
Sara merasakan tubuhnya kurang sehat hari ini, tetapi masih ada jadwal pemotretan yang dibebankan padanya. Belum lagi Dini mengatakan ada tawaran fashion show untuk seorang designer.
Sara memang menjadi langganan dari designer dari pria bernama Ivan Sarmawan. Terlebih Dini menyebutkan jika sudah ada baju khusus yang dibuat untuknya.
"Mau terima tidak?" tanya Dini.
"Aku tidak tau. Tubuhku meriang," jawab Sara.
"Minum obat dulu."
"Aku sudah minum obat tadi pagi, tapi masih belum ada perubahan. Aku hanya mau tidur," kata Sara.
"Kita masih ada satu sesi lagi. Kamu selesaikan sekarang saja. Fokus biar cepat kelar, habis itu kita pulang. Atau kamu mau aku bawa ke dokter?" tawar Dini.
Sara menggeleng. "Aku mau tidur saja. Mungkin istirahat, tubuhku akan merasa lebih baik."
"Aku telepon Saka buat jemput?"
Sara menolak, "Dia lagi kerja. Aku pulang bersamamu saja."
Dini mengangguk. "Sekarang ganti pakaian berikutnya. Jangan biarkan Alvin menunggu."
Dengan langkah gontai, Sara berganti pakaian berikutnya. Ia dapat bernapas lega karena ini foto yang terakhir, dan beberapa hari ke depan bisa beristirahat.
Sara belum memutuskan untuk tawaran job berikutnya. Sekarang ia hanya ingin berdiam di rumah bersama Saka dan menikmati peran barunya.
Dini salut atas sikap profesional rekannya. Ia tahu Sara kurang sehat, tetapi di depan sana, sahabatnya berpose dengan sangat baik. Satu hal yang Dini kagumi adalah Sara tidak mau membuat kecewa orang yang mempercayakan produk padanya.
"Selesai! Bagus sekali, Sara. Kamu sempurna," ucap Alvin.
"Terima kasih," balas Sara.
"Ada apa denganmu? Sakit?"
Sara mengangguk. "Aku kurang sehat. Aku pulang duluan."
"Beristirahatlah. Sampai jumpa di pekerjaan berikutnya," kata Alvin.
"Pasti," sahut Sara.
Setelah berganti pakaian, Sara dan Dini langsung pulang ke rumah. Benar saja, Sara segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Dini menghubungi Saka, memberitahu kondisi istri dari pria itu.
Tiga puluh menit kemudian, Saka sampai di kediamannya. Dini sudah menunggu kedatangan pria itu dan menjelaskan semuanya.
"Aku sudah buat bubur untuknya," kata Dini.
"Terima kasih, Din. Istriku pasti kelelahan. Apa Sara ambil job lagi?" tanya Saka.
"Ada beberapa yang datang, tetapi Sara belum memutuskan. Aku tidak berani ambil karena Sara yang harus bekerja untuk itu."
"Aku salut padamu yang mengerti keadaan Sara."
"Baiknya kita bawa ke rumah sakit," kata Dini.
Saka mengangguk. "Iya, kamu pulanglah dulu. Aku bisa mengurusnya."
"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," kata Dini.
"Pasti."
Dini pulang, giliran Saka yang menjaga. Ia rasa kening Sara yang hangat. "Kamu terlalu bekerja keras, Bee."
Saka segera membersihkan diri setelah itu ikut masuk ke dalam selimut tebal. Ia peluk Sara. Kulit mereka yang bersentuhan, saling memberi kehangatan.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Saka.
"Dingin. Tubuhku seperti tidak bertenaga."
"Biarkan aku memelukmu," kata Saka.
"Aku lapar, Boo."
"Dini sudah buat bubur. Kamu mau?" tanya Saka.
"Mau, tapi pakai cabai sama jeruk juga pakai bulatan baso."
"Bubur ayam enggak mau?"
Sara menggeleng. "Mau itu. Aku lapar, Boo. Aku ingin makan itu."
"Tunggu sebentar, aku akan carikan apa yang kamu mau."
Saka turun dari tempat tidur mengambil kaus serta jaket di dalam lemari. Ia mengecup kening Sara dulu sebelum keluar.
"Pakai sepeda motor saja biar cepat," ucap Saka.
