
Sara dibawa ke kediaman lama oleh Arya. Pelayan yang berada di rumah mendiang Ayu Prameswari kaget karena bukan Arya dan Sara saja yang datang, melainkan beberapa orang pria. Mereka juga bingung karena Saka tidak berada di sisi istrinya.
"Kalian bereskan dua pelayan ini," perintah Arya.
Dua orang pria berbadan besar segera membawa dua pelayan wanita. Entah nasib buruk atau baik yang menghampiri mereka, Sara tidak tahu.
Sara didorong ke sofa, tetapi Indra langsung menyambutnya. Ia tidak ingin kekasih hatinya terluka dan diperlakukan buruk oleh Arya.
"Lepaskan aku!" tolak Sara dengan mendorong Indra.
"Sara, maafkan aku," ucap Indra.
"Tutup mulutmu! Kamu sama saja seperti mereka."
"Hei! Apa kalian bisa menutup mulutnya? Telingaku bisa tuli," sela Anton.
"Indra! Bawa kekasihmu itu ke kamar. Kami ingin mengobrol malah terganggu olehnya," ucap Arya.
Indra mengangguk. Ia menarik tangan Sara dan mendapat penolakan. Sara meronta kuat. Indra terus memaksanya untuk pergi bersama ke kamar.
Dery mendecakkan lidah. "Mengurus satu wanita saja dia susah. Apalagi dua."
"Ikut aku, Sara! Meski kamu menolak, aku tetap memaksamu. Ingat, Sayang. Kamu itu sedang hamil," ucap Indra.
Sara tersentak mendengarnya. Ia langsung melindungi buah hatinya bersama Saka. Indra tersenyum karena hal itu berhasil membuat Sara diam.
"Jika kamu tidak ingin dipaksa, maka ikut aku," kata Indra.
Sara menitikkan air mata, lalu mengikuti langkah Indra. Pintu kamar dibuka, dan tepatnya itu adalah kamar tidur Sara bersama Saka yang belum sempat mereka tiduri. Ada beberapa barang yang belum dikemas karena merupakan barang pribadi.
"Sara," tegur Indra.
"Menjauh dariku!"
"Aku tau kamu bersedih. Saka sudah tiada. Mereka membunuhnya. Aku pernah memberitahumu jika Saka adalah pria berandalan. Bukan hanya itu, ia juga seorang pembunuh," ungkap Indra.
Sara menatap tajam mantan kekasihnya. "Lalu, apa bedanya Saka dan kamu? Kalian juga seorang pembunuh! Sahabatku kalian habisi di depan mataku!"
"Bukan aku, Sara. Itu mereka."
Sara melayangkan tangannya. Ia memukul tubuh Indra sekuat yang bisa tenaganya kerahkan. Indra membiarkan Sara meluapkan emosinya. Setidaknya ia bisa mengurangi beban yang ada di hati wanita itu.
"Aku akan membunuh kalian!" teriak Sara.
"Kamu bisa sepuasnya memukulku," ucap Indra.
Sara tertegun, ia tiba-tiba sadar dengan apa yang dilakukan. Ia menatap raut wajah Indra. Tangannya terulur mengusap pipi pria itu dan berhasil membuat sang mantan heran.
"Aku ingin ikut bersamamu. Bawa aku pergi dari sini," ucap Sara dengan lirihnya.
"Kamu ingin bersamaku?" tanya Indra.
Sara mengangguk. "Iya, Indra. Kamu cintaku. Bawa aku pergi dari sini."
Mata Indra memancarkan sinar kebahagian. Senyum manis terbit dari bibirnya. Permintaan inilah yang sudah lama ia nantikan. Sara sendiri yang menginginkannya dirinya.
"Kamu ingin bersamaku?" tanya Indra sekali lagi.
Sara mengangguk. "Iya, Sayang."
Tangan Indra mengusap lembut rambut Sara. Tanpa diduga, Sara menjerit karena Indra menarik rambutnya dengan kuat.
"Ini sakit," teriak Sara.
Indra mendorong Sara hingga wanita hamil itu terlempar di atas tempat tidur. Indra kembali menarik rambut mantan kekasihnya yang membuat kepala Sara menjadi menengadah ke atas.
