teman?"


Setelah pertemuan dengan Arya, Saka langsung pulang ke rumah. Hari sudah sore, dan Sara mengatakan akan pulang malam, dan memintanya untuk menjemput kembali di studio yang sama, seperti kemarin malam.


"Masih banyak waktu sebelum menjemput Sara. Aku lihat dulu latar belakang Indra."


Saka mulai mengotak-atik laptopnya untuk mencari tahu latar belakang Indra. Kali ini secara detil termasuk siapa saja teman dari pria itu.


"Dia begitu pintar. Tidak ada hal penting dari keluarganya. Kalau begitu, aku sendiri yang harus turun tangan menyelidikinya," ucap Saka.


Sebuah pesan muncul di layar segi empat yang Saka tatap. Ia membuka, lalu membaca isi teks tersebut. Saka ingin membanting laptop di depannya, tetapi niat itu segera diurungkan. Ia tidak akan bisa membeli barang bagus seperti laptop miliknya.


"Sialan! Orang itu menyapu bersih anak buahku. Dia juga mengambil alih bisnis yang kutinggalkan. Dia kira aku akan mati tanpa uang. Sampai kapan pun, aku tidak akan kembali ke tempat itu!" ucap Saka.


Bersambung