Pintu rumah dikunci dari luar, Saka menaiki kendaraan roda dua miliknya, menghidupkan mesin, lalu melaju menuju penjual baso.
Ketika Saka dalam perjalanan pulang, dua buah mobil sedan membuntutinya dari belakang. Saka terus melaju, tetapi di depannya ada lagi mobil yang menghadang. Terpaksa Saka berhenti terlebih dulu.
Melihat Saka sudah turun dari sepeda motor, penumpang dari empat mobil keluar. Semuanya pria berkebangsaan asing dengan memakai setelan jas warna hitam.
"Untuk apa kalian datang?" tanya Saka.
"Tuan Muda, Anda harus pulang," ucap salah satu dari pria asing tersebut. Pria yang tingginya melebihi Saka itu adalah pemimpin dari ketiganya.
"Aku tidak mau pulang," kata Saka.
"Di sini bahaya, Tuan. Ada banyak musuh. Kita tidak punya anak buah di sini."
"Katakan kepada pria itu. Aku tidak akan pulang sesuai permintaannya. Terserah dia mau menyita seluruh kekayaanku. Aku tidak peduli," ucap Saka.
"Tuan .... "
"Cukup! Aku punya kebahagianku sendiri. Aku tidak akan menjadi dirinya yang meninggalkan seorang wanita seperti sampah," ucap Saka.
Saka kembali menaiki sepeda motornya, lalu meninggalkan pria-pria itu. Keempatnya cuma bisa menatap kepergian tuan muda yang mereka hormati.
"Bagaimana sekarang?"
"Bilang saja apa yang sudah tuan muda katakan. Dia tidak mau pulang, dan kita tidak bisa memaksanya."
"Aku rasa tuan muda mencintai istrinya."
"Pria malang. Tuan muda cuma ingin kasih sayang."
Obrolan dari keempat pria asing bubar. Misi mereka gagal untuk membawa Saka kembali. Yang bisa dilakukan hanya pulang dan melapor pada atasan.
...****************...
Wajah Sara berbinar mendapati bubur yang diberi kuah baso. Ia memberi saos cabai, perasan jeruk nipis kemudian melahapnya dengan nikmat.
"Ini baru enak," ucap Sara.
"Habiskan kalau begitu," kata Saka.
"Aku mau punyamu, Sayang."
Saka menyuapkan bulatan daging baso serta kuahnya ke mulut sang istri. Sara melahapnya seperti ia memang tidak pernah memakan daging giling itu.
"Enak! Aku mau telur puyuh di dalamnya," pinta Sara.
"Semuanya buat kamu."
"Aku mau es teh manis, Boo."
"Tunggu sebentar, aku ambilkan," kata Saka.
Untungnya Saka membeli satu botol teh harum yang langsung jadi. Ia menuangkan minuman itu ke dalam gelas, lalu menambahkan balok es di dalamnya.
"Untukmu," kata Saka seraya meletakkan es teh manis.
Sara meneguknya sampai setengah. Suara pertanda perut kenyang keluar. Saka cuma bisa tersenyum mendengar itu.
"Aku mual," kata Sara.
"Apa?" tanya Saka.
Sara beranjak dari kursi menuju kamar mandi dapur. Apa yang tadi di makan, semua keluar. Sara memuntahkan segalanya.
"Bee, kamu baik-baik saja?"
"Kamu kira apa? Aku masuk angin," kata Sara.
Saka ingin memijat tengkuk istrinya, tetapi Sara menolak. Ia masih ingin mengosongkan isi dalam perutnya. Sementara Saka menyiram cairan menjijikkan dari sang istri karena Sara sudah terlanjur muntah di lantai.
"Kita ke rumah sakit saja," kata Saka.
Sara menggeleng. "Aku merasa lebih baik. Aku haus."
"Ayo, bersihkan dulu kakimu," ucap Saka.
Saka menyiram kaki Sara yang terkena cipratan muntahan. Setelah itu membawa istrinya duduk di meja makan. Saka memberi Sara air mineral yang mendapat penolakan dari wanita itu.
"Aku mau minum teh manis."
"Minum ini dulu, Bee," kata Saka.
"Aku mau air dingin."
Saka bisa apa selain menuruti keinginan Sara? Minuman dingin segera dihidangkan.
Bersambung