"Sampai akhir hidupmu akan tetap berada di kamar ini. Tidak ada lagi supermodel bernama Sara. Dia sudah mati sejak hari ini!" ucap Indra.
"Kumohon, Indra. Aku butuh suamiku. Kalian boleh mengambil semua harta kami."
Indra tertawa. "Kamu kira masalahnya hanya karena harta? Biar aku beritahu alasan kami menghabisi Saka."
Indra melepas tangannya dari helaian rambut Sara. Ia mengusap puncak kepala sang mantan kekasih, bahkan mengecupnya. Sara merasa jijik, tetapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
"Arya dan Dery sangat iri pada Saka. Dia punya segalanya, bahkan kakek dan nenek mereka mewariskan harta yang banyak. Lalu, Anton. Dia membenci Saka karena suamimu pernah membuat kakinya patah, dan aku tentu saja karena kamu, Sayang. Saka berani sekali merebutmu dariku. Apalagi ada janin di dalam rahimmu itu yang membuatku semakin membencinya. Dendamku terbalas. Saka tiada dan kamu menderita," tutur Indra dengan tawanya. "Tinggallah di sini, Sayang. Nikmati penjaramu mulai malam ini."
Indra melangkah keluar kamar sembari tertawa. Sara menitikkan air mata. Menangis? Apalagi yang bisa ia perbuat sekarang? Ia tidak tahu di mana Saka. Malaikatnya menghilang, sahabatnya tiada dan Sara hanya sendirian saat ini.
Indra menjatuhkan diri di sofa samping Anton. Ia meraih botol tequila kemudian menuangkannya ke gelas kecil. Dalam sekali teguk minuman itu masuk ke dalam tenggorokkannya.
"Bagaimana Sara?" tanya Arya.
Indra berdecih, "Dia berani untuk menipuku. Dia sempat menggoda ingin kembali bersama."
Arya tertawa. "Bagus kalau kamu sama sekali tidak tergoda dengannya. Selanjutnya bagaimana? Kita apakan dia?"
Indra mengangkat bahu. "Aku tidak peduli. Aku cuma ingin dia menderita saja."
"Cintamu sudah hilang untuknya?" tanya Dery.
"Aku tidak butuh wanita yang tidak berguna untukku," jawab Indra.
"Indra akan mencalonkan diri sebagai anggota parlemen. Dia harus bersih dari segala macam kejahatan," celetuk Anton.
"Sara sangat cantik. Aku menginginkannya. Bagaimana kalau dia kujadikan istriku saja?" tanya Arya.
"Apa?!" bola mata Indra ingin keluar mendengar ucapan Arya.
"Kamu bilang terserah mau diapakan. Aku menginginkan Sara."
"Kurasa ini bukan hanya soal harta," sela Dery. "Ini dendam pada pria yang telah merebut wanitanya."
"Aku akui. Sara memang memikat. Waktu itu dia pacaran dengan Indra. Aku sempat bahagia ketika mereka putus. Tidak kusangka Sara malah menikah bersama Saka," ungkap Arya.
"Aku ingin menembakmu jika berani berkata omong kosong," ucap Indra kesal.
Arya tertawa keras. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Aku bercanda. Jangan anggap serius. Tapi sungguh. Aku sempat suka dengannya."
"Sudahlah, lupakan masalah Sara. Wanita itu akan berdiam di rumah ini sebagai pelayan. Sekarang kita bahas tentang Saka," sela Anton.
"Perintahkan lebih banyak anak buahmu untuk menyusuri sungai. Jasadnya pasti masih di sana," kata Arya.
"Kamu kira aku tidak menyuruh mereka begitu. Ini masih awal. Kita tunggu kabar sampai besok," jawab Anton.
"Apa dia selamat?" tanya Dery.
"Kuharap sama sekali tidak," Indra menimpali.
"Saka sudah tidak ada. Aku ingin kembali ke Hongkong. Aku juga ingin membuat kelompok di sini. Semua kelompok kecil akan aku kuasai," ucap Anton.
"Jangan berangan. Saka belum ditemukan," sergah Arya.
"Aku tidak peduli. Impianku harus tercapai."
Bersambung